Tuesday, July 16, 2013

ujungkelingking - Menindaklanjuti tulisan sebelumnya bahwa adab (baca: akhlak yang baik) menempati posisi penting dalam Islam. Sebagaimana kita ketahui dalam banyak riwayat, Rasulullah kerap mempersandingkan antara "bertakwa kepada Allah" dengan "berakhlak yang baik". Karena itu jika takwa kepada Allah menyebabkan cinta Allah kepada kita, maka akhlak yang baik menyebabkan kecintaan makhluk kepada kita.

Yang menjadi sandaran dalam postingan kali ini adalah sebuah hadits yang diriwayatkan dari Abu Hurairah yang berbunyi,

"Wahai Abu Hurairah! Hendaknya engkau berakhlak yang baik." Lalu Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bertanya, "Apa itu akhlak yang baik, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "[1] Engkau menyambung silaturahim terhadap orang yang memutuskannya darimu, [2] memaafkan orang yang mendhalimimu, dan [3] memberi orang yang tidak mau memberi kepadamu."

[Al-Baihaqi]

1. Menyambung tali silaturahim

Silaturahim berasal dari 2 kata, yaitu "silah" yang bermakna "menyambung" dan "rahim" yang berarti "kasih sayang". Nah, dari kata silah (menyambung) inilah ada pengertian yang muncul bahwa 'tidak mungkin sesuatu itu disambung kalau sebelumnya tidak putus'. Ada yang putus - baru disambung, logikanya seperti itu. Maka makna silaturahim ini menjadi bukan sekedar acara saling mengunjungi atau bertegur sapa, tapi lebih kepada menghubungkan kembali pihak-pihak atau keluarga yang tadinya berselisih, putus hubungan dan tidak pernah lagi berinteraksi.

Sebuah hadits dari Rasulullah yang menjadi penting untuk disimak,
"Yang disebut bersilaturahim itu bukanlah seseorang yang membalas kunjungan atau pemberian, melainkan bersilaturahmi itu ialah menyambungkan apa yang telah putus."

[Diriwayatkan oleh Bukhari]

Dan karena berkenaan dengan keluarga/kerabat yang sebelumnya berselisih, maka dalam silaturahim ini dibutuhkan mental yang besar dan dada yang lapang untuk dapat memaafkan lebih dahulu.


2. Memaafkan

Memaafkan termasuk di dalam akhlak-akhlak yang baik. Memaafkan, menuntut hati yang besar, apalagi ketika kita dalam posisi mampu dan berkesempatan untuk membalas.

وَلا يَأْتَلِ أُولُو الْفَضْلِ مِنْكُمْ وَالسَّعَةِ أَنْ يُؤْتُوا أُولِي الْقُرْبَى وَالْمَسَاكِينَ وَالْمُهَاجِرِينَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَلْيَعْفُوا وَلْيَصْفَحُوا أَلا تُحِبُّونَ أَنْ يَغْفِرَ اللَّهُ لَكُمْ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ


"Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat, orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

[An-Nuur: 22]

 وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia."

[Fushilat: 34]

Maksud perkataan "tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik" adalah membalasnya dengan hal yang baik. Salah satu caranya adalah dengan suka memberi bantuan.


3. Suka memberi

"Bukankah tidak ada balasan bagi amal yang baik melainkan balasan yang baik juga?"

[Ar-Rahmaan: 60]

Ayat di atas cukup sebagai dasar kenapa kita harus suka memberi. Memberi, yang dalam konteks artikel ini adalah kepada orang pelit terhadap kita tentu membutuhkan keikhlasan yang amat besar. Dan tidak ada yang memiliki keikhlasan yang besar bila tidak memiliki keimanan yang besar. Rasulullah shallallahu alaihi wa salaam bersabda,
"Sedekah adalah bukti."

[Muslim: 223]

Imam an-Nawawi rahimahumullah menjelaskan, "Yaitu bukti kebenaran imannya. Karena itulah sedekah disebut shadaqah, karena merupakan bukti dari shidqu imanihi (benar keimanannya)."

***

Tentunya masih banyak lagi contoh-contoh bagaimana akhlak yang baik itu. Semuanya sudah dicontohkan oleh Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa salaam.

"Sungguh telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik..."

[Al-Ahzab: 21]

Salam.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Tuesday, July 16, 2013

Monday, July 15, 2013

ujungkelingking - Sekedar menyambung lidah dan agar saya tidak lupa... 

Dalam kehidupan masyarakat Indonesia, kita mengenal ada tiga "angka 17 ajaib". Tiga angka 17 yang saya maksudkan itu adalah 17 Agustus; 17 rakaat; dan 17 Ramadhan.

Angka 17 yang pertama adalah 17 Agustus, merupakan hari yang secara historis, paling bersejarah bagi bangsa Indonesia. Hari dimana negara ini memproklamirkan kemerdekaannya dari penjajahan. Hari ini juga yang menjadi titik balik perjuangan rakyat di seluruh nusantara karena menyadari bahwa mereka kini adalah sebuah satu-kesatuan.

Yang kedua adalah 17 rakaat, atau sholat 5 waktu yang merupakan refleksi dari religiusnya para pejuang dan pemimpin perjuangan kita dahulu. Sholat ini juga adalah senjata paling ampuh untuk melawan segala bentuk kemungkaran.

Angka 17 yang terakhir adalah 17 Ramadhan yang oleh sebagian kalangan diyakini sebagai hari dimana Al-Qur'anu 'l-Kariim diturunkan. Wahyu yang merupakan petunjuk bagi kita umat Muslim seluruhnya. Pada akhirnya kemudian, setiap tanggal 17 Ramadhan kita selalu mengadakan acara peringatan "Malam Nuzulu 'l-Qur'an". 


Benarkah Al-Qur'an diturunkan pada 17 Ramadhan?

Sebenarnya tidak jelas sumber awal yang menyatakan bahwa Al-Qur'an diturunkan pada tanggal 17 Ramadhan. Malah, sebuah fakta yang kita tahu adalah bahwa diturunkannya Al-Qur'an adalah pada malam lailatu 'l-Qadr.

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada malam kemuliaan (lailatu 'l-qadr).

[Al-Qadr: 1]

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةٍ مُبَارَكَةٍ إِنَّا كُنَّا مُنْذِرِينَ 

Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Qur'an) pada suatu malam yang diberkahi dan sesungguhnya Kami-lah yang memberi peringatan.

[Ad-Dukhaan: 3]


Kapan terjadinya malam lailatu 'l-Qadr itu?

Mengenai kapan pastinya 'malam berkah' ini tidak ada yang tahu. Pengetahuan tentang hal itu adalah mutlak milik Allah subhanahu wa ta'ala. Allah memang merahasiakannya, yang salah satu faedahnya adalah agar kita terus menerus beribadah dengan ikhlas, bukan hanya pada malam itu saja.

Namun, meski tidak ada yang mengetahuinya dengan pasti, kita bisa melihat dari indikasi-indikasi yang diberikan oleh Rasulullah,

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ 

Carilah lailatu 'l-Qadr itu pada sepuluh hari yang akhir di bulan Ramadhan.

Sepuluh hari yang akhir, itu berarti sekitar tanggal 21-29 Ramadhan. Ini membuktikan bahwa tanggal 17 Ramadhan tidak mungkin bisa dikatakan sebagai malam diturunkannya Al-Qur'an.


Al-Qur'an diturunkan dua kali

Kita tahu bahwa Al-Qur'an diturunkan secara berangsur-angsur. Dari sini ada kemungkinan orang-orang beranggapan bahwa bisa saja ada satu ayat atau surah di dalam Al-Qur'an yang diturunkan bertepatan dengan lailatu 'l-Qadr.

Sebenarnya, Al-Qur'an turun dalam 2 tahapan.

Pertama, turun secara lengkap-sekaligus, dari Lauh 'l-Mahfudz ke langit dunia. Ini yang terjadi pada malam lailatu 'l-Qadr.

Selanjutnya, dari langit dunia turun kepada Rasulullah secara berangsur-angsur selama + 22 tahun.

Ibn Abbas radhiallahu 'anhu mengatakan, "Qur'an sekaligus diturunkan ke langit dunia pada malam lailatu 'l-Qadr, kemudian setelah itu ia diturunkan selama dua puluh tahun". Lalu beliau membacakan,

وَلا يَأْتُونَكَ بِمَثَلٍ إِلا جِئْنَاكَ بِالْحَقِّ وَأَحْسَنَ تَفْسِيرًا

Tidaklah orang-orang kafir itu datang kepadamu (membawa) sesuatu yang ganjil, melainkan Kami datangkan kepadamu suatu yang benar dan yang paling baik penjelasannya.

[Al-Furqaan: 33]

وَقُرْآنًا فَرَقْنَاهُ لِتَقْرَأَهُ عَلَى النَّاسِ عَلَى مُكْثٍ وَنَزَّلْنَاهُ تَنْزِيلا

Dan Al-Qur'an itu telah Kami turunkan dengan berangsur-angsur agar kamu membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya bagian demi bagian.

[Al-Israa: 106]

Wallahu a'lam
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Monday, July 15, 2013

Friday, July 12, 2013

ujungkelingking - Sebuah kalimat yang cukup menarik, berbunyi begini,


Kalimat ini adalah merupakan gabungan dari perkataan ulama'-ulama' besar. Dan kalau sudah seorang ulama' yang mengatakannya, maka pastilah memiliki makna yang sangat luas.


Ilmu mendahului amal

Ungkapan ini diambil dari perkataan terkenal imam Al-Bukhari. Beliau mengatakan, "al-ilmu qabla 'l-qaul wa 'l-'amali". Artinya bahwa sebelum kita berkata dan berbuat, yang lebih dahulu harus kita miliki adalah ilmu tentang hal tersebut. Inilah yang kemudian menjadikan ilmu sebagai syarat benarnya suatu perkataan atau perbuatan. Karena itu suatu perkataan atau perbuatan yang tidak didasari dengan ilmu hanya akan dianggap sebagai 'omdo', omong-kosong doang.

Dan agama ini telah menjelaskan bahwa perkara sepele yang dilakukan dengan ilmu, lebih bernilai daripada amalan besar yang dilakukan hanya karena taqlid atau ikut-ikutan semata. Siapa yang melakukan suatu amalan tanpa ilmu (tidak ada dasarnya) maka amalan tersebut tertolak, begitu bunyi sebuah hadits.

Bukankah ayat pertama yang diturunkan kepada kita berbunyi, "iqra'"?
Bukankah Allah sudah menjanjikan akan meninggikan derajat orang-orang yang berilmu?
Bukankah Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam juga pernah bersabda bahwa yang ingin mendapatkan dunia harus dengan ilmu, dan yang ingin mendapatkan akhirat pun harus dengan ilmu?

*Seseorang itu disebut berilmu karena dia terus belajar. Saat dia berhenti belajar (karena sudah merasa berilmu), maka mulailah ia bodoh... 


Adab mendahului ilmu

Banyak contoh di sekitar kita, orang-orang yang tadinya seorang penuntut ilmu, namun pada akhirnya dia tidak mendapatkan apa-apa dari kesungguhannya mencari ilmu. Ilmu yang telah didapatnya itu tidak mampu diamalkannya dan tidak sanggup disebarkannya. Seolah-olah hanya tersimpan di otaknya untuk kemudian dibiarkan "menguap" seiring berjalannya waktu.

Apa yang terjadi? Apakah dia tadinya kurang bersungguh-sungguh? Ternyata bukan. Mereka hanya salah dalam melalui prosesnya, yaitu mempelajari ilmu sebelum belajar tentang adab-adabnya.

Sama seperti ilmu yang menjadi syarat atas benarnya sebuah amal, maka adab adalah syarat atas berkahnya sebuah ilmu. Islam menempatkan adab ini ke dalam posisi yang penting. Bukankah Allah sendiri memuji nabi Muhammad karena adab beliau? Lalu kenapa kita tidak berusaha turut memperbaiki adab kita?

Dan di dalam menuntut ilmu, diantara adab-adabnya adalah [1] niat yang ikhlas dan do'a yang sungguh-sungguh, [2] upaya yang serius dan istiqomah, [3] menjauhi kemaksiatan dan kesombongan, lalu [4] mengamalkan untuk kemudian menyebarluaskannya.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah pernah ditanya tentang sesuatu yang paling banyak memasukkan manusia ke dalam surga. "Beliau Shallallahu 'alaihi wa sallam menjawab: "Takwa kepada Allah dan akhlak yang baik."

[at-Tirmidzi dan al-Hakim]

Mengenai bagaimana cara kita berakhlaq yang baik itu, mudah-mudahan saya diberi kesempatan untuk menuliskannya di artikel yang lain.

***

"Saya hanyalah menyampaikan. Tidak ada ketentuan bahwa yang menyampaikan lebih utama dari yang mendengar. Yang beruntung adalah siapa yang mengamalkan." Hasbunallah wa ni'ma 'l-wakiil...
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Friday, July 12, 2013

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!