Monday, October 28, 2013

ujungkelingking - Dalam sebuah tayangan bertajuk “Naked Science: Spacemen di sebuah televisi swasta beberapa hari yang lalu, diprediksikan bahwa beberapa dekade dari sekarang kondisi bumi sudah tidak memungkinkan lagi untuk dihuni. Ini yang kemudian menyebabkan beberapa ilmuwan berpikir untuk mencari “bumi” lain untuk ditinggali. Namun, sebelum kita benar-benar bisa pindah ke planet lain, ada beberapa masalah yang harus dipecahkan terlebih dahulu.
Artikel ini ditulis dengan daya ingat yang apa adanya, jadi mohon maaf bila untuk nama-nama peneliti dan ilmuwan tidak bisa saya tuliskan di sini atau ada penjelasan yang kurang tepat.

Masalah Kesatu: Planet yang mirip dengan bumi 

Agar manusia tetap bisa hidup di planet yang baru, maka harus dipastikan bahwa kondisi planet tersebut benar-benar mirip bumi. Setidaknya ada 3 unsur yang harus terpenuhi oleh planet baru tersebut: [1] Planet tersebut harus dekat dengan bintang-bintangnya, hal ini untuk menjaga agar suhu di planet tersebut tetap hangat; [2] Adanya kandungan oksigen di planet tersebut, dan; [3] Memiliki sumber air.

Kabar baiknya, seorang ilmuwan, melalui alat yang diciptakannya berhasil mendeteksi planet yang memiliki kriteria seperti itu. Planet tersebut diberi nama Finder Miley (kalau tidak salah ingat). Namun, kabar buruknya, jarak “bumi” tersebut dengan bumi kita amat sangat jauh. Dan kalau ada istilah “jauh” dalam konteks luar angkasa, itu berarti ratusan tahun. Jadi bila kita hari ini berangkat kesana, maka generasi-generasi kita berikutnya-lah yang sampai ke planet tersebut. 

Masalah Kedua: Kendaraan yang sesuai

Setelah masalah pertama –yaitu planet tujuan- sudah terpecahkan, maka muncul problem berikutnya. Jarak tempuh yang sangat jauh itu mengharuskan kita memiliki kendaraan yang kompatibel.

Saat ini kita sudah memiliki roket. Hanya masalahnya, roket membutuhkan bahan bakar. Semakin jauh perjalanan, maka semakin banyak bahan bakar yang harus disediakan. Dan semakin banyak bahan bakar, berarti kendaraan akan semakin berat. Semakin berat, artinya semakin lambat. Ingat, perjalanan kita ratusan tahun!

Sebenarnya, yang diperlukan sebuah roket adalah daya yang cukup besar untuk bertolak dari bumi. Selepasnya dari atmosfer, daya yang kecil saja bisa mendorong kendaraan untuk melaju.

Salah seorang ilmuwan sudah berhasil menciptakan sebuah kendaraan luar angkasa yang menggunakan listrik sebagai bahan bakarnya. Kendaraan ini diklaim mampu melaju lebih cepat di ruang hampa udara. Namun bagaimanapun juga listrik adalah bahan bakar. Idealnya, kita membutuhkan kendaraan yang tidak menggunakan bahan bakar.

Akhirnya dirancanglah sebuah kendaraan yang mirip perahu layar dengan layarnya yang membentang selebar lapangan bola. Layar yang lebar ini dilapisi perangkat solar cell yang berfungsi menyerap energi panas matahari untuk diubah menjadi tenaga gerak. Meski beberapa pihak masih meragukan dan kendaraan ini masih berupa prototype, namun ini merupakan pencapaian yang cukup menggembirakan. 

Masalah Ketiga: Baju astronot 

Setelah tujuan dan alat kendaraan sudah ditemukan solusinya, muncullah masalah berikutnya. Seperti kita tahu bahwa baju seorang astronot dirancang untuk membawa oksigen sekaligus agar tahan terhadap suhu ekstrim di luar angkasa. Namun kelemahan dari baju ini adalah modelnya yang sangat besar, bahkan untuk menekuk lutut saja tidak bisa. Kita bisa bayangkan kesulitan yang dihadapi para astronot itu jika ada kerusakan pada bagian luar pesawat atau satelit. Mereka harus memperbaikinya dengan sarung tangan yang cukup besar dan baju yang menyulitkan pergerakan tubuh.

Namun seorang peneliti berhasil membuat pakaian astronot yang lebih simpel, elastis dan futuristik. Pakaian ini memungkinkan seorang astronot bergerak lebih lincah dan bebas di ruang hampa udara. 

Masalah Keempat: Pertumbuhan tulang 

Penelitian pada beberapa astronot menyebutkan bahwa pada ruang hampa udara, tulang berhenti tumbuh. Hal ini menyebabkan kerapuhan tulang menjadi sangat cepat. Dalam sebuah analogi sederhana dijelaskan, beberapa hari saja di luar angkasa, tulang seorang astronot kelihatan biasa-biasa saja di bagian luarnya, namun kerapuhan hebat terjadi di bagian dalam tulang. Beberapa bulan di luar angkasa, jatuh ringan saja bisa membuat kaki kita patah. Dalam beberapa tahun, satu tepukan di pundak bisa menghancurkan seluruh tulang punggung kita!

Seperti kita ketahui bahwa adanya gravitasi memungkinkan tulang dan otot-otot kita tumbuh dengan sempurna. Dari sini para peneliti menyimpulkan bahwa untuk mengatasi hal ini diperlukan adanya daya yang menolak gaya anti gravitasi. Sebuah gerakan berputar dinamis yang berlawanan dengan arah jarum jam. Kita menyebutnya dengan gaya sentrifugal.

Maka dibuatlah alat yang mirip dengan sepeda, namun dengan posisi tidur (miring). Seorang astronot bisa berbaring dengan posisi miring, kemudian kedua kakinya menjejak pedal seperti orang mengayuh sepeda, maka alat tersebut akan bergerak memutar. Dan dengan benda semacam tiang yang terletak pada bagian bawah kepala astronot –yang berfungsi sebagai poros- alat ini akan bergerak berputar seperti jam dinding bila kita letakkan pada posisi tidur. Tentu saja arah perputarannya berlawanan dengan arah jarum jam. Dengan penemuan ini diharapkan permasalahan tulang ini bisa teratasi. 

Masalah Kelima: Badai kosmik

Seorang astronot pernah melaporkan bahwa dirinya melihat kilatan-kilatan cahaya di ruang angkasa. Segera setelah laporan pertama ini, beberapa astronot lainnya juga melaporkan hal yang sama. Kilatan-kilatan ini sepertinya tidak membahayakan, namun dalam waktu dekat ternyata bisa menyebabkan katarak dan kanker.

Untuk memecahkan masalah ini, maka setiap astronot yang ditugaskan di luar sana wajib mengkonsumsi pil atau suplemen tertentu setiap harinya. Hal ini untuk menangkal radiasi yang diterima mata akibat badai kosmik tersebut.

Masalah Keenam: Kehamilan dan kelahiran

Berdasarkan fakta bahwa kehamilan bisa terjadi karena adanya gravitasi. Maka di dalam ruang anti gravitasi kehamilan tidak akan berkembang. Dan ini tentu menjadi masalah besar karena tujuan perjalanan ini sebenarnya mengirimkan generasi-generasi setelah kita.

Begitu pula dengan masalah kelahiran. Pada percobaan yang dilakukan pada seekor tikus, bayi tikus yang dilahirkan pada ruang hampa udara akan memiliki disorientasi terhadap gravitasi. Dia tidak bisa membedakan mana atas dan mana bawah. Maka membawa wanita hamil atau bayi dalam perjalanan ini adalah sebuah kesalahan besar.

Sempat terpikirkan untuk menggunakan zat anti-materi. Zat anti-materi dikatakan bisa digunakan untuk “melempar” manusia ke tempat lain. Teleportasi. Namun, mengingat dampaknya yang sangat besar, wacana tentang anti-materi ini masih diperdebatkan. Sekedar informasi, satu sendok zat anti-materi bisa menghasilkan daya ledak yang lebih hebat daripada bom atom Hiroshima! 

Masalah Ketujuh: Stress dalam kurungan 

Pada dasarnya manusia adalah makhluk sosial dan makhluk yang bebas. Sebulan saja kita tidak keluar rumah sama sekali tentu ada rasa bosan. Tentu saja bila bosan di dalam rumah kita bisa jalan-jalan ke luar rumah. Lalu bagaimana dengan luar angkasa, yang perjalanannya memakan seluruh usia kita dan pemandangannya hanya itu-itu saja? Tentu perasaan tertekan yang amat kuat yang muncul. Dampaknya bisa terjadi pertengkaran karena hal-hal yang sepele saja.

Untuk mengantisipasi hal-hal semacam ini, maka dibuatlah alat yang memiliki sensor yang mampu mendeteksi tingkat stressing pada otak. Diharapkan ketika mengetahui tingkat stress yang ada pada dirinya, seorang astronot mampu mengendalikan dirinya. 

Masalah Kedelapan: Badai matahari dan perubahan DNA

Ini adalah masalah yang paling besar diantara masalah-masalah di atas. Tak dapat dipungkiri, terlalu lama terpapar radiasi yang diakibatkan oleh badai matahari, lambat laun bisa mengakibatkan kerusakan pada jaringan DNA kita.

Solusi yang ditawarkan adalah dengan mengambil salah satu sel kita, sehingga kita berada dalam kondisi seperti mati suri. Kita bisa tidur bertahun-tahun, dan bangun kembali ratusan tahun kemudian.

Solusi lainnya adalah dengan merekayasa DNA kita. Gen yang menjadi opsi adalah gen kecoa atau kadal yang dianggap tahan terhadap radiasi. Namun kekhawatiran baru muncul, apa tidak mungkin ketika ratusan tahun sudah berlalu kita akan benar-benar menjadi manusia kecoa dan manusia kadal?

***

Dan dari usaha-usaha manusia dalam menembus luar angkasa ini pada akhirnya masih harus berbenturan dengan ayat di dalam Al-Qur'an:


يَا مَعْشَرَ الْجِنِّ وَالإنْسِ إِنِ اسْتَطَعْتُمْ أَنْ تَنْفُذُوا مِنْ أَقْطَارِ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ فَانْفُذُوا لا تَنْفُذُونَ إِلا بِسُلْطَانٍ

“Hai seluruh jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah; kamu sekali-kali tidak dapat menembusnya melainkan dengan kekuatan.”
[Ar-Rahmaan: 33]

Dan misteri, masih belum terpecahkan...
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Monday, October 28, 2013
Categories:

31 comments:

  1. Baru baca saya sob.
    izin simak.

    ReplyDelete
  2. Saya baca dari awal sampai akhir, dan ceritanya menarik mas :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. kl nonton pas tayangannya lebih menarik lagi... sayang, saya nontonnya smbil rada2 ngantuk, h-hii,

      Delete
  3. wahhh,,, mikir orang barat sampai ke sana toh? Indonesia malah balik lagi ke zaman Kian Santang wkwkwk :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. h-haa, anakku telah lahir, kuberi nama dia, "mas Intan"...

      Delete
  4. ternyata begitu banyak tantangannya ya mas untuk mencari tempat hidup baru tersebut...saya ikut menyimak, dan jadi ikut membayangkan juga bagaimana sulitnya hal tersebut hehe.

    mending hidup di bumi saja, yakin manusia dibumi ga akan melebihi kapasitas bumi, ada yg lahir pasti ada juga yang meninggal. cuma mungkin harus lebih bijak dalam menggunakan sumber daya yang tidak terbarukan...kasihan anak cucu kita nanti kalau ndak kebagian

    ReplyDelete
    Replies
    1. kalimat terakhirnya yg perlu digarisbawahi, manusia jngan tamak.

      Delete
  5. syukurlah, aku masih betah di bumi, hehehe :p

    ReplyDelete
  6. yang disebut jauh ya ratusan tahun...ratusan tahun cahaya maksudnya...kebayang berapa lama itu? jika 1 detik cahaya saja sudah mencapai jarak 300.000 km, bayangkan jika 1 jam cahaya, 1 hari cahaya, 1 bulan cahaya, 1 tahun cahaya, 1 juta tahun cahaya? subhanalloh, bukti bahwa Alloh benar-benar Maha Pencipta dan tak ada satupun dzat yang menandinginya.

    ReplyDelete
  7. sungguh, tak bisa disangkal lagi, segala sesuatu yang diciptakan Alloh di bumi sudah ada takarannya masing-masing, sudah ada ilmunya masing-masing dan hanya sebagian kecil saja kita memahaminya. walaupun tinta yang dipakai untuk menuliskan ilmu iu adalah seluruh iar yang ada di lautan, tetap tak akan cukup ilmu Alloh dibukukan.....

    ReplyDelete
    Replies
    1. Maha Besar dan Maha Luas ilmuNya, jd bila diibaratkan ilmu Allah seperti lautan, maka ilmu manusia adl bila jari dimasukkan ke dalam air laut itu lalu diangkat. nah, yg nempel di jari itulah ilmu manusia

      dan, manusia tampak semakin kerdil saja

      Delete
  8. artikel yang bgus untuk di baca, menambah wawasan, sekaligu mempunyai makna dan pesan akan kebesaran Allah..

    mampir ya mas di postq yg baru :)

    ReplyDelete
  9. kalau begitu mendingan kita persiapkan diri masing masing, keluarga juga untuk mencari amal baik, terutama amal jariyah yang bisa mengantarkan kita kepada kenikmatan di kehdupan yang sebenar-benarnya kehidupan.

    ReplyDelete
  10. tempat paling aman dan nyaman untuk manusia ya hanya di bumi ini.. jadi jangan pernah berangan angan untuk hidup di dunia lain.. hehehehehe... bener nggak mas....??

    ReplyDelete
    Replies
    1. bgimanapun ilmu pengetahuan pasti akan bertambah, mengenai adanya kehidupan lain di luar bumi kita, wallahu a'laam...

      Delete
  11. saya blm nonton filmnya mas,,,,

    g ke bayang gmana pindhnya kita ke planet lain,,,,,

    ReplyDelete
    Replies
    1. cuma bisa mbayangin aja, may. tp prakteknya juga gak tahu.

      Delete
  12. intinya sih ilmu manusia itu terbatas walaupun teknologi sebegitu canggihnya pasti kalah sama kuasa alloh

    ReplyDelete
  13. hanya bumi yang selamat untuk didiami oleh umat manusia.. ternyata begitu indahnya bumi ciptaan Allah untuk kita berfikir dan bersyukur..

    ReplyDelete
    Replies
    1. dan manusia malah ingin pindah, :)

      Delete
    2. tentu sukar untuk pindah jika terlalu banyak syaratnya..

      Delete
  14. Kalau saya sih gak sependapat sama prediksi ilmuwan itu. Allah menciptakan sesuatu itu sudah seimbang. “Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang?.” (QS: al Mulk [67]:3)

    Dulu penghuni bumi besar2 mencapai 30meter dengan umur ratusan tahun, lambat laun jadi seperti sekarang rata kurang dari 2m dan umurnya 60an. Kalau dibandingkan jika manusia umur & tingginya seperti dulu maka tidak cukup bumi ini untuk kita. Jadi Allah selalu mencukupkan segala sesuatu untuk kita :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. pemikiran ini bisa mnjadi kajian yg cukup menarik.

      tp bgmn pun "manusia" itu adl mkhluk yg tak pernah puas. akan selalu mencoba mencari tahu apa yg belum mereka tahu. dan karena sifat itulah kita berkembang spt sekarang ini.

      Delete
  15. Menarik sekali mas, kalau saya berangkat ke kembaran bumi, mungkin baru pertengahan sudah keburu tuwa.

    ReplyDelete

Komentar Anda tidak dimoderasi.
Namun, Admin berhak menghapus komentar yang dianggap tidak etis.

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!