Saturday, January 4, 2014

ujungkelingking - Masih Terlalu Pagi Untuk Menyerah


Menarik membaca postingan mbak Ila Rizky (ilarizky.blogspot.com) yang tertanggal 2 Januari kemarin. Artikel ini-pun adalah hasil pengembangan dari apa yang tertulis di blog tersebut.

Ada satu poin yang luput dari pemikiran saya. Tentang sebuah kisah lama, yang sudah sering kita dengar. Namun -selalu saja- pelajarannya terlewatkan begitu saja. Sebuah kisah tentang perjuangan dan usaha keras.

Tentu masih jelas dalam ingatan kita semua kisah tentang Hajar dan putranya, Ismail. Ketika -khalilullah- Ibrahim alaihissalam harus meninggalkan keduanya di sebuah gurun pasir yang tandus dan gersang. Ismail yang masih balita itu kemudian merengek-rengek karena kehausan.

Hajar yang sudah kehabisan air minum kebingungan mencari sumber air. Maka berlarilah ia ke arah bukit Shafa. Namun yang dicari tidak ditemukannya.

Saat itu Hajar melihat ke arah bukit Marwah. Di atas bukit itu terlihat ada bayangan air. Mungkin di sana ada, pikirnya. Maka berlarilah ia ke atas bukit Marwah. Namun yang dicari tidak juga ditemukannya.

Shafa (kotasejarah.blogspot.com)

Dari atas Marwah, terlihat kalau di atas bukit Shafa seperti terlihat ada bayangan air juga, maka berlarilah Hajar ke atas bukit Shafa kembali. Dan masih tidak ditemukannya sumber air itu. Kejadian ini berlangsung sampai 7 kali. Dari literatur yang saya temui, jarak Shafa dan Marwah sekitar 400-an meter. Jadi bila ditarik garis lurus, Hajar sudah berlari sejauh 2,8 Km! Jarak yang cukup jauh bagi seorang perempuan seperti Hajar, di padang gersang pula. Lelah dan putus asa mulai menghinggapi Hajar.

Akan tetapi Allah berkehendak lain. Di suatu tempat, tiba-tiba Hajar mendengar suara yang menyuruhnya berhenti. Rupanya itu adalah suara malaikat yang kemudian menghentakkan kakinya ke tanah (riwayat lain, mengais dengan kepakan sayapnya). Dari situlah kemudian memancar sumber mata air, yang kemudian dinamakan dengan mata air Zamzam.

*Saya sendiri belum pernah tahu bagaimana rasanya air Zamzam ini, tapi kalau boleh berharap, saya berdoa agar saya dan keluarga diberi kesempatan untuk meminum air Zamzam ini... tapi di tempat asalnya sana.

Lalu apa yang terlewatkan oleh kita?


Selama ini kita sering mendengar slogan siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil. Slogan ini tentu tidak salah, namun keberhasilan di sini jangan langsung diterjemahkan "karena usaha kita".

Kisah di atas menunjukkan bahwa usaha yang dilakukan Hajar tidak menghasilkan apa-apa. Upayanya tidak ada artinya. Namun itu bukan berarti membolehkan kita berputus asa.

Karena itu pesan moralnya yang bisa diambil adalah,

Bisa jadi usaha yang kita rintis selama ini sia-sia dan tidak membuahkan hasil sama sekali, namun kesabaran dan kesungguhan atas kerja keras itulah yang akan dinilai oleh Dia yang Maha Memperhitungkan (Al-Haasiib). Dan pasti Dia akan memberikan ganti yang lebih baik, dengan atau tanpa kita menyadarinya.

Jadi, tetaplah bekerja keras dan pantang putus asa. Jika perasaan itu muncul, tanamkan pada diri kita bahwa: masih terlalu pagi untuk menyerah.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Saturday, January 04, 2014

Thursday, January 2, 2014

ujungkelingking - Baca: Ber-enam Satu Tujuan


Saya ingat tahun-tahun pertama saya di pesantren. Seorang kakak kelas mengajak kami untuk naik gunung. Tujuannya kali itu adalah Gunung Penanggungan, yang kemudian menjadi destinasi favorit saya.

Ketika ditawari mau ikut atau tidak, saat itu saya menjawab bahwa saya tidak pernah sama sekali mendaki gunung. Kakak kelas saya malah mengatakan, "Lah makanya kamu ikut, biar pernah."

Sejujurnya saya tidak tahu apa-apa tentang pendakian, bagaimana persiapannya, dsb. Apalagi rencana ini sangat mendadak. Hal ini nantinya justru jadi kebiasaan saya juga (apa-apa gak pake rencana, spontanitas). Antara takut dan penasaran, akhirnya saya-pun jadi ikut rombongan ini.

Rombongan yang ikut berjumlah enam orang termasuk kakak kelas saya sebagai pemandu. Nah, kalau ada istilah plesetan nekad traveling, maka yang kami lakukan ini bisa dikatakan nekad climbing. Bagaimana tidak, dari enam orang ini tidak ada yang memakai perlengkapan pendakian. Kami mendaki gunung cuma pakai sandal jepit, tanpa jaket, satu tas samping yang isinya radio sama sebuah selimut (kalau rekan-rekan ingat, selimut khas rumah sakit yang warnanya strip hitam-putih), plus nasi bungkus yang fresh from the dandang.

Tambahan: tanpa tenda! Jika beruntung, kami bisa bermalam di sebuah goa kecil di atas yang hanya cukup untuk tidur 6 orang dewasa. Jika tidak, barangkali kami akan semalaman bergadang.

Singkatnya, selama berlelah-lelah selama kurang lebih 3 jam-an, kami pun sampai di puncak menjelang Maghrib. Sebuah perjalanan yang sangat panjang bagi saya, yang akan terbayar ketika sudah tiba di puncak.

Bagi yang sudah pernah mendaki gunung tentu tak perlu saya jelaskan bagaimana keadaan malam di atas dengan langit cerah penuh bintang dan kerlap-kerlip lampu perkampungan di bawah.

Tak perlu juga saya ceritakan bagaimana sejuknya semilirnya angin pagi hari sambil menikmati hangatnya matahari terbit.

Sebuah kombinasi sempurna yang bikin setiap orang ingin mengulang petualangan ini.

***

Pertanyaannya, kenapa kemudian cerita ini saya jadikan tulisan pembuka di 2014?


Jawabannya ada pada pelajarannya.

Dalam hidup, setiap kita pasti memiliki kekhawatiran-kekhawatiran seperti yang saya alami. Kekhawatiran terhadap sesuatu yang baru, yang asing, dan yang kita belum pernah sama sekali bersentuhan dengannya. Kekhawatiran itu kemudian bisa berubah menjadi 'ketakutan' yang membuat langkah kita terhenti. Namun bisa juga menjadi dorongan 'penasaran' yang membuat kita mendobrak batasan-batasan diri.

Jelasnya, jika konteksnya adalah hal-hal yang sifatnya positif, maka seharusnya bukan ketakutan yang muncul. Sebaliknya, jika hal tersebut adalah sesuatu yang negatif, maka sebaiknya kita tidak menjadi penasaran terhadapnya. Karena bagaimanapun, jika terlalu sering kita bermain-main di pinggir jurang akan ada masanya kita terjatuh.

Maka ketika kita dilanda sebuah kekhawatiran, tentukanlah, hal tersebut termasuk hal yang positif atau tidak. Setelah itu kita bisa mulai menentukan akan melakukan apa.

Tulisan ini bukan mencoba untuk menggurui siapapun. Saya hanya mencoba menuliskan "perintah-perintah" ke dalam program yang tersemat di otak saya. Dengan ini, mudah-mudahan saya bisa menerapkannya.

Semoga.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Thursday, January 02, 2014

Tuesday, December 31, 2013

ujungkelingking - Akhir tahun sudah dalam hitungan jam saja. Bagi banyak orang, akhir tahun adalah sebuah momen yang cukup spesial. Bisa karena pada hari itu kantor diliburkan, bisa jadi karena waktu yang tepat untuk mengajak keluarga jalan-jalan sambil menyaksikan keramaian kota. Namun bisa pula karena ini adalah waktu yang tepat untuk me-review apa-apa saja yang telah kita kerjakan di bulan-bulan yang lalu. Setelah itu kita mulai mempersiapkan diri (baca: prioritas) yang akan kita kerjakan di tahun berikutnya.

Dari catatan-catatan yang ada lalu timbul 2 pertanyaan. 

Satu, apakah merumuskan sebuah resolusi baru harus dilakukan di akhir tahun? 

Jawabannya -tentu saja- tidak harus. Sebab bagi saya, me-review diri hendaklah tidak hanya dilakukan setahun sekali. Sebab jika kita hanya melakukannya setahun sekali, ketika kita sadar ada hal yang salah yang kita lakukan, akan cukup terlambat untuk memperbaikinya.

Namun setahun sekali itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Dan akhir tahun ini menjadi menarik untuk dijadikan sebagai “penutup” agenda-agenda kita yang telah lalu. Karena dengan bergantinya kalender di rumah, kita-pun berharap berganti pula hal-hal yang kurang baik saat kemarin menjadi hal-hal yang lebih baik.

Manusia yang cerdas itu bukanlah mereka yang tidak memiliki kesalahan masa lalu. Namun mereka-lah yang mampu menjadikan diri lebih baik adalah yang disebut cerdas. 

Pertanyaan kedua, seberapa pentingkah "resolusi" itu? 

Jika yang ditanyakan adalah penting-tidaknya, maka sebagai kerangka-perencanaan dari sebuah bangunan yang akan kita buat resolusi ini penting adanya. Sebab tanpa kerangka dan perencanaan yang jelas, maka kita tidak akan punya tujuan. Kalau tujuan saja tidak punya, lalu kapan sampainya?

Namun, dibalik itu ada satu komponen penting untuk membuat sebuah resolusi menjadi tetap penting. Tanpa komponen ini, resolusi yang ada hanyalah sampah di otak kita. Komponen tersebut saya menyebutnya, revolusi.

Yang lain mungkin punya sebutan berbeda. Ada yang menyebutnya sebuah gebrakan, yang lain menamainya action, ada pula yang memanggilnya usaha atau upaya. Intinya sama, bahwa rencana besar tanpa pelaksanaan adalah percuma. 

Bukankah cara terbaik untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita adalah dengan segera bangun dari tidur?
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Tuesday, December 31, 2013

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!