Wednesday, April 25, 2012

ujungkelingking - Hari itu, Minggu 15 April 2012. Kandungan istri sudah cukup umur, namun belum ada tanda-tanda akan melahirkan. Karena itu, istri saya berencana agar besok kembali memeriksakan kandungannya. Saya setuju.

Namun kejadian siang itu tak terduga. Istri saya sudah mengalami flek. Artinya kelahiran yang dinanti-nanti sudah tak lama lagi. Akhirnya sore itu, setelah Isya' kami berangkat menuju bidan tempat istri saya biasa mengontrol kandungannya. Zaki terpaksa kami tinggal bersama nenek, emak dan adik saya.

Sesampainya di tempat, istri saya lalu diperiksa. Hasil pemeriksaan menyebutkan bahwa istri saya mengalami buka 2, yang berarti saat itu belum dapat diperkirakan waktu kelahirannya. Sebenarnya kami diberikan opsi oleh Ibu bidan untuk tinggal di tempat praktek beliau. Namun dengan pertimbangan bahwa waktunya masih belum bisa diperkirakan, kami pun kembali pulang.

Pukul 01.00 malam. Rasa mulas di perut istri saya semakin menjadi-jadi. Dari yang rasa mulasnya biasa saja, sampai menjadi lebih sakit, kemudian lebih sering dan lebih teratur. Maka malam itu juga kami kembali ke rumah bidan.

Dari pemeriksaan saat itu istri saya sudah mengalami  buka 4. Dan perkiraan waktu kelahiran adalah sekitar pukul 04.00 subuh.

***

Maka malam itu hingga menjelang subuh, saya terus menemani dan menyemangati istri saya untuk tetap bertahan dengan kondisi mulas itu. Selain memperbanyak istighfar, rasanya hanya itu saja yang bisa seorang suami lakukan.

Miris melihat perjuangan istri saat itu. Penggambaran Al-Qur'an sebagai wahnaan 'alaa wahniin -kesakitan di atas kesakitan- rupanya cukup menggambarkan keadaan kala itu. Sempat terbersit kondisi terburuk yang bakal saya terima. Namun lagi-lagi saya hanya bisa beristighfar. Belakangan saya baru tahu bahwa proses kelahiran kali ini berbeda dengan kelahiran sebelumnya. Bila saat melahirkan putra pertama kami dulu, istri saya mengalami mulas berkepanjangan (semalam penuh) dengan proses kelahiran (baca: mengejan) yang singkat, maka pada saat kelahiran putra kedua kami, istri saya mengalami mulas yang sebentar, yaitu sekitar 2-3 jam menjelang melahirkan, namun harus mengejan berkepanjangan. Ini yang membuat istri saya terus-terusan menjerit-jerit menahan sakit.

Akhirnya, dengan izin Allah, tepat setelah adzan Shubuh berkumandang tangisan putra kedua kami terdengar!

Tanggal 16 April 2012, dan seperti perkiraan dan hasil USG dulu, kami dianugerahi putra laki-laki kembali. Kami sepakat memberinya nama, Daffa'ul Haq Azka Muhammad, yang kurang-lebih mengandung arti "pembela kebenaran yang suci dan yang terpuji". Nama ini kami pilih karena memiliki "kemiripan" dengan nama putra kami yang pertama, yaitu Dhiya'ul Haq Zaki Ilyas yang berarti "cahaya kebenaran yang suci dan yang shalih".

Kata "suci" memang sengaja selalu saya sisipkan pada nama anak-anak kami, karena itu adalah nama depan dari ibu mereka. Harapannya agar mereka memiliki kebersihan hati dan bakti kepada sosok yang melahirkan mereka.

Tak lupa saya mengecup kening istri saya dan mengucapkan terima kasih yang sangat besar kepadanya.

Mungkin istri saya beranggapan  bahwa ucapan terima kasih itu adalah karena ia telah melahirkan dengan selamat putra kami yang kedua. Tapi bukan itu maksud sebenarnya.

Ucapan terima kasih itu adalah karena engkau istriku, mampu melewati semua kesakitan itu dan dapat "kembali" kepadaku...

*Kami sempat mengira semua hal yang buruk telah terlewati. Nyatanya kami salah...
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Wednesday, April 25, 2012

Monday, April 23, 2012

ilustrasi: Google
ujungkelingking - Anda tahu berapa harga sebuah pompa ASI yang biasa? Kalau Anda masih menebak-nebak harganya, maka ada baiknya Anda ikuti saja cerita saya berikut ini.

Hari Jum'at kemarin, istri saya pesan agar ketika pulang kerja nanti saya mampir dulu ke apotik untuk membeli sebuah pompa ASI. Dengan catatan, jika harganya cukup murah. Karena di kantor ada teman saya yang juga menggunakan pompa ASI, maka saya pun mencoba untuk menanyakan harganya.

"Pompa ASI kamu harganya berapa duit?"

"Tiga ratus ribu." Jawab teman saya. Wah, harga segitu terlalu mahal buat saya. Tapi mungkin yang digunakan teman saya tersebut adalah yang bagus.

"Kalau yang biasa-biasa saja sampai berapa?"

"Ada yang murah, sekitar 99 ribu." Nah lho, yang murah saja segitu.

Tapi yang namanya rejeki memang tidak akan kemana. Rekan saya satu departemen menawarkan untuk memberikan pompa ASI yang -sejatinya- dibelikan untuk istrinya. Namun karena istrinya tak mau memakainya, pun juga karena putrinya sudah klop dengan susu formula, maka praktis pompa ASI tersebut tak pernah dipakai.

Bingung dengan yang mahal-mahal malah dapat gratisan, akhirnya saya setujui usulan teman saya tersebut. Sepulang kerja, saya mampir ke rumah dia. Namun memang untung tak dapat ditolak, malang tak dapat diraih, sesampainya di rumah teman saya ban belakang saya bocor terkena skrup! Teman saya tentu tidak bisa membantu saya dalam hal ini. Memang, pada akhirnya saya mendapatkan pompa ASI tersebut, akan tetapi kemudian saya harus mendorong sepeda saya sekitar dua kilometer (dengan posisi jalanan menanjak) untuk mendapatkan tukang tambal ban. Ditambah kemudian hujan turun dengan derasnya. Tak ada tempat berteduh di kanan kiri jalan. Akhirnya merelakan diri berbasah-basah demi menemui tukang tambal ban. Beruntung ketemu tukang tambal ban, dan tukangnya masih mau menambal padahal sudah bertambal-tambal ban belakang saya (hehehe...). Dan lima ribu rupiah saya berpindah tangan sudah.

Jadi, Anda tahu berapa harga sebuah pompa ASI yang biasa? Harganya sebesar lima ribu rupiah plus mendorong sepeda 2 kilo sambil kedinginan!

#Huft!
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Monday, April 23, 2012

Friday, April 13, 2012

ujungkelingking - Kita pasti pernah mendengar sebuah ungkapan, "katakan yang benar, walaupun itu pahit". Kalimat ini tak salah, namun agaknya perlu diresapi maknanya agar kita tak salah dalam penerapannya.

Tulisan ini terinspirasi dari sebuah khutbah Jum'at yang tidak saya hadiri*. Dari komentar dan cerita teman-teman, saya menarik kesimpulan bahwa sang Khotib pada waktu itu hendak mengamalkan kalimat di atas. Sayangnya dengan cara -yang saya anggap- salah.

*artinya saya sholat Jum'at di tempat lain!

Bagaimana tidak, beliau berceramah dengan mengangkat tema tentang hal-hal yang dilakukan oleh sebagian saudara kita yang lain, yang kebetulan dalam beberapa hal “berseberangan” dengan sang Khotib. Beliau mengatakan (baca: memvonis) bahwa amalan A itu haram! Ritual B itu bid'ah! Cara ibadah model C itu sesat! Dan sebagainya. Saya tidak akan mengatakan bahwa apa yang dikatakan oleh Khotib itu benar atau salah, karena bukan itu tujuan tulisan ini, akan tetapi yang saya sasar disini adalah frase terakhir dari kalimat tersebut di atas.

Mengatakan hal yang benar, walaupun itu pahit hendaknya dipahami bahwa resiko "kepahitan" itu akan jatuh pada diri kita. "Kepahitan" tersebut jangan sampai menimpa atau ditujukan kepada orang yang kita nasehati. Alih-alih menerima kebenaran, justru ketersinggungan yang akan didapatkan orang tersebut.

Satu contoh sederhana. Suatu ketika, secara tak sengaja Anda menabrak atau menggores cat motor teman Anda yang tengah terparkir. Untungnya, teman Anda tidak tahu. Apa yang akan Anda lakukan?

Karena Anda adalah orang yang bertanggung jawab, tentunya Anda akan berkata dengan jujur bahwa Andalah yang melakukan semua itu. Anda mengatakan hal yang sebenarnya, padahal Anda tahu resiko yang bakal Anda terima. Mungkin teman Anda itu bakal memaki-maki Anda di depan orang banyak, atau mungkin dia akan meminta ganti rugi, atau dia akan memutuskan pertemanan dengan Anda. Dan segala "kepahitan" itu Anda siap menerimanya. Inilah yang dimaksud dengan mengatakan yang benar, walaupun pahit.

Berbeda dengan ketika misalnya seorang atasan memaki-maki karyawannya karena kesalahannya yang sepele. Atasan tersebut mungkin benar dengan mencemooh karyawan tersebut sebagai orang yang bodoh, goblok, pandir, dan atau yang lebih sadis lagi, akan tetapi "kepahitan" kali ini bukan berada pada si atasan, melainkan diterima oleh karyawan tersebut.

Bagaimana bisa kebenaran diterima bila yang ditonjolkan adalah ketersinggungan?

Adduhh!
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Friday, April 13, 2012

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!