Thursday, January 2, 2014

ujungkelingking - Baca: Ber-enam Satu Tujuan


Saya ingat tahun-tahun pertama saya di pesantren. Seorang kakak kelas mengajak kami untuk naik gunung. Tujuannya kali itu adalah Gunung Penanggungan, yang kemudian menjadi destinasi favorit saya.

Ketika ditawari mau ikut atau tidak, saat itu saya menjawab bahwa saya tidak pernah sama sekali mendaki gunung. Kakak kelas saya malah mengatakan, "Lah makanya kamu ikut, biar pernah."

Sejujurnya saya tidak tahu apa-apa tentang pendakian, bagaimana persiapannya, dsb. Apalagi rencana ini sangat mendadak. Hal ini nantinya justru jadi kebiasaan saya juga (apa-apa gak pake rencana, spontanitas). Antara takut dan penasaran, akhirnya saya-pun jadi ikut rombongan ini.

Rombongan yang ikut berjumlah enam orang termasuk kakak kelas saya sebagai pemandu. Nah, kalau ada istilah plesetan nekad traveling, maka yang kami lakukan ini bisa dikatakan nekad climbing. Bagaimana tidak, dari enam orang ini tidak ada yang memakai perlengkapan pendakian. Kami mendaki gunung cuma pakai sandal jepit, tanpa jaket, satu tas samping yang isinya radio sama sebuah selimut (kalau rekan-rekan ingat, selimut khas rumah sakit yang warnanya strip hitam-putih), plus nasi bungkus yang fresh from the dandang.

Tambahan: tanpa tenda! Jika beruntung, kami bisa bermalam di sebuah goa kecil di atas yang hanya cukup untuk tidur 6 orang dewasa. Jika tidak, barangkali kami akan semalaman bergadang.

Singkatnya, selama berlelah-lelah selama kurang lebih 3 jam-an, kami pun sampai di puncak menjelang Maghrib. Sebuah perjalanan yang sangat panjang bagi saya, yang akan terbayar ketika sudah tiba di puncak.

Bagi yang sudah pernah mendaki gunung tentu tak perlu saya jelaskan bagaimana keadaan malam di atas dengan langit cerah penuh bintang dan kerlap-kerlip lampu perkampungan di bawah.

Tak perlu juga saya ceritakan bagaimana sejuknya semilirnya angin pagi hari sambil menikmati hangatnya matahari terbit.

Sebuah kombinasi sempurna yang bikin setiap orang ingin mengulang petualangan ini.

***

Pertanyaannya, kenapa kemudian cerita ini saya jadikan tulisan pembuka di 2014?


Jawabannya ada pada pelajarannya.

Dalam hidup, setiap kita pasti memiliki kekhawatiran-kekhawatiran seperti yang saya alami. Kekhawatiran terhadap sesuatu yang baru, yang asing, dan yang kita belum pernah sama sekali bersentuhan dengannya. Kekhawatiran itu kemudian bisa berubah menjadi 'ketakutan' yang membuat langkah kita terhenti. Namun bisa juga menjadi dorongan 'penasaran' yang membuat kita mendobrak batasan-batasan diri.

Jelasnya, jika konteksnya adalah hal-hal yang sifatnya positif, maka seharusnya bukan ketakutan yang muncul. Sebaliknya, jika hal tersebut adalah sesuatu yang negatif, maka sebaiknya kita tidak menjadi penasaran terhadapnya. Karena bagaimanapun, jika terlalu sering kita bermain-main di pinggir jurang akan ada masanya kita terjatuh.

Maka ketika kita dilanda sebuah kekhawatiran, tentukanlah, hal tersebut termasuk hal yang positif atau tidak. Setelah itu kita bisa mulai menentukan akan melakukan apa.

Tulisan ini bukan mencoba untuk menggurui siapapun. Saya hanya mencoba menuliskan "perintah-perintah" ke dalam program yang tersemat di otak saya. Dengan ini, mudah-mudahan saya bisa menerapkannya.

Semoga.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Thursday, January 02, 2014

Tuesday, December 31, 2013

ujungkelingking - Akhir tahun sudah dalam hitungan jam saja. Bagi banyak orang, akhir tahun adalah sebuah momen yang cukup spesial. Bisa karena pada hari itu kantor diliburkan, bisa jadi karena waktu yang tepat untuk mengajak keluarga jalan-jalan sambil menyaksikan keramaian kota. Namun bisa pula karena ini adalah waktu yang tepat untuk me-review apa-apa saja yang telah kita kerjakan di bulan-bulan yang lalu. Setelah itu kita mulai mempersiapkan diri (baca: prioritas) yang akan kita kerjakan di tahun berikutnya.

Dari catatan-catatan yang ada lalu timbul 2 pertanyaan. 

Satu, apakah merumuskan sebuah resolusi baru harus dilakukan di akhir tahun? 

Jawabannya -tentu saja- tidak harus. Sebab bagi saya, me-review diri hendaklah tidak hanya dilakukan setahun sekali. Sebab jika kita hanya melakukannya setahun sekali, ketika kita sadar ada hal yang salah yang kita lakukan, akan cukup terlambat untuk memperbaikinya.

Namun setahun sekali itu lebih baik daripada tidak sama sekali. Dan akhir tahun ini menjadi menarik untuk dijadikan sebagai “penutup” agenda-agenda kita yang telah lalu. Karena dengan bergantinya kalender di rumah, kita-pun berharap berganti pula hal-hal yang kurang baik saat kemarin menjadi hal-hal yang lebih baik.

Manusia yang cerdas itu bukanlah mereka yang tidak memiliki kesalahan masa lalu. Namun mereka-lah yang mampu menjadikan diri lebih baik adalah yang disebut cerdas. 

Pertanyaan kedua, seberapa pentingkah "resolusi" itu? 

Jika yang ditanyakan adalah penting-tidaknya, maka sebagai kerangka-perencanaan dari sebuah bangunan yang akan kita buat resolusi ini penting adanya. Sebab tanpa kerangka dan perencanaan yang jelas, maka kita tidak akan punya tujuan. Kalau tujuan saja tidak punya, lalu kapan sampainya?

Namun, dibalik itu ada satu komponen penting untuk membuat sebuah resolusi menjadi tetap penting. Tanpa komponen ini, resolusi yang ada hanyalah sampah di otak kita. Komponen tersebut saya menyebutnya, revolusi.

Yang lain mungkin punya sebutan berbeda. Ada yang menyebutnya sebuah gebrakan, yang lain menamainya action, ada pula yang memanggilnya usaha atau upaya. Intinya sama, bahwa rencana besar tanpa pelaksanaan adalah percuma. 

Bukankah cara terbaik untuk mewujudkan mimpi-mimpi kita adalah dengan segera bangun dari tidur?
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Tuesday, December 31, 2013

Monday, December 30, 2013

ujungkelingking - "Penyakit" yang kerap melanda seorang blogger adalah keinginan untuk membuat blog yang berbeda dari blog-blog lain, secara tampilan. Dari yang hanya sekedar bongkar-pasang widget sampai ke edit-pengaturan HTML, yang pastinya membuat saya angkat tangan. Tentu "penyakit" ini bisa saja menjadi hal yang amat posistif.

Nah, salah satu hal sederhana yang bisa diutak-atik bagi blogger kelas kacang macam saya ini adalah mengubah tampilan favicon. Bagi yang belum tahu, favicon adalah gambar kecil yang terletak di sebelah kiri nama blog atau alamat URL blog kita pada browser. Secara default, biasanya favicon berupa gambar huruf "B" (dari kata Blogger) berwarna putih dengan background jingga, dsb.

Namun mengubah gambar favicon ini terbilang gampang-gampang susah. Gampang, karena tinggal masuk menu 'Layout' terus 'Edit Favicon'. Tinggal 'Browse' gambar simpanan kita, dan jadilah.

Namun susahnya, karena syarat gambar untuk favicon ini adalah
  1. Gambar harus berbentuk square, yaitu ukuran tinggi (h) dan lebar (w) harus sama
  2. Ukuran gambar tidak lebih dari 100 kb
Namun bila rekan-rekan punya aplikasi image editor, tentu kedua masalah ini bisa teratasi.

Dalam hal ini, saya menggunakan aplikasi Photoscape. Cari menu 'Editor', lalu pilih 'Crop'. Kita tinggal menyamakan tinggi dan lebar gambar (1). Klik 'Crop' (2), dan 'Save' (3).

Edit gambar menggunakan Photoscape

Jika ukuran gambar masih terlalu besar, bisa kita kecilkan dari menu 'Resize'.

Sekedar catatan, setelah kita menyimpan perubahan pada edit-favicon kita, gambar ikon bisanya tidak akan langsung berubah. Ibarat minum obat, reaksinya baru akan terlihat setelah beberapa jam. H-hee...

Semoga bermanfaat.
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Monday, December 30, 2013

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!