Wednesday, February 26, 2014

ujungkelingking - Tips Mendapatkan Teman dan Penjelasannya Secara Ilmiah (Bag. 2)


Seperti yang sudah kita catat pada artikel bagian pertama, bahwa salah satu cara untuk menumbuhkan rasa ketertarikan orang lain terhadap kita adalah dengan cara membiarkannya sedikit membantu kita.

Nah, berikut ini ada tips lain yang mudah-mudahan berguna bagi rekan-rekan yang sedang mencoba menjalin hubungan pertemanan (relationship).


Manfaatkan hukum asosiasi dan hukum perbandingan


Wah, apalagi nih?

Hukum asosiasi adalah hukum yang menyatakan bahwa 'kamu adalah temanmu'. Secara gampangnya begini, jika kita terlihat bersama dengan sekumpulan anak-anak perokok, maka orang akan dengan mudah mengatakan kita juga perokok. Padahal belum tentu, tapi itulah yang terjadi.

Jika kita sering terlihat bersama dengan anak-anak pecinta alam, maka orang lain yang tidak mengenal kita akan berasumsi bahwa kita juga seorang pecinta alam. Maka, jika kita terlihat bersama seseorang yang menarik (entah secara fisik, gaya bicara atau pemikiran) maka orang lain akan menganggap bahwa kita juga sama menariknya dengan teman kita itu.

Sampai di sini kita tentu paham bagaimana memanfaatkan hukum asosiasi ini.

Jadi, bila kita bermaksud menarik perhatian seseorang, maka kita harus datang dengan membawa orang lain yang juga menarik. Sekali lagi, 'menarik' di sini bisa berarti luas.

Namun, sebelum salah langka, kita juga perlu tahu bagaimana memanfaatkan hukum perbandingan.

Hukum Asosiasi dan Hukum Perbandingan
Hukum Perbandingan (image: klik77.blogspot.com)


Hukum perbandingan adalah hukum yang membandingkan kita dengan orang di sekitar kita. Jadi jika kita kebetulan duduk di samping seseorang yang lebih ganteng, misalnya, maka otomatis kita akan terlihat lebih 'tidak ganteng'. H-hee... Begitu pula jika orang yang di dekat kita adalah seseorang yang smart, maka kita akan terlihat lebih kolot dibandingkan orang tersebut.

Nah, jadi bingung dong kalau ingin mengaplikasikan kedua hukum ini?

H-hee, tidak juga. Sebab... ini nih nilai plus-nya:

Hukum perbandingan ini tidak berlaku untuk lintas gender. Maksudnya, hukum perbandingan ini akan berubah menjadi hukum asosiasi jika orang yang ada di dekat kita (atau orang yang kita ajak) dari jenis kelamin yang berbeda dari kita.

Maka, jika saya (laki-laki) terlihat bersama dengan seorang perempuan yang menarik, maka orang akan mengasumsikan bahwa saya sama menariknya dengan perempuan tersebut, bukan malah memperbandingkannya.

***

Jadi untuk kesimpulan gampangnya, jika kita ingin menarik perhatian seseorang, maka:
  • Dekati ia seorang diri, atau
  • Ajak seseorang yang lebih menarik dari jenis kelamin yang berbeda dengan kita.

Dan, semoga bermanfaat.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Wednesday, February 26, 2014

Tuesday, February 25, 2014

ujungkelingking - Tips Mendapatkan Teman dan Penjelasannya Secara Ilmiah (Bag. 1)


Pertemanan, persahabatan, relasi atau koneksi adalah hal yang sangat penting dalam kehidupan bersosial kita. Bahkan, poin ini masuk ke dalam urutan kedua dari empat faktor yang dibutuhkan untuk sukses. Tanpa adanya "campur tangan" orang lain tidak mungkin kita bisa menjadi seperti kita yang sekarang ini. Karena itulah orang yang memiliki kepribadian introvert lebih sulit untuk berkembang daripada mereka yang terbuka terhadap siapa saja.

Dan memang, sikap orang lain terhadap kita seringkali dipengaruhi bagaimana kita bersikap terhadap orang lain. Seseorang yang terlalu menutup diri membuat orang lain kesulitan berkomunikasi dengannya. Sehingga orang lain -secara luas- akan menutup diri juga darinya. Begitu pula dengan mereka yang berkepribadian supel, orang-orang lebih mudah berinteraksi dengannya karena ia gampang berkomunikasi dengan orang lain.

Mencari sahabat ataupun relasi di dunia nyata jelas tidak semudah mencari teman di dunia maya. Di dunia maya kita hanya tinggal like statusnya, add friend atau follow akun sosialnya sudah menjadikan dia "resmi" menjadi teman kita. Tapi di dunia nyata tidak bisa begitu.

Ketika kemudian kita dihadapkan pada situasi (tempat tinggal, lingkungan kerja, dsb.) yang baru, hal ini menuntut kita untuk segera memulai menjalin pertemanan.

Bagi mereka yang saya sebut supel di atas tentu bukan menjadi masalah berteman dengan orang-orang baru. Tipe ini memiliki tingkat adaptasi yang tinggi. Akan tetapi bagaimana dengan mereka yang asalnya pendiam, yang untuk memulai sebuah komunikasi awal saja susahnya bukan main?

Nah, berikut ini ada beberapa tips yang bisa dipraktekkan -oleh siapa saja- untuk mendapatkan teman atau sahabat yang solid.


Biarkan dia membantu kita


Terdengar aneh, ya?

Sebuah fakta menjelaskan bahwa ketika kita merasa tertarik dengan seseorang, maka kita akan dengan senang hati rela membantu dan menolongnya. Betul?

Biarkan dia membantu
Image: aigogomy.blogspot.com

Tapi lucunya, teori ini ternyata bisa juga dipakai untuk kebalikannya. Bahwa ketika kita dengan senang hati dan ikhlas menolong seseorang -apalagi kalau kemudian orang tersebut mengucapkan terima kasihnya kepada kita- maka akan timbul perasaan senang, yang ini saya sebut dengan ketertarikan secara emosional (baca: rasa suka) terhadap orang tersebut.

Maka ini adalah salah satu tipsnya. Biarkan dia dengan senang hati sedikit membantu kita. Namun jangan sampai ada paksaan atau permintaan yang berlebihan di sini. Setelah itu dengan tulus ucapkan 'terima kasih'.

Dan, yap! Kita sudah punya "follower" di dunia nyata.

***

Karena mungkin tips-nya rada banyak, jadi saya singkat-singkat saja, ya? In sya Allah akan saya sambung pada postingan-postingan berikutnya. Sementara ini segini aja deh, saya mau nyangkul dulu!

Semoga bermanfaat.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Tuesday, February 25, 2014

Saturday, February 22, 2014

ujungkelingking - Cara Mudah Berhusnudzan Kepada Allah


Bagi seorang fotografer, angle adalah sesuatu yang sangat penting. Sebuah momen yang bagus -meminjam istilahnya mas Rawins- tidak akan bisa bercerita banyak bila cara pengambilan sudut gambarnya salah. Obyek bidikan yang indah pun akan gagal terekspos jika kita salah mengambil sudut bidik. Akhirnya hasil jepretan kita hanya akan biasa-biasa saja. Tanpa greget, tanpa nilai yang mampu membedakannya dengan yang lain. 

Tapi... di sini saya tidak akan berbicara tentang fotografi atau teknik pengambilan gambar yang baik. Saya justru akan berbicara tentang musibah, bencana, kesialan, kegagalan, dan teman-temannya yang lain.


Musibah, kemurkaan Tuhan?


Sejak awal mengikuti perkembangan kondisi Kelud hingga sekarang, di media-media massa tidak pernah saya dengar menyebutkan bahwa bencana ini adalah rahmat dan bentuk kasih-sayang dari Allah. Yang ada adalah bahwa musibah ini merupakan peringatan dari-Nya. Atau yang agak ekstrem malah muncul pertanyaan retoris: Apakah Tuhan telah murka?

Seolah-olah mudah sekali kita menvonis Allah itu pemurka dan pemarah. Sedikit diberi musibah, menganggap Allah telah marah. Sedikit disentuh bencana, mengartikan bahwa Dia telah murka. Padahal kita tahu tidak ada sifat-Nya atau di antara asma'ul husna yang 99 itu menunjukkan bahwa Allah Maha Pemurka atau Maha Pemarah. Yang ada adalah ar-Rahmaan (Maha Pengasih), ar-Rahiim (Maha Penyayang), al-Muhaimin (Maha Memelihara), al-Mu'min (Maha Pemberi rasa aman), al-Wahhab (Maha Pemberi Karunia), al-Lathiif (Maha Lemah Lembut), dsb.

Ini berarti, setiap apapun yang terjadi pada diri kita bukan merupakan murka-Nya, tapi bisa jadi merupakan rahmat-Nya. Tujuannya jelas, agar kita semakin mendekatkan diri, ikhlas, dan tunduk kepada-Nya.

Pada khutbah Jum'at kemarin, sang Khatib mengatakan bahwa ada 2 cara Allah untuk menurunkan rahmat-Nya kepada manusia:

[Satu] Melalui nikmat yang dikaruniakan kepada kita

Namun, berdasarkan banyak contoh, cara ini seringkali tidak efektif untuk menyadarkan manusia akan eksistensi Tuhannya. Banyak cerita kehidupan yang memberikan fakta tentang ini. Betapa dulunya ketika miskin, tidak banyak bermaksiat kepada Allah. Namun ketika diberikan sedikit kekayaan, mulai berulah dan bertingkah.

[Dua] Rahmat Allah melalui musibah dan bencana

Cerita di sekitar kita juga banyak mengajarkan tentang hal ini. Bahwa kesukaran, kesusahan, kegagalan lebih banyak menyebabkan kita menyadari kelemahan diri. Sehingga akhirnya kita menyadari ada Dzat yang jauh lebih besar dan lebih berkuasa dari diri ini. Kita kemudian mulai mau bersujud, berdoa, menangis dan memohon.

Maka secara sederhana, sebuah musibah hakikatnya adalah rahmat Allah yang bungkusnya amat-sangat tidak enak. Tugas kita adalah membuka bungkus itu agar kita tahu rahmat apa yang telah disiapkan oleh-Nya.


Husnudzan adalah kuncinya


Menyadari (baca: meyakini) bahwa ada rahmat Allah yang tersembunyi di balik musibah menyebabkan kita senantiasa sabar dan tegar menghadapinya. Ada cara lebih mudah agar kita selalu berbaik sangka kepada Allah, yaitu dengan menemukan "kata kuncinya". Kata kunci ini pada setiap orang mungkin akan berbeda-beda. Tugas kita ketika ditimpa musibah adalah segera menemukan kata kunci tersebut.

Kata kunci saya sendiri adalah "Allah yang mengijinkan hal ini terjadi. Ada rahmat yang muncul setelah ini."

Ketika ditimpa suatu kemalangan, tanamkan kata kunci itu ke dalam hati agar tidak ada celah bagi setan untuk menanamkan su'udzan kepada Allah. Setelah itu ikuti dengan peningkatan trafik ibadah.

Dan saya doakan, pada setiap musibah yang kita alami, kita dapat menentukan angle yang tepat sehingga Anda dapat dengan mudah mendapatkan rahmat yang dijanjikan-Nya:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لأزِيدَنَّكُمْ

"... Sungguh, jika kamu bersyukur, pasti akan Aku tambah (nikmat-Ku) kepadamu..."
[Ibrahim: 7]

*diringkas dari khutbah Jum'at kemarin, 21 Pebruari 2014

Menentukan sudut gambar
Depan atau belakang: Tentukan angle yang tepat

Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Saturday, February 22, 2014

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!