Wednesday, September 25, 2013

ujungkelingking - Baru saja saya selesai melaksanakan sholat Ashar di masjid sebelah, saya melihat sebuah hape berbungkus pouch warna kulit tergeletak di bawah salah satu tiang masjid.

Saat itu kondisi masjid memang relatif kosong, maklum sholat Ashar sudah selesai dari tadi. Sambil mengira-ngira siapa pemiliknya, saya coba mengamati keadaan sekitar. Agak jauh di depan saya ada tiga orang yang sedang sholat berjamaah. Di pojok sebelah sana, ada dua orang yang sedang berdiskusi (belakangan saya baru tahu kalau mereka mahasiswa di situ). Di bawah tiang yang lain ada seseorang yang sedang tidur dengan lelapnya. Sementara beberapa mahasiswa lain sedang bercengkrama di luar masjid.

Agak ragu-ragu saya mendekati hape tersebut. Tapi saya yakin pemilik hape ini tidak ada di antara orang-orang yang ada di sini.

Sebenarnya, saya ingin memberikan hape tersebut langsung kepada ta'mir masjid. Namun keberadaan beliaunya saya juga tidak tahu. Akhirnya dengan memantapkan hati, saya mendekati dua orang mahasiswa yang sedang asyik berdiskusi dari tadi. Saya katakan kepadanya bahwa saya menemukan sebuah hape dan minta tolong untuk menyerahkan hape tersebut kepada ta'mir masjid, sampai nanti ada pemilik yang sebenarnya. Setelah itu saya pun bergegas kembali ke kantor.

Ketika sedang menuju kantor, saya berpapasan dengan seorang teman dari induk perusahaan dimana saya bekerja. Pak Subur, namanya. Meski begitu posturnya sama sekali tidak subur (gemuk), kok. Pak Subur ini pernah menemani saya sewaktu ada seminar perpajakan di Jakarta. Karena nampaknya beliau sedang tergesa-gesa, saya pun tidak banyak bertanya.

Mungkin ending cerita ini sudah bisa tertebak, ya.

Ketika sedang menunggu lift yang akan mengantar saya ke lantai 5, Pak Subur sudah menyusul saya. Belum sempat saya bertanya kenapa tadi tergesa-gesa, orangnya sudah lebih dahulu bercerita, "Alhamdulillah, Mas hape saya masih ketemu. Mungkin jatuh pas di masjid tadi."

Ooo... ternyata,

Hehe, saya tersenyum saja dalam hati.

Saya dan P. Subur, di depan KPP Besar Dua (2010) | dok. pribadi
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Wednesday, September 25, 2013

Monday, September 23, 2013

ujungkelingking - Dalam sebuah bincang ringan ibunya Zaki dengan salah seorang tetangga tentang membuat kue, tetangga tersebut mengatakan bahwa dirinya tidak berbakat dalam urusan membuat kue. Karena pernah, dirinya diajari oleh kakaknya yang lebih jago membuat kue, dengan bahan yang sama dan dengan cara dan teknik yang sama, toh hasilnya jauh berbeda. Memang saya ini tidak berbakat, katanya.


***

Bakat (gift), atau yang dalam definisi umum sering diartikan sebagai dasar kepandaian yang dibawa sejak lahir, adalah sebuah anugerah yang diberikan Tuhan kepada masing-masing individu. Dan hal ini tidak ada hubungannya dengan genetik. Jadi bisa saja dua orang yang tidak saling mengenal memiliki bakat yang sama, dan bisa juga terjadi antara saudara kembar malah memiliki bakat yang sama sekali berbeda.

Beda bakat, beda pula keahlian. Jika bakat -dikatakan- secara otomatis sudah ada pada diri kita, maka keahlian baru bisa diperoleh dengan cara belajar, latihan-latihan dan pengalaman. Karena itu bakat tidak selalu berbanding lurus dengan keahlian. Bisa saja seseorang dengan bakat menulis memiliki keahlian memasak, atau seseorang yang berbakat di bidang musik malah sukses di bidang modeling, dsb.

Mengutip seperti apa yang pernah dikatakan Thomas A. Edison, bahwa persentase sebuah bakat dalam keberhasilan suatu hal nyatanya memiliki porsi hanya 1% saja. Sisanya yang 99% adalah kerja keras atau latihan yang intens. Jadi kalau boleh saya menganalogikan, seseorang yang memiliki bakat membutuhkan usaha 99 kali untuk sampai pada 100 (karena yang 1 sudah dimilikinya berupa bakat), sedangkan bagi yang tidak memiliki bakat, butuh 100 kali usaha untuk mencapai angka yang sama. Dari sini kita bisa tahu bahwa bakat tidaklah secara dominan menentukan sebuah kesuksesan. Dalam konteks yang lebih riil, seseorang dengan bakat yang bagus namun kurang dilatih pasti akan mudah diungguli oleh mereka yang memilih berlatih keras meski tanpa bakat. Di sinilah intinya.

Banyak kita dengar kisah tokoh-tokoh yang sukses mendunia yang kesemuanya itu tenyata karena usaha keras mereka. Kegigihan dan ketidak-mauan mereka terhadap kata menyerah dan putus asa.

Michael J. Howe, seorang psikolog dan penulis buku "Genius Explained" mengatakan bahwa genius is not a mysterious and mystical gift, but the product of a combination of environment, personality, and sheer hard work.

Note: Bagi yang ingin mendownload "Genius Explained" (file .pdf versi bahasa Inggris) bisa unduh di link ini.

***

Kita memang terlahir dengan bakat kita masing-masing. Namun pada perjalanan waktu, kitalah yang memutuskan: akan mengasah bakat yang sudah ada, atau memilih melatih apa yang bukan menjadi bakat kita. Dan pada akhirnya yang menentukan hasil dari itu semua adalah prosesnya (baca: usaha keras kita).

Jadi sekarang, apakah bakat itu (masih) perlu?
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Monday, September 23, 2013

Tuesday, September 17, 2013

ujungkelingking - Barangkali postingan ini masih ada hubungannya dengan artikel saya sebelumnya tentang Materi Dangdut Dalam Konflik Sosial, dimana sebuah lagu dapat dengan mudah ditiru oleh anak-anak.

Hari Minggu kemarin, karena tidak ada hal-hal yang bisa dikerjakan di rumah, sayapun mengajak istri dan anak-anak untuk mengunjungi salah seorang sepupu saya yang tinggal di Sidoarjo kota. Jarak tempuh yang cuma kurang dari sejam dengan mengendarai motor membuat kami santai berangkat selepas Ashar.

Lah, emak'e pake gaya dulu...

Sebenarnya, ini adalah kali pertama kami mengunjungi sepupu saya yang satu ini. Maklum, setelah mereka pindahan beberapa bulan yang lalu kami masih belum sempat berkunjung. Jadi selain untuk bersilaturahim, juga ingin tahu dimana kontrakan mereka yang baru. Tidak terlalu sulit mencarinya karena sebelumnya saya memang sudah diberi "ancer-ancer" yang cukup jelas.

Gak pake jaket dulu karena masih panas.

Sepupu saya ini punya satu putra (tapi sebentar lagi dua) yang seumuran dengan anak kedua saya. Faris, namanya. Dan, karena waktu sampai di sana si Farisnya masih tidur, jadilah Zaki dan Daffa bermain-main sendiri dengan mainannya Faris.

Nah, ketika Faris bangun dan sudah "jangkep nyowone", sepupu saya lalu memutar CD kesukaan Faris, Ria Enes dan Susan!

Wah, ini lagu tahun berapa, kata saya. Jadul pake banget! Sepupu saya menyahut, bahwa saat ini anak-anak memang membutuhkan lagu-lagu untuk anak. Sebab yang ada sekarang sebenarnya adalah lagu dewasa meski yang menyanyikan masih bocah. Kami mengamini.

Dan ternyata Zaki langsung suka. Si Kodok paling favorit. Bahkan sampai di rumah pun Zaki terus menyanyikan potongan syair lagu tersebut.

"Kodok dan semut sahabat lama
Semut bilang, dok kodok bagi telurmu..."

Karena itu berhatilah-hatilah kita ketika memperdengarkan lagu atau apapun kepada anak-anak, sebab mereka itu adalah peniru yang ulung.

Jadi kata siapa, "Ah masih anak-anak ini, gak bakal ngerti?"

Tulisan Zaki sendiri.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Tuesday, September 17, 2013

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!