Monday, February 28, 2011

ujungkelingking - Sebelumnya, saya akan bercerita tentang putra pertama saya yang berusia hampir satu tahun. Yang saat ini sedang memulai langkah-langkah pertamanya. Dua langkah, tiga langkah, bahkan, pernah sampai enam langkah. Tapi lalu kemudian dia “ngambek”, gak mau berjalan lagi. Dua hari kemudian baru dia mau berjalan lagi. Memang baru 2-3 langkah, lalu jatuh, lalu mencoba berjalan lagi.

Pernah coba menaiki jendela yang setinggi bahunya. Tentu saja gak bisa. Tapi siangnya dia malah mencoba lagi. Begitu juga keesokan harinya.

Begitulah anak-anak.

Nah, yang ingin saya sampaikan disini adalah kenapa meskipun beberapa kali jatuh, berkali-kali terbentur tembok tapi anak-anak masih akan mencoba lagi, dan lagi, sampai pada akhirnya mereka bisa? Jawabannya ternyata cukup sederhana, karena mereka belum mengenal istilah “putus-asa” dan kata “menyerah”. Meminjam bahasa guru saya, mereka belum mengenal konsep gagal.

Berbeda dengan kita, yang sudah dewasa, konsep gagal itu itu sudah terekam kuat pada diri kita. Hingga memunculkan paradigma bahwa kita pasti gagal, bahwa kita akan jatuh. Konsep gagal itu pula yang membuat kita mundur, tidak berkembang, dan menjadi sosok paranoid.

Kapan kita mulai mengenal konsep gagal?

Sejatinya, kita mengenal konsep gagal sejak kita mengenal arti kata “malu”.
Saya contohkan saja seperti saat kita masih di sekolah dasar. Ketika guru memberikan soal kepada para muridnya, lalu kita yang saat itu begitu pe-de menjawab dengan lantang. Di luar dugaan, ternyata jawaban kita salah, lalu teman-teman sekelas kita mulai menyoraki dan mentertawakan kita. Saat itu kita merasa malu. Bahkan ketika sang guru memberikan soal yang lain, kita jadi ragu-ragu menjawabnya, jangan-jangan kita akan salah lagi. Kita menjadi begitu takut salah, tapi sebenarnya saat itu dimulailah pengenalan kita akan kegagalan.

Bagaimana mensikapinya?

Sama seperti dalam contoh di atas, ketika kita salah dalam menjawab soal, kita membutuhkan support dari guru kita, bahwa menjawab salah itu bukan kesalahan. Kegagalan itu adalah saat kita takut untuk mencoba lagi.

Dan pemikiran semacam ini haruslah kita bawa sampai kita dewasa. Bahwa jatuh saat berusaha bukanlah hal yang harus ditakuti. Diantisipasi, mungkin. Tapi bila terlalu over juga akan membuat setiap langkah kita menjadi berat.

Atau tanamkan saja dalam kepala kita bahwa dalam setiap memulai sesuatu yang baru kita justru harus jatuh. Karena dengan begitu kita akan “lebih siap” jika benar-benar jatuh. Dan dengan begitu kita akan lebih mudah melanjutkan, karena kita sudah mempelajari sebab kejatuhan kita.

Konon, sebelum Thomas A. Eddison berhasil dengan percobaannya menemukan lampu pijar, dia telah mencoba dan gagal hingga 2 ribuan kali.

Saat dia ditanya tentang kegagalannya itu, Thomas dengan cepat menjawab, “Saya tidak pernah gagal,”

“Saya justru telah menemukan 2 ribu benda yang tidak bisa menghantarkan listrik.”
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Monday, February 28, 2011
Categories:

1 comment:

  1. konsep bonus turnover 0.5% yang menjadi andalan http://dewakartu168.com/ menjadikan ia hingga sekarang di juluki sebagai situs Dewa Poker yang terbesar dan terpercaya

    ReplyDelete

Komentar Anda tidak dimoderasi.
Namun, Admin berhak menghapus komentar yang dianggap tidak etis.

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!