Wednesday, September 19, 2012

ujungkelingking - Sekilas mengamati perkembangan kasus video Innocence of Mosleem –tentang peghinaan kepada Rasulullah shallallahu alaihi wa salaam- yang diunggah di youtube pada 11 (atau 12?) September kemarin, yang menyebabkan kecaman dan protes di berbagai negara di dunia. Bahkan korban luka dan tewas berjatuhan, baik di pihak demonstran pun juga polisi.

Banyak yang menyayangkan reaksi spontan dari kaum Muslimin itu. Tidak sedikit pula yang menganggap bahwa terunggahnya video tersebut adalah “jebakan” untuk men-justifikasi bahwa Islam itu memang mengajarkan kekerasan dan teror. Mereka berpendapat jika kita melakukan protes keras semacam itu –bahkan sampai terjadi bentrok- maka sebenarnya kita telah memuluskan tujuan video tersebut. Memecah umat Islam dengan cara seperti ini adalah hal yang mudah. Karena itu hal paling relevan adalah mengabaikan video tersebut. Mereka juga mengatakan bahwa Rasulullah dahulu saja diam-tidak merespon apa-apa ketika diri beliau diolok-olok kaum kafir Qurays, jadi kenapa kita musti marah-marah ketika Rasul diejek?

Namun di lain pihak, ada juga yang berpendapat bahwa hal-hal yang semacam ini tidak boleh dibiarkan. Sebab jika diabaikan, bukan tidak mungkin mereka merasa bahwa umat Islam baik-baik saja lalu mengunggah video yang lain. Ketika saat itu kita juga diam, dan seterusnya juga diam, lalu dimana izzah kalian, wahai kaum Muslimin?! Orang-orang di luar Islam akan seenaknya saja mengobok-obok Islam.

Bahwa dahulu Rasulullah ­shallallahu alaihi wa salaam diam saja, hal itu karena yang diolok-olok adalah diri beliau sendiri. Personal. Karena itu beliau bersabar. Tapi lihat ketika yang dilecehkan adalah agama, maka perang, adalah hal yang hampir tidak terelakkan.

Nah, ketika kita menerapkan rumusan ini dalam kehidupan kita, maka ketika diri kita yang diejek dan diperolok, bereaksi diam dan bersabar adalah respon yang diajarkan. Namun jika agama yang dilecehkan (termasuk di dalamnya adalah Allah dan Rasul-Nya) maka keharusan bagi kita adalah mengecam dan memprotes!

Namun satu hal yang penting untuk digaris-bawahi adalah bahwa kecaman dan protes kita hendaknya sesuai dengan kapasitas kita sebagai warga negara. Bahwa kita harus bereaksi, adalah benar. Namun, merusak fasilitas publik, apalagi yang sampai menimbulkan korban jiwa adalah hal yang dilarang Islam.

Maka bagi seorang presiden, kecamlah dan proteslah dengan kekuasaan yang dimilikinya. Bagi seorang politikus, kecamlah dengan menggunakan fasilitas politiknya. Bagi seorang yang melek teknologi, proteslah dengan teknologi yang dikuasainya. Mungkin memblokir peredarannya atau sekedar men-dislikes videonya bukan hal yang sulit. Bagi yang memiliki jaringan luas di jejaring sosial bisa melakukan klarifikasi dari sana. Bagi kita –masyarakat sipil- yang tidak memiliki kekuasaan dan ilmu apa-apa, maka proteslah dengan do’a dan mencoba mempertebal keyakinan kita dengan lebih banyak lagi mempelajari Islam.

Mudah-mudahan Allah berkenan menampakkan kekuasaanNya.

Dan tidak ada alasan bagi seorang Muslim untuk tidak bereaksi. Diam dan abai, adalah hal yang naif.


من رأى منكم منكرا فليغيره بيده ، فإن لم يستطع فبلسانه ، فإن لم يستطع فبقلبه ، وذلك أضعف الإيمان  رواه مسلم

Barang siapa diantara kalian yang melihat suatu kemungkaran, maka ubahlah dengan tangannya. Maka bila ia tidak mampu, maka ubahlah dengan lisannya. Maka bila ia tidak mampu, maka ubahlah dengan hatinya. Dan itulah selemah-lemahnya iman. (Muslim)

Hasbunallah wa ni’mal wakiil…  
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Wednesday, September 19, 2012

Friday, September 14, 2012

ujungkelingking - Berbicara tentang manusia sebagai makhluk sosial, maka kita akan menemukan bahwa suatu individu –secara langsung atau tidak- memiliki keterkaitan dengan individu-individu lain. Bahwa seseorang untuk kelangsungan hidupnya membutuhkan bantuan dari orang lain, bisa berupa bantuan fisik atau materiil, pun juga bisa berupa support atau perhatian.

Dalam konteks ini, ketika kita memiliki beban yang cukup berat, maka kita butuh orang lain agar kita dapat membagi beban itu dengannya. Kita umum menyebutnya, curhat.

Dalam hal curhat-mencurhat (halahhh) kita biasanya memilih teman atau orang terdekat sebagai tempat kita curhat. Namun, disinilah sebenarnya kita perlu berwaspada. Sebagai orang yang akan mendengarkan permasalahan kita, yang di dalamnya kemungkinan besar ada aib yang akan kita buka, maka sangatlah penting bagi kita untuk selektif memilih tempat curhat. Karena salah pilih orang, bisa-bisa malu berkepanjangan yang kita tanggung.

Sebenarnya, kita bebas ber-curhat kepada siapa saja, asalkan dia memiliki 2 kriteria berikut ini;

1. Dia mampu memberikan solusi

Hal ini penting. Sebab jika tidak, tentu percuma-tidak-berguna kita curhat panjang lebar sampai berbusa-busa ke dia. Lha mending nulis di jejaring sosial (lumayan ada yang komen meski rada ngawur, hehe…)

Maka, ketika kita yakin (atau setidaknya berharap) dia memiliki solusi untuk permasalahan kita, maka dia-lah orang yang paling tepat untuk diajak curhat.

2. Dia mampu menyimpan rahasia

Yang ini juga tak kalah pentingnya. Sebab curhat kepada orang yang “ember”, sama saja seperti kita teriak-teriak dengan speaker di depan balai desa. Malu-lah yang kita dapat.

Masih mending kalau solusinya ada. Kalau tidak? Ke laut aja, mas!

Karena itulah, dua hal ini menjadi teramat penting ketika kita memutuskan akan curhat, sebab menyangkut harga diri dan (mungkin) aib kita atau orang lain. Carilah orang yang bisa memberikan solusi sekaligus menjaga rahasia kita.

Tapi jangan khawatir jika kita kesulitan menemukan sosok yang memiliki kedua kriteria tersebut, masih ada satu yang maha pemberi jalan keluar terbaik, dan tidak juga "ember"…

Allah subhanahu wa ta’alaa...

Dia-lah satu-satunya yang maha pembuat rencana terhebat dan pembuat solusi ter-unpredictable. Jika orang lain terlalu sibuk mengurusi kepentingannya sendiri-sendiri, maka Dia-lah yang sesungguhnya paling sibuk mengurusi keperluan makhluk-makhlukNya, dan akan selalu welcome untuk menerima curhatan kita.

So, what are you waiting for?


Selamat curhat
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Friday, September 14, 2012

Friday, September 7, 2012

ujungkelingking - Ada satu tradisi yang selalu dilakukan oleh sebagian besar masyarakat Muslim di Indonesia, yaitu yang biasanya dilaksanakan pada minggu-minggu pertama atau kedua di bulan Syawal. Kita sering menyebutnya dengan "Halal bi Halal".

Terlepas dari benar-tidaknya tradisi ini, namun ada suatu dasar yang (konon) menjadi landasan diadakannya acara seperti ini. Rasulullah shallallahu alaihi wa salaam pernah bersabda, yang artinya:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اَللَّهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ( مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا, غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ )  مُتَّفَقٌ عَلَيْه   

Barang siapa yang beribadah Ramadhan dengan iman dan sungguh-sungguh, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. (Muttafaq 'alaihi) 

Penjelasan ini harus kita yakini betul-betul, bahwa jika kita telah melaksanakan puasa Ramadhan dengan keimanan dan keikhlasan, maka Allah (pasti) akan mengampuni dosa-dosa kita. Dengan kata lain, ketika kita memasuki bulan Syawal, maka secara otomatis kita sudah tidak punya lagi dosa terhadap Allah subhanahu wa ta'ala. Lalu apakah dengan begitu kita secara fitrah sudah bisa dikatakan suci?

Tentu saja belum. Sebab jangan lupa bahwa kita masih memiliki dosa terhadap manusia. Dosa dan salah kita terhadap orang lain hanya bisa terhapus dengan permintaan maaf kita kepada yang bersangkutan. Karena itulah biasanya setelah melaksanakan sholat 'Id orang-orang saling berkunjung ke rumah-rumah untuk saling bermaaf-maafan. Dari sinilah istilah "halal bi halal" muncul.

"Halal" atau "menghalalkan" bisa dimaknai sebagai meminta maaf atau memberi maaf. Sedang kata "bi halal" lebih menunjuk kepada tata-caranya, yaitu (meminta dan memberi maaf) haruslah dengan cara yang baik: cara yang halal.

***

Namun yang perlu ditekankan disini adalah bahwa meminta maaf adalah merupakan perintah (baca: kewajiban) dari agama. Karena itu meminta maaf sesungguhnya tidak pernah dibatasi oleh waktu dan tempat. Ketika kita telah merasa berbuat salah terhadap seseorang maka seharusnya kita segera meminta maaf kepada orang tersebut.


Wallahu a'lam,

Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Friday, September 07, 2012

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!