Saturday, March 29, 2014

ujungkelingking - PRANGKO


Iseng-iseng cek wikipedia, ternyata hari ini (29 Maret) ditahbiskan sebagai Hari Filateli Nasional.

Filateli, adalah sebuah hobi untuk mengumpulkan (baca: mengoleksi) perangko-perangko. Baik itu perangko lama ataupun baru.

Perangko, atau yang kemudian diseragamkan menjadi 'Prangko' -yang mulai diperkenalkan di Inggris Raya pada pertengahan 1840- adalah sebuah kertas kecil bergambar yang diterbitkan oleh Pemerintah untuk direkatkan pada surat sebagai bukti bahwa telah membayar untuk biaya pengiriman surat. Hobi mengumpulkan prangko ini kemudian berkembang dengan adanya saling tukar-menukar perangko di antara sesama filatelis.


Saya sendiri bukanlah seorang filatelis. Bahkan saya tidak memiliki ketertarikan yang sangat terhadap kegiatan ini. Akan tetapi, di tempat kerja saya yang dahulu memaksa saya untuk sering bertemu dengan prangko-prangko unik dari dalam dan luar negeri.

Akhirnya saya coba mengumpulkan satu demi satu prangko-prangko tersebut. Namun, kegiatan ini pada akhirnya terhenti ketika saya dipindahkan ke bagian lain.


Berikut adalah beberapa koleksi prangko saya. Mohon maaf jika gambar kurang jelas karena harus saya resize.

Filateli
Koleksi dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Australia, Belgia, Belanda, Thailand, Italia,
New Zealand, USA, Arab Saudi, Rumania, Malawi

Teman-teman tertarik untuk menjadi seorang filatelis?
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Saturday, March 29, 2014

Thursday, March 27, 2014

ujungkelingking - Kebebasan Pers Mencari Etika


Semenjak era reformasi digaungkan, kebebasan pers sudah mulai kita nikmati. Salah satu hasil kecilnya adalah bebasnya kita meng-update status di media sosial atau menulis di blog pribadi tanpa takut dibredel atau ditangkap.

Kebebasan Pers
Image: antaranews


Namun sebenarnya pencapaian yang paling menonjol adalah bermunculannya media-media berbasis jurnalisme warga (citizen journalisme). Sebut saja Kompasiana, Kabar Indonesia, Pasang Mata, Citizen6, Inilah.Com, dsb. Meski media-media tersebut memiliki format yang berbeda-beda, namun semuanya memiliki satu visi yang sama. Yaitu memberikan tempat bagi masyarakat umum untuk me-reportasi dan ber-opini tentang peristiwa atau kejadian yang baru terjadi atau sedang hangat diperbincangkan.

Namun, sebagaimana setiap sisi baik memiliki juga sisi buruk, begitu pula dengan hal ini. Bagaimanapun, setiap media dituntut untuk menyajikan informasi lebih dulu dan tampil paling cepat di antara sumber-sumber yang lain. Karena itu filter atau kontrol dari setiap tulisan kemudian menjadi berkurang. Kita tak lagi sempat berpikir, apakah tulisan kita akan mencerahkan konsumen-pembaca ataukah justru semakin memperkeruh suasana?


Setiap kali ada peristiwa penting, demi agar tampil terdepan, kita langsung mem-publish apa yang menjadi pemikiran kita. Tanpa adanya filter yang baik, tulisan kita bukan hanya tidak berbobot namun juga bisa menjadi sarana yang tepat untuk menyerang pihak lain.

Maka kebebasan pers ini menjadi penting eksistensinya, agar kita tak lagi dijejali informasi sepihak dari media-media mainstream yang memiliki kepentingan terhadap lembaga atau figur tertentu. Keberadaan jurnalisme warga juga menjadi dibutuhkan untuk melatih kepekaan kita terhadap peristiwa-peristiwa yang terjadi di negeri ini.

Namun tetap yang tidak boleh ketinggalan adalah kontrol atau filter dari diri kita sendiri. Jangan sampai informasi dan opini yang kita "lempar" ke publik pada akhirnya justru memicu perang fitnah yang lebih besar lagi.


Jadi bila kebebasan pers dianggap penting, maka sebenarnya yang jauh lebih penting lagi adalah etika ketika menyuarakan kebebasan tersebut.

Salam.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Thursday, March 27, 2014

Wednesday, March 26, 2014

ujungkelingking - Tips Membuat Acara Reuni via Media Sosial


Undangan Reuni
Image: Kaskus

Sudah tidak dapat dipungkiri lagi bahwa media sosial dewasa ini sudah menjadi sarana yang sangat erat dengan kehidupan kita (baca: masyarakat urban). Media sosial pun sudah naik fungsinya dari yang tadinya hanya sekedar sebagai sarana pelampiasan emosi menjadi alat untuk menangguk rejeki. Fungsi lainnya yang tak kalah penting, ia bisa menghubungkan banyak individu dari berbagai tempat dan lokasi. Memang inilah tujuan sebenarnya dari diciptakannya jejaring sosial. Hal yang terakhir inilah yang akan kita bicarakan dalam postingan kali ini.

Media sosial sebagai alat penghubung individu-individu tersebut awalnya memang tidak banyak dibutuhkan ketika kita masih berkumpul secara nyata dengan teman, sahabat atau keluarga kita. Namun ketika semunya harus berjauhan -karena banyak faktor- barulah media penghubung ini menjadi diperlukan.

Salah satu contoh paling mudah dalam pemanfaatan sosmed sebagai media penghubung adalah membuatnya menjadi undangan (baca: ajakan) untuk membuat suatu acara yang sifatnya non-formal (untuk acara yang formal, masih lebih etis jika kita menggunakan cara konvensional). Apalagi semuanya sudah dilengkapi fitur Group, Circle -atau istilah lainnya- yang hal ini memudahkan kita untuk mengirimkan pesan undangan ke banyak tujuan, ataupun ke orang-orang tertentu saja.

Misalnya kita ingin mengajak teman-teman lama kita untuk mengadakan acara reuni. Memang untuk facebook sudah ada fitur "Buat Undangan", tapi tentu tidak mungkin kita tiba-tiba langsung membuat undangan reuni tanpa melibatkan teman-teman untuk menanyakan kesediaannya. Kalau harus dimusyawarahkan lebih dulu, didatangi atau ditelpon satu-persatu, lalu di mana fungsi media sosialnya?

Maka perlu ada cara-cara tertentu, agar ajakan ini bisa diterima (baca: disetujui) oleh semua anggota tanpa kita perlu bertemu atau bertamu dengan masing-masing anggota.

Tips-tips berikut ini mungkin bisa kita praktekkan jika kita ingin membuat sebuah acara reuni dengan sosial media sebagai undangannya.

◄|
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Wednesday, March 26, 2014

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!