Saturday, April 5, 2014

ujungkelingking - Hati-Hati, Membanggakan Anak Bisa Jadi Suatu Bentuk Kesombongan


Pelajaran berharga ini saya dapatkan dari blognya Insinyur Pikun (kerikilberlumut.com). Sebuah peringatan yang keras buat saya -sebagai orangtua- yang (terlalu) membanggakan anak-anaknya.

Anak adalah karunia yang tak ternilai harganya. Ia adalah sebuah pelipur lara dan pereda duka. Bahwa ketika sang ibu harus berjuang di antara hidup dan mati untuk melahirkannya, bahwa sang ibu harus menghadapi penderitaan yang "bertingkat-tingkat", maka ketika sang anak terlahir ke dunia ini dengan selamat, lenyaplah segala kelelahan dan kesakitan itu. Musnah, ditelan tangisannya yang memecah dunia.


Seiring bertambah usianya, semakin tampaklah kepintarannya. Semakin terlihatlah kecerdasannya dalam menangkap hal-hal apa saja yang ada di sekelilingnya. Bahagianya sang orangtua ketika sang bayi mulai bisa mengucapkan "a" dengan lucunya, menjadi lebih bahagia lagi ketika ia sudah sanggup melafalkan "ayah" dan "mama".

Seiring pengajaran dari bundanya, sang anak kemudian mulai dapat membaca. Dari sekedar membedakan huruf a dan e, sampai kemudian membaca satu kata demi satu kata. Kepandaian ini terus meningkat hingga sang anak dapat membaca satu kalimat utuh dan menceritakan satu paragraf cerita dengan indah.


Bangganya kita, orangtua. Sampai-sampai pada setiap orang yang ditemui kita bercerita. Betapa cerdas pikirannya, betapa bagus akhlaknya.

Tapi kita lupa...

Tak semua orangtua seberuntung kita. Bahkan, tidak semua orang berkesempatan menjadi orangtua.

Betapa menggebunya kita menceritakan kelakuan lucu anak kita di hadapan mereka yang masih (dan masih) berharap dikarunia seorang anak...


Anak, "hanyalah" harta titipan


Seorang anak adalah karunia dari Dia Yang Maha Memiliki. Anak, hakikatnya sama halnya seperti rumah, kendaraan, perhiasan, kebun, usaha, dan harta kita yang lainnya. Maka ketika kita dilarang untuk bersikap pamer dan sombong atas harta yang kita miliki, pun begitu terhadap karunia-Nya yang berupa anak-keturunan.

Harus kita pahami bahwa kepandaian yang dimiliki anak bukanlah murni "produk" kita. Kita hanya perantara saja. Ilmu itu diberikan langsung oleh Allah kepada anak kita. Sama seperti harta kita lainnya yang besar bukan melulu karena kerja keras kita. Ada kehendak Dia di sana. Jadi menyombongkan sesuatu yang bukan milik kita adalah sesuatu bodoh sekaligus konyol.

Bahwa bersyukur atas kecerdasan yang dikaruniakan Allah kepada anak kita, itu harus. Namun membangga-banggakannya kepada orang lain, ini yang harus dikoreksi.

Maka saya sependapat dengan apa yang dikatakan mas Insinyur Pikun bahwa kebanggaan terhadap anak bisa jadi adalah bentuk dari sikap jumawa (kesombongan) yang terselubung.

Hati-hati.

Numpang narsis
Ngomongin anak, yang tampil foto'e buapak'e...
(Hasil jepretan Zaki)

Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Saturday, April 05, 2014
Categories:

37 comments:

  1. Wah maspri sudah cukup berpengalaman nih dalah hal mendidik anak..
    Intinya memang tidak boleh memaksakan anak untuk menjadi yang kita harapkan ya mas. Semuanya ada proses dan masanya.

    Wah saya jadi sok tau nih mas hehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. Justru sebaliknya, saya banyak belajar dr org lain. Cara berpikir saya masih banyak yg perlu diubah.

      Delete
  2. betul saya juga setuju, sebaiknya kita mensyukuri tanpa harus membanggakan yang dilebih-lebihkan.

    Karena bisa membentuk pribadi yang buruk terhadap diri sendiri

    ReplyDelete
  3. behubung saya belum punya anak karena masih bujang
    ya nyimak aja ya
    hehe

    ReplyDelete
  4. bener mas setiap orang tua pasti ingin anak-anaknya bisa membanggakannya, tapi rasa ujub bisa menjerumuskan, semoga kita terhindar dari hal yang demikian, aamiin

    ReplyDelete
  5. menyimak saja, karena saya masih seorang anak yang masih menumpang di rumah orang tua :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. tp postingannya mslah rumah gitu loh? ^_^

      Delete
  6. di dalam facebook atau blog juga ramai yang membanggakan anak masing-masing.. segala-galanya mengenai anak itu diceritakan kepada umum sehingga timbulnya riak (ujub).. tentu ada insan lain yang bersedih kerana tidak memiliki anak..

    ReplyDelete
    Replies
    1. itu yg kita khawatir tdk kita sadari... menyakiti org lain.

      Delete
  7. mantap,, lanjutkan sharingnya ya

    ReplyDelete
  8. kyk ada sdkit yg mengganjal tapi apa yah....hehehehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. apa nih? dijelaskan dong, biar gak penasaran....

      Delete
  9. satu pembelajaran sebelum punya anak nih Mas Pri :)

    ReplyDelete
  10. saya jadi teringat sebuah artikel di kompas, "di balik nilai-nilai tinggi yang dicapai anak ada kesombongan dan ketidak mampuan anak dalam menghadapi kesulitan"

    ReplyDelete
  11. Manggut2... disimpen buat nanti kalau udah punya anak :)

    ReplyDelete
  12. sebenarnya tergantung niat juga sich,,,,kalau niatnya mau pamer ya pasti intinya jadi kesombongan,,,namun kalau niatnya nggak ada unsur pamer,,,semata hanya karena mau berbagi kebahagiaan kepada orang lain,,,ya tentunya nggak jadi masalah.....keep happy blogging always...salam dari Makassar :-)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Betul, pak. Krn itulah saya memakai kata "Hati-hati"... jd ini sbg peringatan semata.

      Sm spt kl kita melihat org berjalan di lantai yg licin, kita akan bilang "Hati-hati, bisa jatuh." Bukan brt org tsb pasti jatuh, tp ada harapan kita agar org tsb semakin waspada.

      Trim atas tambahannya.

      Delete
  13. kadang sulit mas, karena kebiasaan sehari-hari jadi tak terasa membanggakan anak, mudah-mudahan tidak niatkan kesombongan, kalau sy mendengar orang tua membanggakan anaknya jadi ini, dpt gelar ini, ambil hikmahnya saja dan ambil tipsnya untuk kita

    ReplyDelete
    Replies
    1. Berpikir possitif dan husnudzan, jika kita dlm posisi yg dikasih cerita.

      Sepakat.

      Delete
  14. cara mendidik anak memang gampang-gampang susah yah mas, makasih artikelnya untuk bekal saat mempunyai anak nanti :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kl saya bilang, malah susahhhh banget. sbb kita tdk tahu cara pengajaran kita yg sekarang akan berhasil atau tidak... hal itu akan kita ketahui nanti ketika ia sdh dewasa.

      Delete
  15. diibookmark dulu lah sampe ntar nikah, kawin trus punya anak :v

    ReplyDelete
    Replies
    1. Nikah, kawin, trus pnya anak.... prosedurnya menarik nih... ^_^

      *remas-remas tangan sendiri

      Delete
  16. betul banget Pak Pri...jangan terlena dengan segala kelebihan anak kita...bisa membuat kita tergelincir ke riya'. bismillah, semoga kita terhindar...

    Zaki Zaki...lain kali kalau mau motret sekalian sama ibu dan adik Daffa dong, jangan cuma ayahe thok...

    ReplyDelete
    Replies
    1. Kn dia nge-fans sama ayah'e...

      #Huahahahaha...

      Delete
  17. mungkin sudah watak dasar manusia suka membangga-banggakan anaknya di depan orang lain. mereka menganggap anaknyalah yang paling sempurna. kalau sudah begini yang berbahaya, selain terkesan sombong, juga bisa menyakiti hati orang lain :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Hati-hati. Membicarakan kepandaian anak, sewajarnya saja.

      Delete
  18. Betul juga ya. Biasanya ibu-ibu tuh yang suka panas, kalau temennya ngomongin anak. Gak bisa diam, langsung aja nyeritain kehebatan anaknya masing-masing. Hi..hi....

    Tapi bisa juga karena mereka begitu sayang dan cinta kepada anak masing-masing.

    ReplyDelete
    Replies
    1. Selagi masih dlm batas wajar, dan (spt yg pak Har bilang di atas) tdk ada unsur sombongnya, its OK lah...

      Delete
  19. Mas mau tanya, bagaimana jika kita tidak suka dengan sikap ibu kita yg membangga-banggakan kita? Bagaimana kita memberi tahu kalo itu tidak boleh, karena setau saya tidak boleh menggurui orang tuašŸ˜”karena jujur mas saya tidak tahan karena saya yg jd imbasnya

    ReplyDelete

Komentar Anda tidak dimoderasi.
Namun, Admin berhak menghapus komentar yang dianggap tidak etis.

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!