ujungkelingking - Menindaklanjuti tulisan sebelumnya bahwa adab (baca: akhlak yang baik) menempati posisi penting dalam Islam. Sebagaimana kita ketahui dalam banyak riwayat, Rasulullah kerap mempersandingkan antara "bertakwa kepada Allah" dengan "berakhlak yang baik". Karena itu jika takwa kepada Allah menyebabkan cinta Allah kepada kita, maka akhlak yang baik menyebabkan kecintaan makhluk kepada kita.
Yang menjadi sandaran dalam postingan kali ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah yang berbunyi,
"Wahai Abu Hurairah! Hendaknya engkau berakhlak yang baik." Lalu Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bertanya, "Apa itu akhlak yang baik, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "[1] Engkau menyambung silaturahim terhadap orang yang memutuskannya darimu, [2] memaafkan orang yang mendhalimimu, dan [3] memberi orang yang tidak mau memberi kepadamu."[Al-Baihaqi]
1. Menyambung tali silaturahim
Silaturahim berasal dari 2 kata, yaitu "silah" yang bermakna "menyambung" dan "rahim" yang berarti "kasih sayang". Nah, dari kata silah (menyambung) inilah ada pengertian yang muncul bahwa 'tidak mungkin sesuatu itu disambung kalau sebelumnya tidak putus'. Ada yang putus - baru disambung, logikanya seperti itu. Maka makna silaturahim ini menjadi bukan sekedar acara saling mengunjungi atau bertegur sapa, tapi lebih kepada menghubungkan kembali pihak-pihak atau keluarga yang tadinya berselisih, putus hubungan dan tidak pernah lagi berinteraksi.
Sebuah hadits dari Rasulullah yang menjadi penting untuk disimak,
Sebuah hadits dari Rasulullah yang menjadi penting untuk disimak,
"Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus."
[Diriwayatkan oleh Bukhari]
Dan karena berkenaan dengan keluarga/kerabat yang sebelumnya berselisih, maka dalam silaturahim ini dibutuhkan mental yang besar dan dada yang lapang untuk dapat memaafkan lebih dahulu.
2. Memaafkan
Memaafkan termasuk di dalam akhlak-akhlak yang baik. Memaafkan, menuntut hati yang besar, apalagi ketika kita dalam posisi mampu dan berkesempatan untuk membalas.
Maksud perkataan "tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik" adalah membalasnya dengan hal yang baik. Salah satu caranya adalah dengan suka memberi bantuan.
Memaafkan termasuk di dalam akhlak-akhlak yang baik. Memaafkan, menuntut hati yang besar, apalagi ketika kita dalam posisi mampu dan berkesempatan untuk membalas.
وَلا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."
[An-Nuur: 22]
وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ
"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia."
[Fushilat: 34]
Maksud perkataan "tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik" adalah membalasnya dengan hal yang baik. Salah satu caranya adalah dengan suka memberi bantuan.
3. Suka memberi
Ayat di atas cukup sebagai dasar kenapa kita harus suka memberi. Memberi, yang dalam konteks artikel ini adalah kepada orang pelit terhadap kita tentu membutuhkan keikhlasan yang amat besar. Dan tidak ada yang memiliki keikhlasan yang besar bila tidak memiliki keimanan yang besar. Rasulullah shallallahu alaihi wa salaam bersabda,
Imam an-Nawawi rahimahumullah menjelaskan, "Yaitu bukti kebenaran imannya. Karena itulah sedekah disebut shadaqah, karena merupakan bukti dari shidqu imanihi (benar keimanannya)."
Tentunya masih banyak lagi contoh-contoh bagaimana akhlak yang baik itu. Semuanya sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa salaam.
Salam.
"Bukankah tidak ada balasan bagi amal yang baik melainkan balasan yang baik juga?"
[Ar-Rahmaan: 60]
Ayat di atas cukup sebagai dasar kenapa kita harus suka memberi. Memberi, yang dalam konteks artikel ini adalah kepada orang pelit terhadap kita tentu membutuhkan keikhlasan yang amat besar. Dan tidak ada yang memiliki keikhlasan yang besar bila tidak memiliki keimanan yang besar. Rasulullah shallallahu alaihi wa salaam bersabda,
"Sedekah adalah bukti."
[Muslim: 223]
Imam an-Nawawi rahimahumullah menjelaskan, "Yaitu bukti kebenaran imannya. Karena itulah sedekah disebut shadaqah, karena merupakan bukti dari shidqu imanihi (benar keimanannya)."
***
Tentunya masih banyak lagi contoh-contoh bagaimana akhlak yang baik itu. Semuanya sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa salaam.
"Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik..."
[Al-Ahzab: 21]
Salam.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Tuesday, July 16, 2013

