Saturday, September 14, 2013

ujungkelingking - "Salahkah diriku bila merindukanmu // Sedangkan kau di sana juga merindukanku // Walau ku tahu kau ada yang memiliki // Tapi cintaku tetaplah untukmu..."

Merasa kenal dengan lagu tersebut? Ya, itu potongan lirik dari lagu dangdut yang masuk trending music di kampung saya akhir-akhir ini.

Saya bukan orang yang anti dengan lagu dangdut. Banyak lagu-lagu dangdut tempo doeloe masih easy listening di telinga saya. Terkadang dengan mendengarkan lagu-lagu tersebut, saya seperti masuk ke mesin waktu dan mulai mengingat memori-memori lama. Duh!

Namun semakin ke sini, genre ini semakin mengikuti arus jaman. Mengikuti pola pasar. Yah, memang sudah hukumnya barangkali, kalau tidak mengikuti tren tidak akan bertahan. Dangdut yang sekarang sudah jauh berbeda dengan dangdut jaman saya es-em-pe dulu. Dari sisi aransemen lagu jelas sudah berbeda meski masih memakai lagu yang sama. Musik yang awalnya "halus" berganti tema menjadi nge-beat atau rada keras. Sudah gak cocok buat saya, haha...

Gaya panggung (baca: goyangan) apalagi. Jelas-jelas membangkitkan birahi. Dan yang ini saya yakin dilakukan hanya untuk membackup vokal yang amburadul. Maklum, vokal nomer sekian. Sing penting goyangane, cak! "Buka dikit, joss!"

Pun juga materi lagu yang -bagi saya- seperti tidak ada ide lain saja. Nah, yang saya sebut terakhir inilah yang paling membuat saya tidak habis pikir. Tentang ide, boleh-bolehlah semau kita, tapi kemasannya itu loh apa tidak bisa lebih "rapi" sedikit? Maksud saya mbok yao jangan terang-terangan. Bukan bermaksud merendahkan, tapi konsumen jenis musik ini kan kebanyakan kalangan menengah ke bawah. Yang artinya jangkauannya jauh lebih luas dibandingkan dengan musik dari jenis lainnya.

Coba saja perhatikan lirik ini,

"Ingin ku Sms an wedi karo bojomu // Pengen telpon-telponan wedi karo bojomu // Pengen ku ngomong sayang wedi karo bojomu... // Pengen ketemuan wedi karo bojomu // Pengen kangen-kangenan wedi karo bojomu..."

"Ingin (ku)sms kamu (tapi) takut dengan istrimu // Ingin menelpon takut dengan istrimu // Ingin ku bilang sayang takut dengan istrimu... // Ingin bertemu takut dengan istrimu // Ingin sayang-sayangan takut dengan istrimu..."

Ini apa-apan coba? Menyelingkuhi suami orang kesannya bangga. Bahkan miris saya ketika di warung nasi ada anak SD yang dengan semangatnya menyanyikan lagu tersebut. Mau jadi apa mereka ketika dewasa, ketika nyanyian tersebut sudah tertanam jauh di alam bawah sadar mereka?

Yang lebih parah, orangtua mereka malah membiarkan anak-anak mereka tumbuh dengan lagu-lagu semacam itu.

"Sakjane kangen iki ra keno di lereni // Nanging aku wedi karo bojomu."

"Sebenarnya rindu ini tidak bisa dihentikan // Tapi aku takut dengan istrimu"

#Au ah!
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Saturday, September 14, 2013
Categories:

31 comments:

  1. au juga ah mas pri,,,,,


    selingkuh=selingan indah keluarga utuh,,,,
    hahahahahhaha,,,,,,

    yg haram" enak,,,,, jare spo?
    ah melu gendeng

    ReplyDelete
    Replies
    1. gak ngikutin jaman, gak waras loh, hahayyy...

      Delete
    2. duh, saya nggak ngiutin musik dangdut je...

      Delete
    3. jangan diikuti mbak, nanti joget tiada henti

      Delete
  2. itu adalah sebuah strategi pasar, yang penting laku mas Pri, tak pernah berpikir ke depannya bagaimana? dasar wong edan ! :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. keuntungan sedikit dg dampak yg jauh lebih besar.

      Delete
  3. yang penting tenar mungkin begitu pikirnya mas eheheh..... tariiik mang ehhehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. tarik becak, mang? atau tarik tambang? :lol:

      Delete
  4. jaman udah semakin ancurrrrr ya mas....perjuangan para orang tua tentunya jadi lebih berat lagi

    ReplyDelete
  5. vulgar...itu bahasa dan lyric yang sangat sembrono menurut saya. tak pantas dong anak-anak dengar yang semacam itu. apa pikiran mereka tentang orang dewasa coba? padahal orang dewasa itu panutan anak-anak lho...lha kalau imej orang dewasa seperti apa yang dipopulerkan para penyayi dangdut sekarang, kan berabe tuh...

    ReplyDelete
    Replies
    1. apalagi dangdut kan "jangkauan"nya lebih ke masyarakat bawah yg jumlahnya di negri ini jauh lebih banyak...

      Delete
  6. Lirik lagu yang asal buat, tapi herannya kok bisa-bisanya banyak yang suka ya? APalagi "Buka Dikit JOsss...

    ReplyDelete
    Replies
    1. yg suka krn di dukung dg goyangan yg *tiii........t! (sensor)

      Delete
  7. aku kok malah bingung dengan musik indonesia sekarang
    mana dangdut mana pop mana rock ga jelas. aku yang awam ini seringkali salah terka. ada temen muter lagu pop, aku bilang itu kan aslinya dangdut. eh malah diketawain katanya kebalik

    dangdut tuh tetap enak jaman bang haji dan elvi sukaesih
    berasa dangdutnya...

    ReplyDelete
    Replies
    1. yup, sepakat. dangdut sudh melepaskan diri dr ke-dangdut-annya.

      Delete
  8. mending tuku sate timbang tuku weduse, enak mangan suket tinimbang mangan weduse, hehe
    timbang gendaan along enak bebojoan,
    wes salah kaprah mas..mas..
    arek cilik saiki yo podo nyanyi lagu iki je mas..
    halah halah...

    ReplyDelete
    Replies
    1. lah nek tuku wedus leren ngingoni... :lol:

      Delete
    2. iramanya enak di rungokne mas tapi nek dadi doktrin neng generasi berikutnya piye ?

      Delete
  9. ya memang begitulah dangdut, kadang liriknya bisa menyesatkan tapi kalo saya anggap hiburan aja hehe

    ReplyDelete
    Replies
    1. bg yg dewasa mungkin bs menganggapnya hiburan, tp bg anak2 yg notabene "peniru", gmn hayo? Hehehe...

      Delete
  10. masyarake dho seneng sihhh, angel dibendung dangdut macam iku :)
    mending jajan cilok ae mas :))

    ReplyDelete
  11. itulah yang membuat sebagian orang berpandangan negatif tentang pelaku dangdut, kalo saya lebih suka yang selalu rindu kata ine itu loh hhe :p

    ReplyDelete
  12. Alam bawah sadar anak-anaknya dicekoki lagu dangdut dengan lirik yang tidak mendidik... Untung saya dulu suka dengan lagu-lagu kebangsaan dicekoki lagu-lagu islami, dan barat, jadi hidup lumayan seimbang.

    ReplyDelete

Komentar Anda tidak dimoderasi.
Namun, Admin berhak menghapus komentar yang dianggap tidak etis.

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!