Showing posts with label MOTIVASI. Show all posts
Showing posts with label MOTIVASI. Show all posts

Thursday, April 3, 2014

ujungkelingking - Pemilu, Fenomena Golput dan Kriteria Pemimpin


Pemilu sudah di depan mata. Adalah menjadi tugas bagi setiap rakyat Indonesia yang sudah memenuhi syarat untuk memilih calon yang akan mewakili aspirasi mereka.

Namun ibarat sebuah tradisi, dalam pemilu tahun ini pun akan diwarnai dengan sekelompok orang yang memilih untuk tidak memilih alias golput. Ketidak percayaan dan sikap apatis publik terhadap pemerintah, adalah salah satu dari sekian faktor yang menyebabkan seseorang memutuskan untuk golput.

Jika tidak memilih adalah hak, maka begitu pula ikut memilih. Lalu dari kedua hak ini, mana yang seharusnya dipilih?

Artikel ini akan mencoba memberikan beberapa alasan agar kita tidak golput dalam upaya memilih seorang pemimpin.


1. Memilih pemimpin adalah sebuah perintah


Dari shahabat Abi Said, Rasulullah bersabda, "Apabila kamu bepergian bertiga maka angkatlah salah seorang sebagai pemimpin."
[Riwayat Muslim, Ahmad dan Nasa’i]

Hadits di atas berbicara atas sebuah kelompok kecil (3 orang). Bahkan tidak pula dijelaskan apakah "bepergian" yang dimaksud di sana adalah bepergian dengan tujuan yang penting, atau sekedar jalan-jalan biasa. Bahkan dalam lingkup rumah tangga -yang cuma 2 orang- ada satu orang yang difungsikan sebagai pemimpin di sana. Lalu bagaimana dengan skup makro bernama ne-ga-ra, yang jelas tujuannya adalah untuk menentukan nasib seluruh rakyat?

2. Golput juga memiliki konsekuensi


Jika kita memutuskan untuk golput, apakah pemilihan kemudian tidak jadi dilakukan?

Tentu tidak. Pemilihan akan tetap dilakukan, meski kita golput. Dan akan ada satu orang yang nanti terpilih untuk memimpin negeri ini. Dengan kata lain, kita golput atau tidak, pemimpin terpilih akan tetap muncul. Malahan, jika kita tidak memilih, maka kartu suara yang sejatinya untuk kita akan digunakan oleh orang lain. Jadi dengan golput, berarti kita mempersilahkan orang lain untuk memakai jatah suara kita. Sungguh dermawan sekali...

Golput, pada dasarnya adalah sebuah bentuk ketidakpedulian. Tidak peduli pada siapapun yang nanti bakal memimpin. Tidak peduli pada apapun kebijakan yang akan lahir dari pemimpin yang terpilih.

Maka "pilihan" ini kemudian memiliki konsekuensi. Pada apapun yang kemudian terjadi -entah menguntungkan atau merugikan kita sebagai rakyat- kita tidak boleh peduli. Makanya ketika ada poster bertuliskan,

Golput


Jelas tak ada masalah buat saya. Akan tetapi kalau nanti ada kebijakan yang tidak sesuai dengan keinginan Anda, lalu Anda berunjuk rasa sampai bikin jalanan macet, itu baru masalah buat saya. ^_^

Sederhananya begini. Kalau kita tidak memilih si A, lalu kemudian si A gagal dalam kepemimpinannya, maka harusnya kita tidak perlu protes kepada si A. Kan kita tidak milih dia? Berbeda jika kita memilih si A, dan si A kemudian lalai, maka kita berhak untuk "menagih janji". Jadi jika kita memutuskan untuk golput, maka nanti kita tidak boleh protes, apapun yang terjadi. Begitu.

3. Memilih, dengan "asal pilih" tetap salah


Meski kemudian kita perlu untuk memilih pemimpin, namun bukan berarti kita boleh memilih dengan serampangan. Kita tetap harus memilih dengan hati-hati.

"Barangsiapa yang memilih seseorang sebagai pemimpin atas dasar fanatisme, mengandalkan pada pertimbangan emosional, bukan rasionalitas dan penilaian yang jernih, padahal di tengah mereka ada orang yang lebih layak dan pantas dipilih dan diridhai Allah, maka orang itu telah berkhianat kepada Allah dan Rasul-Nya dan kaum muslimin."
[Hakim]

Logikanya, jika 'memilih tapi asal pilih' saja sudah salah, apalagi jika sama sekali tidak memilih?

4. Hanya pemimpin yang bisa mempersatukan


Masih sadar dengan "perdebatan" kita tiap tahun?

Setiap menjelang Ramadhan dan menjelang Hari Raya, kita selalu memperdebatkan perhitungan mana yang paling benar. Rukyah dan hisab selalu dibenturkan. Imbasnya, kaum muslimin terpecah. Padahal ada pemimpin di tengah-tengah kita.

Maka bayangkan bagaimana jika kita tanpa pemimpin?

5. Pemilu, haram?


Beberapa orang mengatakan mengikuti pemilu hukumnya haram. Kelompok ini -biasanya- beralasan bahwa negara ini bukan negara Islam. Pemimpin kita memimpin bukan berdasarkan hukum-hukum Islam. Sistem yang kita anut adalah demokrasi, yang itu tidak ada di dalam Islam. Maka mengikuti atau mendukung kepemimpinan seperti ini berarti juga haram.

Secara sederhananya, pemilu memiliki dua komposisi. Yaitu [a] Pencalonan diri oleh seseorang untuk diangkat menjadi pemimpin, dan [b] Pemberian suara oleh masyarakat untuk memilih pemimpin.

Bagi saya, jika pemilu disebut haram, maka barangkali pada poin [a]-lah keharaman itu terjadi. Karena ada hadits yang menyebut tentang orang-orang yang suka menjadi pemimpin padahal hal itu akan menjerumuskan mereka.

Jelasnya, urusan pemilu ini tidak bisa dipukul rata pada setiap keadaan dan setiap negara. Hukumnya bisa berbeda-beda tergantung situasi di mana pemilu itu diadakan. Akan tetapi sebagian ulama besar dalam fatwanya tidak (pernah) menyarankan seseorang untuk mencalonkan diri, namun memperbolehkan untuk memberikan suara dalam pemilu. Semua ini dengan mempertimbangkan mashlahat dan mudharatnya.
*Link-nya bisa dilihat di akhir postingan.

Namun jika memberikan suara dianggap mendukung sistem yang haram, maka setiap apa yang kita lakukan di Indonesia ini hukumnya akan menjadi haram. Kita membayar pajak, itu juga haram. Karena tujuan pajak adalah untuk mendukung keberlangsungan negara ini. Kita bekerja juga haram. Karena keuntungan perusahaan juga sebagian larinya ke pajak negara. Kita berada di bawah instansi pemerintah, bekerja sebagai aparatur negara juga haram. Dan bahkan mungkin kalau kita shalat di masjid yang dibangun pemerintah juga haram.

Jadi, lahir di negara yang bukan negara Islam, itu bukan salah kita. Namun jika kita tidak mau ikut serta dalam perbaikan hajat hidup kaum muslimin lainnya, baru itu yang salah.

Maka seperti yang saya tangkap dari beberapa narasumber (termasuk blognya mas Muroi dan Kang Djangkies) bahwa golput memang bukan sebuah pilihan. Memilih pemimpin yang bermanfaat dan yang dapat mempersatukan umat harus diprioritaskan.

***

Memilih pemimpin, bagaimana panduannya?


Islam, melalui Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya sudah banyak memberikan gambaran tentang hal ini.

Menurut Al-Qur'an, seorang pemimpin itu haruslah seorang mu'min, laki-laki, yang mampu menerapkan prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan pribadinya dan kehidupan bernegaranya. Ia harus seorang yang adil, amanah, dan profesional. Seorang pemimpin juga seorang yang memiliki ilmu, baik ilmu agama atau pun ilmu pemerintahan. Dan yang jelas, dia harus memiliki ketegasan dalam beramar ma'ruf dan bernahi munkar sekaligus bersikap rendah hati terhadap rakyatnya.

Sementara jika meniru pribadi Nabi, kriteria seorang pemimpin itu ada empat: [1] Jujur (shiddiq), [2] Komunikatif (tabligh), [3] Profesional dan kredibel (amanah), dan [4] Cerdas dan visioner (fatonah)

Namun... bukan bermaksud pesimistis, kriteria ideal ini mungkin tidak akan kita temukan pada mereka-mereka yang mencalonkan diri. Lalu jika ini yang terjadi apa yang harus dilakukan?

  • Jika tidak ada calon yang ideal, maka carilah di antara mereka yang paling banyak memiliki kriteria di atas.

Bagaimana jika semua calon sama-sama memiliki kriteria yang "standar"?

  • Jika begitu maka cari saja calon yang jika terpilih, dia dapat memberikan lebih banyak dampak positif bagi umat muslim.

Bagaimana jika semua calon tampaknya tidak berdampak positif bagi umat?

  • Maka, carilah yang dampak negatifnya paling kecil. Mudah-mudahan dengan itu kita sudah dianggap "gugur kewajiban" di dalam memilih seorang pemimpin.

***

Sebagai tulisan penutup, jika kemudian Al-Qur'an meng-klaim bahwa laki-laki yang baik untuk perempuan yang baik dan begitu sebaliknya, maka hal yang sama juga berlaku dalam konteks kepemimpinan ini. Bahwa pemimpin yang baik untuk rakyat yang baik, dan begitu juga sebaliknya.

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Dan demikianlah Kami jadikan sebagian orang-orang yang dhalim itu menjadi wali (wakil/pemimpin) bagi sebagian yang lain disebabkan apa yang mereka usahakan."
[Al-An'am: 129]

Jelasnya, pemimpin yang dhalim itu diberikan Allah untuk rakyat yang suka berbuat dhalim.

Maka solusinya, seperti yang dikatakan oleh Imam ar-Razi dalam kitabnya, "Jika rakyat ingin terbebas dari penguasa yang dhalim maka hendaklah mereka semua meninggalkan kedhaliman yang mereka lakukan."
(Kitab Tafsir at-Tahrir wa 't-Tanwir 8: 74)

Wallahu a'laam.

____________________
*http://muslim.or.id/manhaj/fatwa-ulama-memberikan-suara-dalam-pemilu.html
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Thursday, April 03, 2014

Tuesday, April 1, 2014

ujungkelingking - Saya (Ternyata) Ikut Lomba


Sebulan yang lalu saya mencoba mengikuti sebuah lomba yang diadakan oleh Bisnis Indonesia (writing-contest.bisnis.com).

Banyak beragam tema yang diperlombakan di sana. Saya mengambil salah satunya yaitu tentang transportasi publik.

Teknis penilaiannya pun ada 2 tahap. Namun yang cukup bikin pesimis, untuk tahap pertama penjuriannya adalah dengan menghitung jumlah vote terbanyak. Ini yang sedikit-banyak merugikan saya. Lah teman yang saya punya cuman sak ndulit. H-hee...

Belum lagi rawan "kecurangan" di sini. Sebab bisa saja satu orang nge-vote berkali-kali???
Atau meminta kakaknya, adiknya, emaknya, eyangnya, pak RT-nya, teman-teman arisannya untuk ikutan nge-vote. Saya tentu tidak bisa melakukan itu. Pamali...

Intinya, agar bisa lolos dalam tahap awal ini saja saya harus memiliki keajaiban yang amat-sangat banyak.

Tapi, saya teringat ucapan seorang sutradara film ketika ia akan merilis film-nya yang dianggap oleh banyak pengamat film akan gagal di pasaran. Katanya bahwa setelah kita berkarya, biarkan ia (film tersebut) menentukan jalannya sendiri. 

Jadi, jika teman-teman menganggap artikel saya di bawah ini bermanfaat dan menginspirasi, atau masuk akal untuk dilaksanakan, silahkan meletakkan jempolnya di link yang ada. ^_^

(Klik pada gambar untuk membaca artikel)

Terima kasih.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Tuesday, April 01, 2014

Monday, March 24, 2014

ujungkelingking - Manusia, dan Potensinya Sebagai Khalifah


Kajian ini adalah materi khutbah pada Jum'at kemarin (14/03/14) yang belum sempat saya tulis ulang.

Sang Khatib membuka khutbah dengan sebuah ayat dari surah Al-Baqarah ayat 30. Ayat ini berbicara tentang rencana Allah subhanahu wa ta'ala yang akan menciptakan manusia.

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang 'khalifah' di muka bumi." 

Biasanya, kata "khalifah" dalam ayat di atas diterjemahkan sebagai pemimpin atau penguasa. Yaitu orang yang berwenang atau memiliki kekuasaan untuk melakukan sesuatu. Akan tetapi oleh sang Khatib, kata "khalifah" di sini lebih dimaknai sebagai mandataris. Yaitu orang yang diberi mandat, diberi wewenang atau diberi amanah untuk melakukan sesuatu. Istilah lainnya adalah sebagai pelaksana tugas.

Pendefinisian yang terakhir ini menurut saya jauh lebih tepat. Karena manusia sebenarnya tidak punya kuasa apa-apa terhadap apapun. Manusia pada hakikatnya hanyalah mandataris, maka dia seharusnya melaksanakan apa yang telah di-embankan kepadanya. Karena itu manusia tidak berhak membuat konsep. Sebaik-baik pembuat konsep hanyalah Allah subhanahu wa ta'ala. Pelaksana tugas hanya menerapkannya saja.


Penciptaan Adam, bukti kepercayaan Allah terhadap manusia


Penciptaan manusia sebagai pelaksana konsep yang diberikan Allah rupanya adalah sebuah "profesi" yang amat penting. Profesi ini merupakan bukti bahwa Allah memberi kepercayaan kepada manusia. Saking pentingnya profesi ini sampai-sampai para malaikatpun "iri", dan mencoba bernegosiasi dengan maksud untuk mengambil alih profesi ini.

Mereka (para malaikat) berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?"

Secara kasarnya, malaikat ingin bilang kenapa tugas (sebagai mandataris) ini tidak diserahkan kepada dirinya (para malaikat) saja, yang secara kasat mata pasti lebih nurut kepada Allah? Secara ibadah, jelas malaikat lebih banyak taatnya daripada manusia. Dan jelas malaikat tidak pernah berbuat dosa.

Tanpa mendebat Allah hanya menjawab,

Tuhan berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".

Allah adalah Allah. Cara-Nya seringkali misterius. Ia hendak mengajarkan kepada manusia -melalui malaikat- agar manusia berpikir kenapa kepercayaan ini justru diberikan kepada manusia yang seringkali lalai?

Allah Maha Tahu tentang seberapa tinggi potensi kita. Maka Dia tidak mungkin salah pilih. Dia juga tidak mungkin membebankan sesuatu kepada makhluk-Nya jika makhluk tersebut tidak bakal mampu menanggungnya. Maka menjadi jelas bahwa manusia-lah satu-satunya makhluk yang mampu mengemban tugas penting ini.


Kita sudah diciptakan. Maka secara otomatis, tugas itu sudah berada di pundak kita. Apa yang sudah dikonsepkan-Nya, lakukan!

Dengan mengembangkan semua potensi yang ada, kita akan bisa menunaikan amanah ini. Masih terlalu pagi untuk menyerah. Jika kita berhasil, maka derajat kita bisa jauh lebih tinggi daripada malaikat. Namun jika menolak, itu berarti kita telah ingkar. Ingkar terhadap fitrah diri kita, juga ingkar terhadap Dzat yang telah menghidupkan kita.

Laa haula wa laa quwwata illa billah.

***

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الأرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لا تَعْلَمُونَ

Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, "Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang 'khalifah' di muka bumi."
Mereka (para malaikat) berkata, "Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan menyucikan Engkau?"
Tuhan berfirman, "Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui".
[Al-Baqarah: 30]
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Monday, March 24, 2014

Friday, March 21, 2014

ujungkelingking - Ibnu Abbas dan 3 Tamunya


Abdullah bin Abbas bin Abdul Muththalib -atau yang dikenal dengan Ibnu Abbas- yang masih sepupu Rasulullah adalah salah satu dari shahabat yang berpengetahuan luas. Banyak hadits yang diriwayatkan darinya.

Suatu ketika seorang laki-laki bertamu ke rumah Ibnu Abbas. Laki-laki ini kemudian menceritakan keluh kesahnya.

"Wahai Ibnu Abbas, saya ini punya kebun yang cukup luas. Kebun tersebut sangat subur sebelumnya. Namun belakangan ini hujan tidak pernah turun sehingga tanamanku kering dan gersang. Maka, beritahukanlah kepadaku amalan apa yang harus aku lakukan agar tanamanku kembali subur?"

Ibnu Abbas lalu menjawab, "Perbanyaklah istighfar."

Tak lama berselang, datang lagi seseorang menemui Ibnu Abbas. Orang ini pun menceritakan masalah yang tengah dihadapinya.

"Wahai Ibnu Abbas, saya ini adalah seorang pekerja. Setiap hari saya harus bekerja keras memeras keringat dan membanting tulang. Namun perekonomian kami tak juga membaik. Maka tunjukkanlah kepadaku amalan apa yang dapat memperbaiki kehidupan kami?"

Ibnu Abbas menjawab, "Perbanyaklah istighfar."

Tak berapa lama kemudian datanglah tamu ketiga. Orang inipun juga menceritakan persoalan yang ada pada dirinya.

"Wahai Ibnu Abbas, saya dan istri saya menikah sudah cukup lama. Namun sampai saat ini Allah belum mengaruniai kami keturunan. Maka beritahu saya suatu amalan yang membuat Allah berkenan mengaruniakan putra kepada kami?"

Ibnu Abbas menjawab, "Perbanyaklah istighfar."

***

Beberapa waktu kemudian, ketiga orang ini bertemu di suatu tempat. Mereka pun saling bercerita tentang keadaan masing-masing, termasuk pertanyaan mereka kepada Ibnu Abbas.

Dan keherananpun muncul ketika mereka mendapati jawaban yang sama untuk permasalahan yang berbeda. Akhirnya mereka sepakat untuk kembali menemui Ibnu Abbas dan mempertanyakan tentang hal ini.

"Wahai Ibnu Abbas, beberapa waktu yang lalu kami pernah datang kepada engkau dan bertanya tentang persoalan kami masing-masing. Namun jawaban yang engkau berikan sama, yaitu untuk memperbanyak istighfar. Apa hubungannya persoalan kami bertiga dengan istighfar?"

Ibnu Abbas dengan kebijaksanaannya tersenyum, kemudian membacakan tiga potong ayat dari surah Nuh. Tepatnya pada ayat 10, 11 dan 12.

فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا
يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُمْ مِدْرَارًا
وَيُمْدِدْكُمْ بِأَمْوَالٍ وَبَنِينَ وَيَجْعَلْ لَكُمْ جَنَّاتٍ وَيَجْعَلْ لَكُمْ أَنْهَارًا

(10) Maka aku katakan kepada mereka, "Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun,

(11) Niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat,

(12) dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.


Mudah-mudahan kita semua bisa mengambil manfaat dari postingan kali ini. Aamiin.

*Disarikan dari khutbah Jum'at, barusan.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Friday, March 21, 2014

Monday, March 10, 2014

ujungkelingking - Bekerja Untuk Tuhan


Setiap kita adalah karyawan-karyawan kehidupan dari sebuah perusahaan besar bernama Dunia.

Kita, tidak pernah minta untuk dilahirkan ke dunia ini. Namun pada perjalanannya kita diharuskan untuk beribadah kepada Dia yang menciptakan kita. Kenapa?

Seringkali pertanyaan di atas terpikirkan oleh saya. Bahkan sebagian dari kita mungkin masih mencari-cari jawabannya. Padahal, jawabannya sudah terbentang sejauh mata memandang di hadapan kita.


Bekerjalah kepada saya, dan saya akan menggaji Anda dengan baik


Ketika ada seorang pemilik sebuah perusahaan besar dan dia ingin sekali menolong kehidupan kita agar menjadi lebih baik, apa kira-kira yang akan dilakukannya?

Memberikan uang secara langsung jelas bukan pemikiran seorang pengusaha. Maka kejadian yang paling mungkin adalah, kita akan dipanggil ke kantornya dan kita akan diminta bekerja di sana dengan gaji yang telah ditetapkan. Jika kerja kita terbukti bagus, kita mungkin akan diangkat ke jabatan yang lebih tinggi, atau akan mendapatkan bonus selain gaji, atau tunjangan ketika pensiun nanti. Akan tetapi jika ternyata kinerja kita buruk, maka jelas sanksi telah menanti. Dari sekedar pemotongan gaji sampai pada pemecatan dengan tidak hormat.

Begitu pula ketika Allah ingin menolong kita. Diciptakanlah kita ke dunia ini. Diberikanlah kita arahan-arahan untuk membimbing kita. Tugas kita kemudian adalah bersungguh-sungguh untuk mengerjakan jobdesc yang telah diberikan tersebut dengan sebaik-baiknya.

Namun Allah bukan seperti si pengusaha tersebut yang baru akan menggaji kita ketika kita telah menyelesaikan pekerjaan kita. Kita telah digaji Allah -bahkan- sebelum kita bisa berbuat apa-apa.

Dan jika kita tercatat sebagai karyawan yang disiplin dan berdedikasi tinggi, maka ketika kita resign dari dunia ini nanti, kita masih akan mendapatkan "tunjangan pensiun" bernama amal jaariyah yang tak pernah putus.

Maka setiap kita adalah karyawan-karyawan kehidupan dari sebuah perusahaan besar bernama Dunia.

Atasan kita adalah Allah, pemilik segala apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi.

Jobdesc kita adalah Kitabullah dan Sunnah RasulNya.

Gaji kita adalah segala macam bentuk rejeki, penghormatan dari makhluk lain, ketentraman hidup, kebahagiaan dan kemudahan dalam setiap urusan.

Sanki bagi kita adalah segala kesulitan dan kesempitan hidup.


*Ditulis sebagai hadiah untuk putra kami Dhiya'ul Haq Zaki Ilyas yang hari ini tepat berusia 4 tahun.

***

Dhiya'ul Haq Zaki Ilyas 

(Cahaya kebenaran hamba Allah yang suci)


Ya Allah karuniakan kepada kami anak keturunan yang shalih. Yang ilmu, harta dan umurnya bermanfaat bagi kebaikan.

Ya Allah, anugerahkan kepada kami sebanyak-banyaknya kesabaran dan sebesar-besarnya kemampuan agar kami dapat mendidik dan mengajarkan kepada anak keturunan kami ilmu-ilmuMu.

Ya Allah, kami mohon kepada Engkau untuk anak keturunan kami;
Selamatkan agamanya,
Sehatkan jasmaninya,
Tambahkan ilmunya,
dan berkahilah rejekinya,

Ya Allah,
Lapangkanlah dadanya,
Mudahkanlah urusannya,
Luruskanlah lisannya,
dan jagalah kehormatannya.

Ya Allah berikanlah keberkahan hidup kepada setiap muslimin di seluruh dunia. Berikanlah setiap dari mereka kesempatan untuk bertamu ke Baitmu, Ya Allah.


Rabbii hablii minas Shalihiin...
Rabbi hablii minas Shalihiin...
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Monday, March 10, 2014

Wednesday, February 12, 2014

ujungkelingking - Motivasi Pagi Ini


Karena saya-nya lagi males nulis yang muluk-muluk, so download sendiri aja yay! (Dijinin, kok...)


File ini berisi slide yang berisi ungkapan-ungkapan inspiratif dan motivatif. Tentang Tuhan, tentang kehidupan, tentang manusia.

Inspiratif, nih!

download[5]

Title : Personality Development
Type : Ms. Power Point (slide show)
Size : 1,5 MB

Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Wednesday, February 12, 2014

Saturday, February 1, 2014

ujungkelingking - Sekilas Tentang Self Publishing


Kecintaan terhadap menulis adalah hal yang wajib dimiliki oleh seorang blogger. Namun bagaimana bila kecintaan atau hobi menulis kita bisa mendatangkan penghasilan? Maksud saya, bagaimana jika dari hobi menulis tersebut kita bisa menerbitkan sebuah buku dan lalu menjualnya? Tentu suatu hal yang menggembirakan sekaligus membanggakan.

Timbul sebuah pertanyaan, bila Anda diberi kesempatan menerbitkan sebuah buku, manakah yang Anda pilih menerbitkannya melalui penerbit umum/mayor (Gramedia, misalnya) atau via online?

Jangan buru-buru menjawabnya, karena nanti bisa jadi pembahasan yang lebih panjang. Namun intinya, keduanya memiliki kelebihan dan kelemahan.

***

Self Publishing, adalah istilah yang semakin marak akhir-akhir ini. Sebuah layanan penerbitan buku secara indie (pribadi). Teknis sederhananya, Anda mengirimkan naskah, mereka akan mencetaknya, dan Anda mempromosikannya via online. Hal-hal lainnya (seperti pembagian royalti, biaya cetak/pra cetak, dsb.) tentunya berbeda-beda pada setiap pemilik layanan.

Ada banyak layanan Self Publishing ini (Anda bisa mencarinya di mesin pencari). Anda bisa mengunjungi dan mempelajari aturan dan ketentuannya pada beberapa alamat di bawah ini:

Nulis Buku


nulisbuku.com

Dapur Buku


dapurbuku.com

Leutika Prio


leutikaprio.com

Mizan


mizan.com

Red Carpet Studio

 
redcarpetstudio.net

Namun seperti yang telah saya singgung di atas -bahwa semuanya punya kelebihan dan kelemahan- menggunakan layanan seperti ini meski terlihat "lebih nyantai", sebenarnya lebih menguras segalanya. Jangan lupa, dalam self publishing tugas kita adalah merangkap semuanya. Kita adalah penulis naskahnya, kita juga editornya. Kita adalah penyandang dananya, sekaligus juga tenaga marketingnya. Jadi jangan pernah berpikir bahwa setelah memakai layanan ini terus kemudian kita bisa duduk-duduk manis.

Lain dari itu, alamat yang saya cantumkan di atas adalah yang saya temukan melalui google search. Jadi bila ditanya mana yang paling bagus, saya belum bisa menjawabnya. Sebab saya sendiri belum pernah menjajal layanan ini, hiks hiks. Namun bagi seorang blogger, menerbitkan buku adalah sebuah rencana yang harus terwujud entah kapan.

Hm, Anda berminat untuk mendahului saya?
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Saturday, February 01, 2014

Friday, January 24, 2014

ujungkelingking - One Minute Awareness, Sebuah Titik Balik Kehidupan


Saya mendengar istilah One Minute Awareness (OMA) ini dari sebuah acara di TVRI yang dipandu oleh Ust. Felix dan Oki Setiana. Adalah Ust. Nanang Qosim Yusuf -atau yang lebih dikenal dengan Ust. Naqoy- bintang tamu dalam acara tersebut yang memperkenalkan istilah ini.

One minute awareness adalah sebuah saat (atau sebuah kejadian) yang menggugah kesadaran kita, yang pada akhirnya menjadi titik balik dari perjalanan kehidupan kita.

OMA pada setiap orang tentu berbeda-beda kejadiannya. Ada yang karena -misalnya- sering dihina oleh atasannya sehingga memunculkan kesadaran dari dirinya untuk berwirausaha. Maka dia keluar dari pekerjaannya dan akhirnya menjadi seorang entrepreneur sukses. Ada pula yang karena bertemu dengan seseorang dalam sebuah kejadian yang kemudian menginspirasinya untuk melakukan sesuatu. Dan ada banyak lagi peristiwa-peristiwa yang mampu mengubah perjalanan hidup seseorang.

Namun, tidak semua peristiwa-peristiwa tersebut mampu menggugah kesadaran seseorang. Seperti kita tahu bahwa HATI itu terbagi menjadi 4 macam: Shadr (kita biasa mengartikannya dada); Qalb (hati, yang mudah berbolak-balik); Fu'ad (hati yang memiliki kecenderungan yang kuat), dan; Lub (nurani, atau lubuk hati).

Nah, pada OMA yang disentil adalah Lub-nya. Lubuk hati terdalamnya. Jadi wajar jika kemudian ini mampu mengubah pola berpikir seseorang. Pada orang yang tidak mudah tergugah, ada kemungkinan Lub ini tertutup dari cahaya. Istilah agama menyebutnya dhulmani (lawan dari nurani).

Lalu bagaimana agar One Minute Awareness ini bisa mengubah perjalanan hidup kita?

Sebagaimana kita tahu bahwa secara kualitas, HATI itu ada 3:
  • Qalbun mayyit (hati yang mati), kalau sudah begini ada kejadian menggugah model apapun, hatinya sudah tidak mungkin tergetar.
  • Qalbun mariid (hati yang sakit), mungkin pada suatu waktu ia tergugah, namun di lain waktu kumat lagi.
  • Qalbun saliim (hati yang selamat/damai), jenis inilah yang mudah mendapatkan one minute awareness.
Dan untuk bisa mendapatkan qalbun saliim ini, Ust. Naqoy merumuskan caranya dalam 3S:

S yang pertama: Sikap tubuh yang baik


Kita sadari atau tidak, bila ada masalah yang menimpa kita maka sikap tubuh kita akan berubah. Kita menjadi murung, tidak mau bergaul dengan orang lain, menjauh dari masyarakat, dsb. Sikap tubuh seperti inilah yang harus kita ubah.

Coba rasakan, seandainya kita punya masalah dan sikap kita seperti apa yang saya sebut di atas, apa komentar orang lain? Mereka akan mengatakan, "Si anu kok wajahnya sumpek banget ya? Kayaknya lagi banyak masalah deh!"

Mereka menyebut kita "lagi banyak masalah", padahal mungkin saja masalah kita cuma satu itu tok. Dan jangan lupa, ucapan orang lain itu merupakan doa bagi kita. 

Berbeda jika kita menerapkan sikap tubuh yang baik dalam setiap keadaan. Jika kita selalu menampilkan wajah ceria, sumringah, suka menebar sapa maka orang lain akan berpendapat lain. "Wah, kamu hidupnya enak ya, gak pernah punya masalah."

Jika ucapan mereka bisa menjadi doa bagi kita, bayangkan kedahsyatan dampaknya jika setiap orang yang kita temui mengucapkan hal yang sama.

S yang kedua: Sedekah


Saya sudah pernah menulis tentang sedekah ini. Anda bisa membacanya di blog ini -jika berkenan- dengan mengetikkan keyword "sedekah".

S yang ketiga: Selalu syukur


Yang terakhir ini barangkali yang belum pernah saya lakukan, bersyukur dalam setiap doa kita. Jadi ketika kita berdoa jangan melulu meminta sesuatu. Meski kita diharuskan hanya meminta kepada-Nya, tapi jangan lupa janji-Nya bahwa Dia akan menambah nikmatnya jika kita bersyukur atas apa yang sudah kita peroleh.

Sebelum meminta sesuatu ucapkanlah, misalnya, terima kasih atas anugerah kesehatan yang telah kita terima. Atas anugerah berupa anak dan istri yang shalih-shalihah. Terima kasih atas rejeki yang sudah kita terima, atas keselamatan, dsb. Istilah yang lebih populer adalah afirmasi.

Dan jika ketiganya sudah menjadi kebiasaan dalam hidup kita, maka hati kita akan menjadi qalbun saliim. Sehingga kita diharapkan mendapat berkah berupa sentilan nurani, One Minute Awareness. Dan tinggal menunggu waktu saja titik balik ini mengubah hidup Anda secara drastis!

***

Ya Allah, terima kasih atas rejeki yang Engkau berikan hari ini.
Terima kasih atas rejeki yang akan kami terima hari ini.
Terima kasih atas nikmat berupa sehat yang Engkau anugerahkan kepada keluarga kami.
Terima kasih atas nikmat berupa nyenyaknya tidur kami semalam, sehingga pagi ini kami bisa beraktifitas dengan baik.
Ya Allah, terima kasih atas penjagaan-Mu sehingga saya selalu selamat ketika berangkat dan pulang dari bekerja, dan ketika kami bepergian.

Ya Allah, terima kasih atas anugerah-Mu berupa kehidupan yang mudah, istri yang pengertian, anak-anak yang penurut, lingkungan yang aman dan tetangga yang baik.

Ya Allah terima kasih atas semua nikmat yang tak mungkin saya sebutkan satu-persatu di sini.
Alhamdulillah, segala puji hanya milik Engkau.

***
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Friday, January 24, 2014

Saturday, January 4, 2014

ujungkelingking - Masih Terlalu Pagi Untuk Menyerah


Menarik membaca postingan mbak Ila Rizky (ilarizky.blogspot.com) yang tertanggal 2 Januari kemarin. Artikel ini-pun adalah hasil pengembangan dari apa yang tertulis di blog tersebut.

Ada satu poin yang luput dari pemikiran saya. Tentang sebuah kisah lama, yang sudah sering kita dengar. Namun -selalu saja- pelajarannya terlewatkan begitu saja. Sebuah kisah tentang perjuangan dan usaha keras.

Tentu masih jelas dalam ingatan kita semua kisah tentang Hajar dan putranya, Ismail. Ketika -khalilullah- Ibrahim alaihissalam harus meninggalkan keduanya di sebuah gurun pasir yang tandus dan gersang. Ismail yang masih balita itu kemudian merengek-rengek karena kehausan.

Hajar yang sudah kehabisan air minum kebingungan mencari sumber air. Maka berlarilah ia ke arah bukit Shafa. Namun yang dicari tidak ditemukannya.

Saat itu Hajar melihat ke arah bukit Marwah. Di atas bukit itu terlihat ada bayangan air. Mungkin di sana ada, pikirnya. Maka berlarilah ia ke atas bukit Marwah. Namun yang dicari tidak juga ditemukannya.

Shafa (kotasejarah.blogspot.com)

Dari atas Marwah, terlihat kalau di atas bukit Shafa seperti terlihat ada bayangan air juga, maka berlarilah Hajar ke atas bukit Shafa kembali. Dan masih tidak ditemukannya sumber air itu. Kejadian ini berlangsung sampai 7 kali. Dari literatur yang saya temui, jarak Shafa dan Marwah sekitar 400-an meter. Jadi bila ditarik garis lurus, Hajar sudah berlari sejauh 2,8 Km! Jarak yang cukup jauh bagi seorang perempuan seperti Hajar, di padang gersang pula. Lelah dan putus asa mulai menghinggapi Hajar.

Akan tetapi Allah berkehendak lain. Di suatu tempat, tiba-tiba Hajar mendengar suara yang menyuruhnya berhenti. Rupanya itu adalah suara malaikat yang kemudian menghentakkan kakinya ke tanah (riwayat lain, mengais dengan kepakan sayapnya). Dari situlah kemudian memancar sumber mata air, yang kemudian dinamakan dengan mata air Zamzam.

*Saya sendiri belum pernah tahu bagaimana rasanya air Zamzam ini, tapi kalau boleh berharap, saya berdoa agar saya dan keluarga diberi kesempatan untuk meminum air Zamzam ini... tapi di tempat asalnya sana.

Lalu apa yang terlewatkan oleh kita?


Selama ini kita sering mendengar slogan siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil. Slogan ini tentu tidak salah, namun keberhasilan di sini jangan langsung diterjemahkan "karena usaha kita".

Kisah di atas menunjukkan bahwa usaha yang dilakukan Hajar tidak menghasilkan apa-apa. Upayanya tidak ada artinya. Namun itu bukan berarti membolehkan kita berputus asa.

Karena itu pesan moralnya yang bisa diambil adalah,

Bisa jadi usaha yang kita rintis selama ini sia-sia dan tidak membuahkan hasil sama sekali, namun kesabaran dan kesungguhan atas kerja keras itulah yang akan dinilai oleh Dia yang Maha Memperhitungkan (Al-Haasiib). Dan pasti Dia akan memberikan ganti yang lebih baik, dengan atau tanpa kita menyadarinya.

Jadi, tetaplah bekerja keras dan pantang putus asa. Jika perasaan itu muncul, tanamkan pada diri kita bahwa: masih terlalu pagi untuk menyerah.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Saturday, January 04, 2014

Wednesday, November 20, 2013

ujungkelingking - Air tidak mengalir ke hulu, kata-kata tersebut saya dapatkan dari postingan seorang teman. Maksud dari kata-kata itu adalah bahwa apa yang terjadi pada anak-anak kita -tentang perilaku, kebiasaan dan karakternya- sedikit banyak mewarisi dari perilaku, kebiasaan dan karakter kita sebagai orangtuanya.

Sebuah teori psikologi menyebutkan bahwa naluri dasar manusia akan meniru -setidaknya mencoba meniru- dari orang lain hal-hal yang dianggapnya menarik. Hal yang menarik ini bisa berarti lucu, unik atau dianggap bermanfaat bagi dirinya. (Albert Bandura, 2009).

Pun begitu dengan anak-anak kita. Mereka akan meniru dari apa yang sering dilihatnya. Kita sebagai orang yang lebih banyak bersinggungan dengan mereka tentulah menjadi obyek tiruan yang paling mudah bagi mereka.

Hanya kemudian masalah yang timbul adalah bahwa anak-anak itu masih belum dapat memilah mana perilaku yang benar-benar bermanfaat bagi mereka dan mana kebiasaan yang tidak perlu ditiru. Semua yang mereka lihat dari kita akan mereka tiru. Hal-hal tersebut ditangkap dan disimpan di dalam memori mereka, dan dalam situasi yang lain dapat dimunculkan kembali. Mungkin secara utuh (recall) atau bisa juga sudah mengalami penambahan dan pengurangan sebagian (recognize). Dengan kata lain, apa yang dipelajari anak-anak ini hanyalah pola atau intinya saja.

Contoh sederhananya, jika kita sering -misalnya- berkata-kata kotor terhadap istri atau saudara-saudara kita, anak-anak itu mungkin tidak akan ikut-ikutan berkata kotor kepada istri atau saudara kita. Akan tetapi bisa jadi mereka menjadi suka memaki teman-temannya atau guru-gurunya.

Atau ketika candaan televisi dengan menyebut anggota tubuh tertentu kita anggap sebagai sesuatu yang lucu, bukan tidak mungkin pelecehan-pelecehan itu akan diadopsi oleh anak-anak untuk dipraktekkan kepada orang-orang di sekitarnya.

Tidak sama persis, namun intinya sama.

Lalu bagaimana kita sebagai orangtua menyikapi hal seperti ini?

Benar, jika sebuah kata bijak mengatakan bahwa anak-anak kita bukanlah kita. Mereka tidak sedang hidup di jaman kita. Karena itu menjadi hal yang jamak ketika mereka tidak sama persis dengan kita. Pola pengajaran dan lingkungan yang berperan membentuk karakter mereka.

Saya kemudian membuat -katakan saja- sebuah pengandaian. Ketika anak kita lahir, dia sebenarnya adalah orang lain. Dia adalah individu yang sama sekali di luar kita. Baik dia ataupun kita tidak saling mengenal. Kemudian, karena dia tinggal di lingkungan kita dan mengikuti pola pengajaran kita, maka seperti teori di atas, dia mulai meng-imitasi perilaku dan kebiasaan kita. Jadilah kemudian ia dikatakan "mirip" dengan kita.

Maka kemudian persoalan membentuk karakter dan kepribadian anak ini adalah sebuah persoalan yang sama sekali mudah. Jawabannya kita semua sudah tahu. Hanya bagaimana kemauan dan kerja keras kita yang sekarang untuk membentuk karakter dan kepribadian kita.

Air tidak mengalir ke hulu, kata teman saya. Jadilah kita "air" yang jernih dan bersih, maka in sya Allah yang di bawah akan ikut jernih.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Wednesday, November 20, 2013

Monday, September 23, 2013

ujungkelingking - Dalam sebuah bincang ringan ibunya Zaki dengan salah seorang tetangga tentang membuat kue, tetangga tersebut mengatakan bahwa dirinya tidak berbakat dalam urusan membuat kue. Karena pernah, dirinya diajari oleh kakaknya yang lebih jago membuat kue, dengan bahan yang sama dan dengan cara dan teknik yang sama, toh hasilnya jauh berbeda. Memang saya ini tidak berbakat, katanya.


***

Bakat (gift), atau yang dalam definisi umum sering diartikan sebagai dasar kepandaian yang dibawa sejak lahir, adalah sebuah anugerah yang diberikan Tuhan kepada masing-masing individu. Dan hal ini tidak ada hubungannya dengan genetik. Jadi bisa saja dua orang yang tidak saling mengenal memiliki bakat yang sama, dan bisa juga terjadi antara saudara kembar malah memiliki bakat yang sama sekali berbeda.

Beda bakat, beda pula keahlian. Jika bakat -dikatakan- secara otomatis sudah ada pada diri kita, maka keahlian baru bisa diperoleh dengan cara belajar, latihan-latihan dan pengalaman. Karena itu bakat tidak selalu berbanding lurus dengan keahlian. Bisa saja seseorang dengan bakat menulis memiliki keahlian memasak, atau seseorang yang berbakat di bidang musik malah sukses di bidang modeling, dsb.

Mengutip seperti apa yang pernah dikatakan Thomas A. Edison, bahwa persentase sebuah bakat dalam keberhasilan suatu hal nyatanya memiliki porsi hanya 1% saja. Sisanya yang 99% adalah kerja keras atau latihan yang intens. Jadi kalau boleh saya menganalogikan, seseorang yang memiliki bakat membutuhkan usaha 99 kali untuk sampai pada 100 (karena yang 1 sudah dimilikinya berupa bakat), sedangkan bagi yang tidak memiliki bakat, butuh 100 kali usaha untuk mencapai angka yang sama. Dari sini kita bisa tahu bahwa bakat tidaklah secara dominan menentukan sebuah kesuksesan. Dalam konteks yang lebih riil, seseorang dengan bakat yang bagus namun kurang dilatih pasti akan mudah diungguli oleh mereka yang memilih berlatih keras meski tanpa bakat. Di sinilah intinya.

Banyak kita dengar kisah tokoh-tokoh yang sukses mendunia yang kesemuanya itu tenyata karena usaha keras mereka. Kegigihan dan ketidak-mauan mereka terhadap kata menyerah dan putus asa.

Michael J. Howe, seorang psikolog dan penulis buku "Genius Explained" mengatakan bahwa genius is not a mysterious and mystical gift, but the product of a combination of environment, personality, and sheer hard work.

Note: Bagi yang ingin mendownload "Genius Explained" (file .pdf versi bahasa Inggris) bisa unduh di link ini.

***

Kita memang terlahir dengan bakat kita masing-masing. Namun pada perjalanan waktu, kitalah yang memutuskan: akan mengasah bakat yang sudah ada, atau memilih melatih apa yang bukan menjadi bakat kita. Dan pada akhirnya yang menentukan hasil dari itu semua adalah prosesnya (baca: usaha keras kita).

Jadi sekarang, apakah bakat itu (masih) perlu?
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Monday, September 23, 2013

Friday, September 6, 2013

ujungkelingking - Sebenarnya tulisan ini adalah hasil adaptasi dari sebuah ebook yang ditulis oleh pak Joko Susilo, ST (www.jokosusilo.com), dengan judul asli adalah 14 Kesalahan Fatal Bisnis Internet, dan Bagaimana Cara Mendobraknya!

Karena artikel tersebut terlalu panjang, akhirnya saya rangkum dan saya ringkaskan sedemikian rupa sehingga menjadi judul tulisan ini, 5 Kesalahan Dalam Berbisnis dan Cara Mengatasinya.

Akan timbul pertanyaan, kenapa saya memposting artikel tentang bisnis internet, padahal saya tidak sedang menekuni bisnis ini?

Jawabannya adalah karena meskipun ditujukan bagi para penggiat bisnis internet, nyatanya kesalahan-kesalahan yang ditulis dalam artikel ini bisa terjadi juga pada pebisnis di dunia nyata. Karena itulah, bagi Anda –tidak hanya pebisnis internet saja- penting untuk menghindari kesalahan-kesalahan berikut ini agar kesuksesan lebih mudah (cepat) menghampiri Anda.

Artikel ini ditulis (hanya) sebagai catatan pribadi, karena sampai sekarang penulis juga belum menjadi seorang pebisnis. :’( 

Lalu apa saja kesalahan-kesalahan tersebut?


Kesalahan #1: Terlalu banyak belajar, menunggu sampai tahu segalanya

Ketika kita mulai terjun sebagai new comers dalam sebuah bisnis, tentu kita mencoba mempelajari seluk-beluknya. Anggap saja kita belajar teori dari pengusaha A. Selama beberapa waktu kita mencoba mendalami teori-teori dari pengusaha A tersebut dan lahir ide-ide kreatif dari situ. Sampai kemudian kita bertemu dengan pengusaha B. Dan ternyata, teori-teori milik pengusaha B ini lebih menarik perhatian kita, meski bertentangan dengan teori pengusaha A. Namun karena kita sudah mempelajari teori pengusaha A, kita menjadi bimbang untuk memilih yang mana, teori pengusaha A atau teori milik pengusaha B?

Nah, untuk mengatasi keragu-raguan tersebut, kita pun mulai menggali lebih banyak informasi lagi. Lalu dalam proses itu kita bertemu dengan pengusaha C -dengan teorinya sendiri. Hasilnya bisa ditebak, kita semakin bingung, dan semakin “bersemangat” untuk mempelajari yang lainnya. Ide-ide yang kita hasilkan-pun semakin banyak. Dan pada poinnya, kita hanya sibuk belajar dan menelurkan ide-ide tanpa ada aksi sama sekali.

Mengatasi Kesalahan #1:
Rencanakan salah satu ide yang sesuai dengan Anda, lalu kerjakan. Tidak perlu menunggu sampai tahu segalanya, cukup garis besarnya saja.

Kesalahan #2: Terlalu banyak ide

Adakalanya kita memiliki banyak ide dalam satu waktu. Namun semuanya tidak bisa kita lakukan bersamaan. Adakalanya juga kita sudah menjalankan ide yang satu, lalu kita tinggalkan untuk menjalankan ide berikutnya. Inilah yang pada akhirnya menjadi bumerang bagi bisnis kita.

Sebuah analogi menarik dari penulis, anggap saja kita memiliki lima buah piring di atas meja. Lalu kita diminta untuk memutar kelima piring tersebut secara bersamaan. Apa bisa?

Mengatasi Kesalahan #2: Sama seperti ide-ide yang kita punya, kita hanya perlu memutar satu piring dengan sangat bagus. Pastikan ia tetap berputar. Lalu kita bisa mulai memutar piring kedua, ketiga, dst. Setelah itu kita tinggal menjaga agar piring-piring tersebut tidak saling bertabrakan. Dan jika sudah menguasai medan dengan baik, kita malah bisa menambah piring lain lagi.

Kesalahan #3: Tidak menganggapnya sebagai sebuah bisnis serius

Bagaimanapun kesalahan ini pasti pernah menghinggapi pebisnis pemula. Mereka menjalani bisnisnya dengan dasar iseng. Tentu saja, hal-hal yang dilakukan dengan tidak serius dan setengah-setengah maka hasilnya tidak akan mungkin maksimal. Dampak lainnya, hal yang tidak serius itu menjadikan kita lebih mudah menyerah ketika mendapat hantaman sekecil apapun.

Mengatasi Kesalahan #3: Seriuslah! Tidak berarti kita harus mengorbankan banyak waktu. Artinya, se-sedikit apapun waktu yang kita gunakan, haruslah efisien, sungguh-sungguh untuk menuju kesuksesan

Kesalahan #4: Rumput tetangga selalu lebih hijau

Melihat kesuksesan orang lain semestinya sebagai pelecut bagi kita, bahwa kita juga pasti bisa!

Namun yang seringkali terjadi, melihat kesuksesan oranglain menjadikan kita malah pesimis, rendah diri dan tidak percaya diri. Akhirnya kita berpikir, “Sudah sekian lama, kenapa mereka sudah sukses sedangkan saya belum?”

Mengatasi Kesalahan #4: Pelajari kunci sukses mereka, namun jangan berlama-lama. Lalu ikuti. Selama kita hanya bisa menonton, kita tidak akan bisa mendapat tepukan tangan.

Kesalahan #5: Takut bertanya, tersesatlah…

Ketika kita tidak memiliki pengetahuan apapun tentang bisnis yang akan kita geluti, apa yang harus kita lakukan?

Tentu kita bisa jawab, "Bisa browsing di internet". Tapi sampai berapa lama? Internet itu luas. Kita bisa kehabisan waktu! Memang benar kita akan menemukan banyak hal di sana, tapi bisa-bisa kita terjebak pada kesalahan pada no. 1 di atas.

Mengatasi Kesalahan #5:
Bergabunglah dengan forum atau komunitas yang khusus berkecimpung dalam bidang yang ingin Anda geluti. Atau miliki seorang mentor. Dengan cara ini, waktu yang kita habiskan untuk menggali ilmu bisa lebih singkat.

So, do it Now!
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Friday, September 06, 2013

Friday, August 16, 2013

ujungkelingking - Tepat 68 tahun yang lalu, sejarah mencatat, negeri ini memproklamirkan kemerdekaannya. Sebuah sejarah yang membanggakan... pada masanya.

Tanpa bermaksud melankolis, tapi sejarah hanyalah sejarah.

Sejarah hanya akan menjadi kenangan -tidak akan bisa berbicara banyak- bila ia hanya dibaca untuk disampaikan di depan kelas atau dihafal demi menjawab lembar-lembar soal ujian.

Sejarah banyak berkisah tentang hukum sebab-akibat, sunnatullah atau kausalitas. Sejarah banyak bercerita tentang proses: bahwa jika kita begini, maka hasil yang akan diperoleh adalah ini. Maka mempelajari sejarah bukanlah dengan tujuan pengetahuan semata. Lebih dari itu, ia membimbing kita untuk mensyukuri karunia-Nya yang kita menyebutnya dengan, pengalaman. Karena itulah sejarah menjadi nyata manfaatnya ketika ia "dihidupkan" kembali dalam kehidupan kita.

Menghidupkan sejarah tentu bukan berarti Bung Karno harus bangkit kembali dan membacakan teks proklamasi. Pun juga tidak berarti Bung Tomo musti tampil lagi demi membakar semangat arek-arek Suroboyo. Menghidupkan sejarah lebih memiliki arti menerapkan "pelajaran"-nya dalam kehidupan kita. Dari pelajaran itulah kita kemudian mensikapi diri.

***

Dahulu, rakyat Indonesia begitu "welcome" dengan Belanda. Masyarakat kita selalu menganggap baik apapun yang datang dari luar. Namun dari situlah Belanda tahu bahwa rakyat mudah dibohongi, yang dengan devide et impera-nya mereka mulai menjajah bangsa ini.

Bagaimana dengan sekarang?

Faktanya, sekarangpun masih tak jauh beda. Kita masih bersikap permisif terhadap segala yang berlabel asing atau -dalam kasus ini- yang berbau teknologi. Memang tidak semua yang dari luar negeri itu buruk, tidak selalu teknologi itu merusak. Namun ibarat mata uang, tidak seluruhnya juga bisa diterima; oleh adat ketimuran kita, atau oleh budaya reliji kita. Perlu adanya usaha untuk men-filter itu semua. Ini yang penting.

Mungkin bagi generasi yang ada sekarang, kita masih dapat membantu untuk memilah mana yang baik untuk diterima dan mana yang merusak untuk dibuang. Namun bagaimana dengan anak-anak kita, pengganti kita nantinya? Sedangkan kita saksikan sekarang, sebagai contoh, begitu mudahnya mereka mengakses internet dengan tanpa pengawasan. Banyak situs-situs berbahaya -yang merusak cara berpikir- yang mereka lahap dengan semangatnya, dan mereka beranggapan bahwa mereka sedang belajar?

Apa kita bisa menjamin bahwa anak-anak itu -dengan logika kanak-kanaknya- bisa menyaring hal-hal yang mereka temui disana, sedangkan kita yang diharapkan sebagai pengawas justru sibuk dengan urusan-urusan yang lain? Maka terjadilah penjajahan tak kasat mata. Penjajahan konsep pemikiran yang dampaknya jauh lebih luas dan jauh lebih panjang dari sekedar penjajahan fisik semata.

Dan pada akhirnya kita memang tidak harus menjadi paranoid untuk selalu berprasangka buruk terhadap apapun yang datang. Namun dengan mau melakukan "banding" pada sejarah-sejarah yang telah lalu kita bisa sedikit menjaga jarak untuk lebih dahulu menganalisa apakah hal tersebut berefek negatif atau tidak.

Dan sejarah, ternyata adalah karunia dari Tuhan yang paling dekat dengan kita untuk mengajari manusia bagaimana bertingkah-laku dalam kehidupannya.

Maka, mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?
[An-Nahl: 16]
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Friday, August 16, 2013

Wednesday, August 14, 2013

ujungkelingking - Alhamdulillah, akhirnya saya bisa kembali masuk kerja hari ini setelah mengambil cuti lebaran beberapa hari. Tidak ada acara "mudik ke desa" untuk tahun ini, lha wong baik saya maupun istri tidak punya desa, hehehe... Palingan cuma muter-muter ke sanak famili yang masih di seputar kabupaten saja.

Meski kantor tempat saya bekerja sudah mulai aktif per tanggal 12 Agustus kemarin, tapi dalam perjalanan berangkat tadi pagi tidak terlihat adanya kemacetan, padahal saya lewat jalan utama (biasanya saya harus lewat "jalan tikus" untuk menghindari macet). Ini berarti masih banyak perkantoran atau para pegawai yang masih menikmati sisa-sisa libur mereka.

Karena itulah -meski (sedikit) terlambat- saya pribadi mengucapkan:

"TAQABBALALLHU MINNA WA MINKUM"

Semoga semua amal ibadah kita selama bulan Ramadhan kemarin mendapat tempat di sisi-Nya. Aamiin.

***

Ada yang menarik ketika saya sedang menikmati liburan kemarin. Datangnya dari sebuah broadcast yang ditunjukkan seorang teman kepada saya. Isinya tentang pembagian Ramadhan dalam 10 hari. Mungkin ini termasuk broadcast lama, namun harus saya tulis di sini karena ada yang penting pada poin terakhirnya.

Nah, berikut pembagian bulan Ramadhan dalam 10 hari:


10 Hari I: Masjid penuh

Hal ini bisa dimaklumi, karena ibarat sebuah pertandingan maka 10 hari I di bulan Ramadhan adalah babak seleksi (penyisihan). Banyak kontenstan yang unjuk kebolehan. Semuanya bertanding dengan energi penuh. Karena itulah kita akan lihat penuh-sesaknya masjid-masjid untuk sholat tarawih, riuhnya musholla dengan lantunan ayat-ayat suci Kitabullah, dan ramainya orang-orang membagi-bagikan sedekah.

10 Hari II: Mall penuh

Saya tidak bisa mengatakan bahwa ini adalah sebuah gaya hedonism atau memang sebuah kebutuhan, atau malah hanya sekedar mengikuti tradisi semata. Dewasa ini, hal-hal semacam itu semakin samar batas-batasnya.

10 Hari III: Terminal-bandara penuh

Yang ini mungkin bisa dijawab sama yang punya desa. :)
Katanya, lebaran tanpa mudik bukanlah lebaran, hehehe...
Tapi, yang ingin saya sampaikan adalah poin yang terakhir ini,

10 Hari IV: Dosa-dosa (kembali) penuh

Di's wi aa. Naudzubillahi min dzalik. Inilah potret dari sebagian besar masyarakat kita (termasuk penulis sendiri, nih!). Berapa banyak dari kita yang setelah 'id justru kembali lagi kepada "kehidupan lama"?

Banyak dari kita yang ketika Ramadhan rajin sholat malam, namun setelah hari raya justru untuk sholat 5 waktu kembali bolong-bolong. Banyak pula yang bulan kemarin begitu gemar membaca Al-Qur'an, setelah hari ini malah mushaf itu akan dibiarkan kembali berdebu. Pun juga yang tadinya senang bersedekah, lalu kembali lagi sifat kikirnya. Yang sudah mampu mengendalikan ucapannya, akhirnya kembali disibukkan dengan menggunjing sesama. Naudzubillah.

Padahal kita tentu paham bahwa label "muttaquun" bukanlah gelar musiman yang disematkan Allah kepada seorang hamba hanya ketika bulan Ramadhan saja. Lebih dari itu, ia adalah sebuah refleksi dari sikap hidup yang akan terus mendarah-daging pada diri seorang muslim. Ketika ia sudah lepas dari bulan Ramadhan, maka pelajaran dan pengajaran yang didapatnya dari bulan tersebut tetap dibawanya hingga ke sebelas bulan berikutnya.

Maka yang bisa menjadi tolok ukur dari keberhasilan puasa yang kita lakukan kemarin adalah perubahan (baca: perbaikan) sikap hidup di dalam keseharian kita. Tentang hal ini, tentu masing-masing kita yang bisa menilainya.

Meningkatkan ibadah itu suatu keharusan. Akan tetapi jika hal itu masih terlalu sulit, setidaknya, kita tetap istiqomah menjaga apa yang sudah kita kerjakan pada bulan kemarin. Pertahankan, jangan kurangkan. In sya Allah itu menjadikan kita lebih baik dari sebelumnya. Dan semoga Allah subhanahu wa ta'ala berkenan memberikan hidayah-Nya agar kita semua dapat sampai kepada tingkatan "muttaquun". Aamiin, ya rabbal 'alamiin...

Bismillah.



Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Wednesday, August 14, 2013

Tuesday, July 23, 2013

ujungkelingking - Kita tahu bahwa anak adalah anugerah paling indah yang dititipkan oleh Tuhan kepada kita. Dan kita juga sadar bahwa setiap titipan pasti akan diambil kembali oleh pemiliknya, entah kapan, entah bagaimana caranya. Dan sebaik-baiknya orang adalah orang yang paling baik menjaga barang titipan tersebut.

Karena itulah tugas kita -sebagai orangtua- adalah menjaga dan merawat titipan tersebut dengan sebaik-baiknya. Namun, sebagai manusia kita juga memiliki banyak kelemahan. Tidak setiap waktu kita bisa menjaga mereka. Tak selamanya kita akan hidup untuk mengawasi mereka. Maka dari itu diperlukan suatu tindakan preparasi yang membuat mereka tetap dapat menjaga kebaikan diri mereka sendiri, sepeninggalnya kita nanti.

Tindakan tersebut kita menyebutnya, pengajaran.

Saya percaya bahwa setiap orangtua pastilah menginginkan pengajaran yang baik untuk anak-anak mereka. Begitu banyak hal-hal baik yang harus kita tanamkan kepada mereka. Jika hal itu kita lakukan sejak dini, besar kemungkinan bahwa mereka akan menjadi pribadi-pribadi yang baik juga nantinya.

Namun, banyak dari kita -seperti judul postingan ini- yang mengajarkan kebaikan justru dengan menyuruh mereka untuk berbuat baik. Ini adalah sebuah kesalahan.

Sumber gambar: kompasiana.com
Saya selalu berpikir, adalah sebuah keegoisan ketika kita menyuruh seorang anak untuk berbuat baik. Yang seharusnya terjadi adalah mengajak mereka berbuat baik. Ada perbedaan mendasar antara 'menyuruh' dan 'mengajak' berbuat baik. Mengajak berbuat baik memiliki konsekuensi logis, yaitu keteladanan. Mengajak anak berbuat baik mengharuskan kita sudah terbiasa melakukan kebaikan tersebut. Bukankah aneh ketika kita menyuruh anak berbuat baik sedangkan kita tak pernah melakukan dan memberikan contoh untuk itu?

Bukanlah hal yang sulit mengajarkan kebaikan kepada anak-anak, selama teladan kebaikan itu ada pada diri kita. Yang susah justru adalah menata kebaikan di dalam diri kita, karena kita sudah terlanjur "terbentuk" seperti ini. Tapi bukan tidak mungkin kita belajar demi anak-anak kita.

Jadi, berhentilah menyuruh mereka berbuat baik. Mulailah berbuat baik, dan ajak mereka untuk turut serta.

Segera.

Selamat Hari Anak Nasional
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Tuesday, July 23, 2013

Tuesday, July 16, 2013

ujungkelingking - Menindaklanjuti tulisan sebelumnya bahwa adab (baca: akhlak yang baik) menempati posisi penting dalam Islam. Sebagaimana kita ketahui dalam banyak riwayat, Rasulullah kerap mempersandingkan antara "bertakwa kepada Allah" dengan "berakhlak yang baik". Karena itu jika takwa kepada Allah menyebabkan cinta Allah kepada kita, maka akhlak yang baik menyebabkan kecintaan makhluk kepada kita.

Yang menjadi sandaran dalam postingan kali ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah yang berbunyi,

"Wahai Abu Hurairah! Hendaknya engkau berakhlak yang baik." Lalu Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bertanya, "Apa itu akhlak yang baik, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "[1] Engkau menyambung silaturahim terhadap orang yang memutuskannya darimu, [2] memaafkan orang yang mendhalimimu, dan [3] memberi orang yang tidak mau memberi kepadamu."

[Al-Baihaqi]

1. Menyambung tali silaturahim

Silaturahim berasal dari 2 kata, yaitu "silah" yang bermakna "menyambung" dan "rahim" yang berarti "kasih sayang". Nah, dari kata silah (menyambung) inilah ada pengertian yang muncul bahwa 'tidak mungkin sesuatu itu disambung kalau sebelumnya tidak putus'. Ada yang putus - baru disambung, logikanya seperti itu. Maka makna silaturahim ini menjadi bukan sekedar acara saling mengunjungi atau bertegur sapa, tapi lebih kepada menghubungkan kembali pihak-pihak atau keluarga yang tadinya berselisih, putus hubungan dan tidak pernah lagi berinteraksi.

Sebuah hadits dari Rasulullah yang menjadi penting untuk disimak,
"Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus."

[Diriwayatkan oleh Bukhari]

Dan karena berkenaan dengan keluarga/kerabat yang sebelumnya berselisih, maka dalam silaturahim ini dibutuhkan mental yang besar dan dada yang lapang untuk dapat memaafkan lebih dahulu.


2. Memaafkan

Memaafkan termasuk di dalam akhlak-akhlak yang baik. Memaafkan, menuntut hati yang besar, apalagi ketika kita dalam posisi mampu dan berkesempatan untuk membalas.

وَلا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ


"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

[An-Nuur: 22]

 وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia."

[Fushilat: 34]

Maksud perkataan "tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik" adalah membalasnya dengan hal yang baik. Salah satu caranya adalah dengan suka memberi bantuan.


3. Suka memberi

"Bukankah tidak ada balasan bagi amal yang baik melainkan balasan yang baik juga?"

[Ar-Rahmaan: 60]

Ayat di atas cukup sebagai dasar kenapa kita harus suka memberi. Memberi, yang dalam konteks artikel ini adalah kepada orang pelit terhadap kita tentu membutuhkan keikhlasan yang amat besar. Dan tidak ada yang memiliki keikhlasan yang besar bila tidak memiliki keimanan yang besar. Rasulullah shallallahu alaihi wa salaam bersabda,
"Sedekah adalah bukti."

[Muslim: 223]

Imam an-Nawawi rahimahumullah menjelaskan, "Yaitu bukti kebenaran imannya. Karena itulah sedekah disebut shadaqah, karena merupakan bukti dari shidqu imanihi (benar keimanannya)."

***

Tentunya masih banyak lagi contoh-contoh bagaimana akhlak yang baik itu. Semuanya sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa salaam.

"Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik..."

[Al-Ahzab: 21]

Salam.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Tuesday, July 16, 2013

Friday, July 12, 2013

ujungkelingking - Sebuah kalimat yang cukup menarik, berbunyi begini,


Kalimat ini adalah merupakan gabungan dari perkataan ulama'-ulama' besar. Dan kalau sudah seorang ulama' yang mengatakannya, maka pastilah memiliki makna yang sangat luas.


Ilmu mendahului amal

Ungkapan ini diambil dari perkataan terkenal imam Al-Bukhari. Beliau mengatakan, "al-ilmu qabla 'l-qaul wa 'l-'amali". Artinya bahwa sebelum kita berkata dan berbuat, yang lebih dahulu harus kita miliki adalah ilmu tentang hal tersebut. Inilah yang kemudian menjadikan ilmu sebagai syarat benarnya suatu perkataan atau perbuatan. Karena itu suatu perkataan atau perbuatan yang tidak didasari dengan ilmu hanya akan dianggap sebagai 'omdo', omong-kosong doang.

Dan agama ini telah menjelaskan bahwa perkara sepele yang dilakukan dengan ilmu, lebih bernilai daripada amalan besar yang dilakukan hanya karena taqlid atau ikut-ikutan semata. Siapa yang melakukan suatu amalan tanpa ilmu (tidak ada dasarnya) maka amalan tersebut tertolak, begitu bunyi sebuah hadits.

Bukankah ayat pertama yang diturunkan kepada kita berbunyi, "iqra'"?
Bukankah Allah sudah menjanjikan akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu?
Bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga pernah bersabda bahwa yang ingin mendapatkan dunia harus dengan ilmu, dan yang ingin mendapatkan akhirat pun harus dengan ilmu?

*Seseorang itu disebut berilmu karena dia terus belajar. Saat dia berhenti belajar (karena sudah merasa berilmu), maka mulailah ia bodoh... 


Adab mendahului ilmu

Banyak contoh di sekitar kita, orang-orang yang tadinya seorang penuntut ilmu, namun pada akhirnya dia tidak mendapatkan apa-apa dari kesungguhannya mencari ilmu. Ilmu yang telah didapatnya itu tidak mampu diamalkannya dan tidak sanggup disebarkannya. Seolah-olah hanya tersimpan di otaknya untuk kemudian dibiarkan "menguap" seiring berjalannya waktu.

Apa yang terjadi? Apakah dia tadinya kurang bersungguh-sungguh? Ternyata bukan. Mereka hanya salah dalam melalui prosesnya, yaitu mempelajari ilmu sebelum belajar tentang adab-adabnya.

Sama seperti ilmu yang menjadi syarat atas benarnya sebuah amal, maka adab adalah syarat atas berkahnya sebuah ilmu. Islam menempatkan adab ini ke dalam posisi yang penting. Bukankah Allah sendiri memuji nabi Muhammad karena adab beliau? Lalu kenapa kita tidak berusaha turut memperbaiki adab kita?

Dan di dalam menuntut ilmu, diantara adab-adabnya adalah [1] niat yang ikhlas dan do'a yang sungguh-sungguh, [2] upaya yang serius dan istiqomah, [3] menjauhi kemaksiatan dan kesombongan, lalu [4] mengamalkan untuk kemudian menyebarluaskannya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga. "Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik."

[at-Tirmidzi dan al-Hakim]

Mengenai bagaimana cara kita berakhlaq yang baik itu, mudah-mudahan saya diberi kesempatan untuk menuliskannya di artikel yang lain.

***

"Saya hanyalah menyampaikan. Tidak ada ketentuan bahwa yang menyampaikan lebih utama dari yang mendengar. Yang beruntung adalah siapa yang mengamalkan." Hasbunallah wa ni'ma 'l-wakiil...
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Friday, July 12, 2013

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!