Wednesday, January 8, 2014

ujungkelingking - Digusur Satpol PP


Ini adalah cerita beberapa minggu yang lalu ketika saya mencoba untuk memulai usaha berjualan sepatu kecil-kecilan. Awalnya, saya mencoba bisnis ini hanyalah untuk belajar bagaimana sebenarnya proses berdagang itu. Tidak ada profit oriented sebenarnya, meski keuntungan yang didapat pada akhirnya bisa membuat saya nyengirrr...

Bisa saja kita mematangkan dahulu teori berbisnis, baru kemudian setelah mantap dan siap bisa langsung terjun praktek. Tapi buat saya itu terlalu lama. Lebih baik praktek langsung dengan mempelajari teori-teorinya sambil lalu.

***

Hari Minggu pagi-pagi sekali saya sudah bangun, padahal malamnya saya tidur cukup larut untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Maklum hari pertama, segalanya pasti ribet, h-hee...

Setelah shalat dan makan sekedar untuk mengisi perut saya pun berangkat menuju tempat yang sudah saya observasi beberapa waktu sebelumnya. Sebuah tempat di pinggir jalan masuk perumahan elite. Kalau hari Minggu memang banyak pedagang-pedagang yang mencoba peruntungannya di sini. Kalau pagi hari kebanyakan penjual nasi yang menggunakan mobil sebagai warungnya. Selain itu ada juga penjual-penjual lain seperti tas, sandal, helm, pakaian, asesoris wanita, asesoris motor, balon, sampai sewa kereta kelinci.

Saya pun mulai mengendarai pelan-pelan motor saya sambil mencari tempat yang kosong. Begitu dapat saya segera memarkirkan motor saya di situ. Beberapa pedagang sudah terlihat ada di tempatnya, namun agak mengherankan karena mereka tidak bersegera membuka lapaknya. Aneh, pikir saya.

Tak lama kemudian seorang penjual balon memarkirkan motornya di samping motor saya. Setelah tengak-tengok gak jelas, dia bertanya kepada saya, "sudah lewat petugasnya?"

"Petugas apa, Pak?" Saya tidak paham.
"Satpol PP," sahutnya. "Biasanya kan mengobrak ke sini."
"Oh, ya?" Saya memang pernah dengar bahwa di sekitar situ memang dilarang berjualan. Tapi itu sudah tahun yang lalu.
"Tapi mas-nya gelar dulu aja, kalau ada orangnya baru pindah." Saran si penjual balon.

Okelah. Saya pun mulai mengeluarkan barang dagangan saya. Eh, ketika sedang menata barang-barang saya seorang petugas berseragam menghentikan motornya dan mendekati saya. Sambil pasang muka sangar dia bilang, "mas, di sini tidak boleh berjualan, ya! Selamanya."

Dengar petugas tersebut bilang "selamanya" kok saya jadi teringat film Spongebob kesukaan Zaki.

S E L A M A N Y A
S  E  L  A  M  A  N  Y  A
S   E   L   A   M   A   N   Y   A
SELAMA LAMA LAMA LAMANYA
SELAMA LAMA LAMA LAMA LAMA LAMANYA

Heh, dengan terpaksa saya pun memunguti barang saya kembali. Lalu pindah ke tempat yang agak jauh dari situ.

Begitu melihat pedagang yang lain mulai menata kembali barang dagangannya, saya ikut-ikutan menggelar lapak lagi. Eh, tak berapa lama sebuah mobil patroli (milik Satpol PP juga) melintas dan dengan speakernya meminta kepada para pedagang untuk pindah ke tempat lain.

Wah, parah. Masih sepagi ini sudah diobrak petugas sampai 2 kali. Mana ini debut pertama lagi. Musti pindah kemana lagi, ya?

Sosok yang mirip?


Kejadian menarik lainnya di hari pertama ini. Ketika saya sudah menemukan tempat yang bagus, dan sudah siap "bertransaksi", datanglah seorang ibu-ibu ke lapak saya. Dengan muka sumringah dia berkata kepada saya, "lho, mas sekarang pindah di sini ya?"

Melongo saya. Lah ini kan baru pertama kali buat saya?

Belum selesai keterkejutan saya, datang lagi seorang ibu-ibu dan langsung bilang, "makanya kemarin tak cari-cari gak ada, pindah di sini rupanya."

H-hee, saya cuma nyengir sambil bingung.

Belum selesai sampai di situ, di hari Minggu berikutnya saya berjualan, seorang ibu-ibu juga datang ke tempat saya. Dia terus bilang, "jauh amat mas dari sana pindahnya ke sini."

#Gleg!
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Wednesday, January 08, 2014

Tuesday, January 7, 2014

ujungkelingking - Sosmed Itu Dunia Maya? Think Again!


Beberapa waktu yang lalu, seorang teman pernah curhat kepada saya tentang masalah keluarganya. Sebut saja, tentang suaminya dan facebook.

Umumnya kita ketika disebut istilah "dunia maya", maka yang langsung terlintas dalam benak kita adalah facebook, twitter atau internet.

Namun, ketika saya mendengarkan keluhan dari teman saya tersebut dan postingan mas Budy hari ini, saya menyadari bahwa kedua hal ini -dunia maya dan media sosial- adalah hal yang berbeda.

Bila yang kita maksud dengan dunia maya itu adalah dunia yang tidak sebenarnya (palsu atau abal-abal), maka media sosial bisa dikatakan dunia maya. Karena untuk membuat akun tidak harus dengan data-data yang valid. Kita bisa saja berbohong tentang profil dan segala tentang kita.

Bila yang dimaksud dengan dunia maya adalah dunia yang khayal, tidak bisa dipegang, maka sosmed bisa juga disebut dunia maya. Karena kita bertemu atau berkomunikasi tidak secara face-to-face. Akan tetapi jangan lupa orang-orang yang ada di sana ada nyata, bukan robot atau mesin.

Namun jika sudah mengacu kepada konten-nya, maka kita harus sadar bahwa apa yang kita tulis, kita komentar pada media sosial adalah bersumber dari pemikiran spontan kita. Coba ambil sample beberapa status atau kicauan orang-orang itu. Dari yang hanya sekedar share tempat makan enak atau prakiraan cuaca hari ini, kesukaan atau kebencian terhadap seseorang, sampai kepada pemikirannya tentang hal-hal tertentu. Lalu coba cermati, apakah kesemuanya itu bohong-bohongan atau asli dari pemikiran?

Seseorang memang bisa saja berbohong dalam satu atau dua status, tapi secara global, apa yang ditulisnya di sebuah sosmed itulah kenyataannya. Pada akhirnya hal-hal itu menjadi cerminan tentang siapa orang itu sebenarnya.

Sebuah ungkapan bijak mengatakan,

Cara berpikir Anda menentukan bagaimana cara Anda berbuat.
Dan cara Anda berbuat menentukan bagaimana orang lain menilai Anda.

Jadi, apakah Anda masih berpikir bahwa media sosial itu "hanya" dunia maya?

Pikir lagi.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Tuesday, January 07, 2014

Saturday, January 4, 2014

ujungkelingking - Masih Terlalu Pagi Untuk Menyerah


Menarik membaca postingan mbak Ila Rizky (ilarizky.blogspot.com) yang tertanggal 2 Januari kemarin. Artikel ini-pun adalah hasil pengembangan dari apa yang tertulis di blog tersebut.

Ada satu poin yang luput dari pemikiran saya. Tentang sebuah kisah lama, yang sudah sering kita dengar. Namun -selalu saja- pelajarannya terlewatkan begitu saja. Sebuah kisah tentang perjuangan dan usaha keras.

Tentu masih jelas dalam ingatan kita semua kisah tentang Hajar dan putranya, Ismail. Ketika -khalilullah- Ibrahim alaihissalam harus meninggalkan keduanya di sebuah gurun pasir yang tandus dan gersang. Ismail yang masih balita itu kemudian merengek-rengek karena kehausan.

Hajar yang sudah kehabisan air minum kebingungan mencari sumber air. Maka berlarilah ia ke arah bukit Shafa. Namun yang dicari tidak ditemukannya.

Saat itu Hajar melihat ke arah bukit Marwah. Di atas bukit itu terlihat ada bayangan air. Mungkin di sana ada, pikirnya. Maka berlarilah ia ke atas bukit Marwah. Namun yang dicari tidak juga ditemukannya.

Shafa (kotasejarah.blogspot.com)

Dari atas Marwah, terlihat kalau di atas bukit Shafa seperti terlihat ada bayangan air juga, maka berlarilah Hajar ke atas bukit Shafa kembali. Dan masih tidak ditemukannya sumber air itu. Kejadian ini berlangsung sampai 7 kali. Dari literatur yang saya temui, jarak Shafa dan Marwah sekitar 400-an meter. Jadi bila ditarik garis lurus, Hajar sudah berlari sejauh 2,8 Km! Jarak yang cukup jauh bagi seorang perempuan seperti Hajar, di padang gersang pula. Lelah dan putus asa mulai menghinggapi Hajar.

Akan tetapi Allah berkehendak lain. Di suatu tempat, tiba-tiba Hajar mendengar suara yang menyuruhnya berhenti. Rupanya itu adalah suara malaikat yang kemudian menghentakkan kakinya ke tanah (riwayat lain, mengais dengan kepakan sayapnya). Dari situlah kemudian memancar sumber mata air, yang kemudian dinamakan dengan mata air Zamzam.

*Saya sendiri belum pernah tahu bagaimana rasanya air Zamzam ini, tapi kalau boleh berharap, saya berdoa agar saya dan keluarga diberi kesempatan untuk meminum air Zamzam ini... tapi di tempat asalnya sana.

Lalu apa yang terlewatkan oleh kita?


Selama ini kita sering mendengar slogan siapa yang bersungguh-sungguh, maka dia akan berhasil. Slogan ini tentu tidak salah, namun keberhasilan di sini jangan langsung diterjemahkan "karena usaha kita".

Kisah di atas menunjukkan bahwa usaha yang dilakukan Hajar tidak menghasilkan apa-apa. Upayanya tidak ada artinya. Namun itu bukan berarti membolehkan kita berputus asa.

Karena itu pesan moralnya yang bisa diambil adalah,

Bisa jadi usaha yang kita rintis selama ini sia-sia dan tidak membuahkan hasil sama sekali, namun kesabaran dan kesungguhan atas kerja keras itulah yang akan dinilai oleh Dia yang Maha Memperhitungkan (Al-Haasiib). Dan pasti Dia akan memberikan ganti yang lebih baik, dengan atau tanpa kita menyadarinya.

Jadi, tetaplah bekerja keras dan pantang putus asa. Jika perasaan itu muncul, tanamkan pada diri kita bahwa: masih terlalu pagi untuk menyerah.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Saturday, January 04, 2014

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!