Tuesday, April 10, 2012

ujungkelingking - Tanggal 9 bulan April, masih belum ada tanda-tanda kelahiran putra kami yang kedua. Sebenarnya bila menurut hasil pemeriksaan Bidan, waktu kelahirannya memang diperkirakan pertengahan bulan ini, namun bisa jadi lebih cepat. Yang terakhir ini perasaan istri saya sendiri. Hmm...

Agak berat juga setiap kali berangkat kerja meninggalkan istri yang sedang hamil tua di rumah. Apalagi putra pertama kami, Zaki, masih berusia 2 tahun-an. Bisa dibayangkan betapa repotnya, membawa perut yang sudah sedemikian besarnya sambil mengasuh si kecil yang luar biasa aktifnya. Itu belum termasuk masak dan sebagainya untuk saya saat pulang kerja. Kalau saya sih, mungkin bakal uring-uringan tiap hari. Tapi alhamdulillah, istri saya adalah sosok yang kuat.

Sungguh-pun demikian, saya tetap tak sampai hati. Akhirnya hari Minggu kemarin saya minta tolong nenek, yaitu bibi dari emak (baca: ibu) saya untuk tinggal dengan kami barang beberapa minggu untuk membantu mengurusi keperluan istri saya sekaligus menjaga Zaki.

Namun, baru menginjak 2 malam di tempat kami, sepertinya nenek saya "frustasi" menghadapi Zaki. Memang entah kenapa akhir-akhir ini Zaki sering terbangun di tengah malam dan langsung menangis tanpa bisa dibujuk! Dan biasanya tangisannya yang cukup keras itu bertahan hingga setengah jam lebih! Memang, mendengar ke-rewel-an Zaki sungguh membuat emosi bergolak, tapi biasanya yang bangun terlebih dahulu justru istri saya. Yang setengah mati membujuk agar Zaki mau kembali tidur juga istri saya. Dan memang terganggu di malam hari saat tengah tertidur pulas sangat nggak enak banget!

Sempat terlontar ucapan dari nenek saya itu, bahwa Zaki nakal, dan sebagainya. Nenek saya -bahkan- juga berharap agar jika nanti istri saya melahirkan tidak pada malam hari karena itu berarti tinggal beliau dan Zaki saja yang berada di rumah.

Aduh!
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Tuesday, April 10, 2012

Monday, April 9, 2012

ujungkelingking - Sabar. Satu kata ini memang begitu mudah diucapkan, akan tetapi sangat sulit diterapkan. Namun, sungguh-pun demikian, sikap yang satu ini sering kali disalahartikan. Sikap sabar sering dianggap sebagai kondisi yang lemah, kalah, menyerah, tidak berdaya, atau tanpa perlawanan. Singkatnya, sabar diberi pengertian yang amat negatif sehingga melakukan tindakan ini dianggap hal yang tabu lagi memalukan.

Ada yang membagi sabar menjadi dua macam. Yang pertama diistilahkan sebagai Sabar Pasif, yaitu ketika kita dituntut, dipaksa, diharuskan untuk sabar -tanpa melakukan suatu hal. Contoh sederhananya barangkali ketika kita terjebak macet, sedangkan kita berada di dalam angkutan umum. Akhirnya kita hanya bisa diam meskipun hati kita marah dan ngedumel. Yang kedua dinamakan Sabar Aktif, yaitu ketika kita punya kemampuan untuk membalas akan tetapi tidak kita lakukan.

Menurut artikata.com, disebutkan tentang definisi sabar ini sebagai: 1 tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah; 2 tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu. Sedang kata bersabar diartikan sebagai: v bersikap tenang (tt pikiran, perasaan).

Lalu bagaimana Islam mendefinisikan sabar ini?

Dalam surah Al-Imraan ayat 146, Allah berfirman:


وَكَأَيِّنْ مِنْ نَبِيٍّ قَاتَلَ مَعَهُ رِبِّيُّونَ كَثِيرٌ فَمَا وَهَنُوا لِمَا أَصَابَهُمْ فِي سَبِيلِ اللَّهِ وَمَا ضَعُفُوا وَمَا اسْتَكَانُوا وَاللَّهُ يُحِبُّ الصَّابِرِينَ

"Dan berapa banyak nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertakwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah kepada musuh. Allah menyukai orang-orang yang sabar."
[AL-Imraan: 146]

Islam (ternyata) mendefinisikan orang yang tidak menjadi lemah karena bencana dan orang yang tidak pernah menyerah kepada musuh Allah adalah orang-orang yang sabar.

Nah loh?
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Monday, April 09, 2012

Wednesday, April 4, 2012

ujungkelingking | dari Bag. 2



“Berapa keperluanmu yang kau mintakan kepada Allah?”

“Sepuluh perkara.”

“Apa itu, wahai terlaknat?”

Iblis lalu menjawab:

Satu, aku minta kepada-Nya agar saya dapat berserikat dalam diri Bani Adam, dalam harta dan anak-anak mereka. Dia mengijinkanku berserikat dalam kelompok mereka. Itulah maksud firman Allah:

“Dan hasunglah siapa yang kamu sanggupi di antara mereka dengan ajakanmu, dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki dan berserikatlah dengan mereka pada harta dan anak-anak dan beri janjilah mereka. Dan tidak ada yang dijanjikan oleh syaitan kepada mereka melainkan tipuan belaka.”
(QS. 17:64)

Dua, setiap harta yang tidak dikeluarkan zakatnya maka saya ikut memakannya. Saya juga ikut makan makanan yang bercampur riba dan haram serta segala harta yang tidak dimohonkan perlindungan kepada Allah dari setan yang terkutuk.

Tiga, setiap orang yang tidak memohon perlindungan kepada Allah dari syaithan ketika bersetubuh dengan istrinya maka syaithan akan ikut bersetubuh. Akhirnya melahirkan anak yang mendengar dan taat kepadaku. Begitu pula orang yang naik kendaraan dengan maksud mencari penghasilan yang tidak dihalalkan, maka saya adalah temannya. Itulah maksud firman Allah:

“… dan kerahkanlah terhadap mereka pasukan berkuda dan pasukanmu yang berjalan kaki…”
(QS. 17:64)

Empat, aku memohon kepada-Nya agar punya rumah, maka rumahku adalah kamar-mandi.

Lima, aku memohon agar punya masjid, akhirnya pasar menjadi masjidku.

Enam, aku memohon agar punya al-Qur’an, maka syair adalah al-Qur’anku.

Tujuh, aku memohon agar punya adzan, maka terompet adalah panggilan adzanku.

Delapan, aku memohon agar punya tempat tidur, maka orang-orang mabuk adalah tempat tidurku.

Sembilan, aku memohon agar punya teman-teman yang menolongku, maka maka kelompok al-Qadariyyah menjadi teman-teman yang membantuku. Dan,

Sepuluh, aku memohon agar memiliki teman-teman dekat, maka orang-orang yang menginfaqkan harta kekayaannya untuk kemaksiyatan adalah teman dekatku. Ia (Iblis, pen) kemudian membaca ayat:

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara syaitan dan syaitan itu adalah sangat ingkar kepada Rabbnya.”
(QS. 17:27)

Rasulullah berkata, “Andaikata tidak setiap apa yang engkau ucapkan didukung oleh ayat-ayat dari Kitabullah tentu aku tidak akan membenarkanmu.”

Lalu Iblis meneruskan, “Wahai Muhammad, aku memohon kepada Allah agar aku bisa melihat anak-cucu Adam sementara mereka tidak dapat melihatku. Kemudian Allah menjadikan aku dapat mengalir melalui peredaran darah mereka. Diriku dapat berjalan kemanapun sesuai dengan kemauanku dan dengan cara bagaimanapun. Kalau saya mau, dalam sesaatpun bisa. Kemudian Allah berfirman kepadaku: “Engkau dapat melakukan apa saja yang kau minta”. Akhirnya aku merasa senang dan bangga sampai hari kiamat. Sesungguhnya orang yang mengikutiku lebih banyak daripada yang mengikutimu. Sebagian besar anak-cucu Adam akan mengikutiku sampai hari kiamat.

Aku memiliki anak yang kuberi nama Atamah. Ia akan kencing di telinga seorang hamba ketika ia tidur meninggalkan shalat Isya. Andaikata tidak karenanya tentu ia tidak akan tidur lebih dahulu sebelum menjalankan shalat.

Aku juga punya anak yang kuberi nama Mutaqadhi. Apabila ada seorang hamba melakukan ketaatan ibadah dengan rahasia dan ingin menutupinya, maka anak saya tersebut senantiasa membatalkannya dan dipamerkan ditengah-tengah manusia sehingga semua manusia tahu. Akhirnya Allah membatalkan sembilan puluh sembilan dari seratus pahala-Nya sehingga yang tersisa hanya satu pahala. Sebab, setiap ketaatan yang dilakukan secara rahasia akan diberi seratus pahala.

Aku punya anak lagi yang bernama Kuhyal. Ia bertugas mengusapi celak mata semua orang yang sedang ada di majlis pengajian dan ketika khatib sedang memberikan khutbah, sehingga, mereka terkantuk dan akhirnya tidur tidak dapat mendengarkan apa yang dibicarakan para ulama. Bagi mereka yang tertidur tidak akan ditulis pahala sedikitpun untuk selamanya.

Setiap kali ada perempuan keluar pasti ada syaithan (kedua anakku) yang duduk di pinggulnya, ada pula yang duduk di daging yang mengelilingi kukunya. Dimana mereka akan menghiasi kepada orang-orang yang melihatnya. Kedua syaithan itu kemudian berkata kepadanya, “Keluarkan tanganmu,”. Akhirnya ia mengeluarkan tangannya, kemudian kukunya tampak, lalu kelihatan nodanya.

Wahai Muhammad, sebenarnya aku tidak dapat menyesatkan sedikitpun, akan tetapi hanya akan mengganggu dan menghiasi. Andaikata aku memiliki hak dan kemampuan untuk menyesatkan, tentu aku tidak akan membiarkan segelintir manusiapun di muka bumi ini yang masih sempat mengucapkan “Tidak ada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya”, dan tidak akan ada lagi orang yang shalat dan berpuasa. Sebagaimana engkau wahai Muhammad, tidak berhak memberikan hidayah sedikitpun kepada siapa saja, akan tetapi engkau adalah seorang utusan dan penyampai amanah dari Tuhan. Andaikata engkau memiliki hak dan kemampuan untuk memberi hidayah, tentu engkau tidak akan membiarkan segelintir orangpun kafir di muka bumi ini. Engkau hanyalah sebagai hujjah (argumentasi) Tuhan terhadap makhluqNya. Sementara aku hanyalah menjadi sebab celakanya orang yang sebelumnya sudah dicap oleh Allah menjadi orang celaka. Orang yang bahagia dan beruntung adalah orang yang dijadikan bahagia oleh Allah sejak dalam perut ibunya, sedangkan orang yang celaka adalah orang yang dijadikan celaka oleh Allah sejak dalam perut ibunya.

Kemudian Rasulullah shallallahu alaihi wa salaam membacakan firman dalam surah Hud:

“Jikalau Rabbmu menghendaki, tentu Dia menjadikan manusia umat yang satu, tetapi mereka senantiasa berselisih pendapat,”
(QS. 11:118)

“Kecuali orang-orang yang diberi rahmat oleh Rabbmu. Dan untuk itulah Allah menciptakan mereka. Kalimat Rabbmu (keputusan-Nya) telah ditetapkan. Sesungguhnya Aku akan memenuhi neraka Jahanam dengan jin dan manusia (yang durhaka) semuanya.”
(QS. 11:119)

dilanjutkan dengan:

“Tidak ada suatu keberatanpun atas Nabi tentang apa yang telah ditetapkan Allah baginya. (Allah telah menetapkan yang demikian) sebagai sunnah-Nya pada nabi-nabi yang telah berlalu dahulu. Dan adalah ketetapan Allah itu suatu ketetapan yang pasti berlaku.”
(QS. 33:38)

Kemudian Rasulullah berkata lagi kepada Iblis, “Wahai Abu Murrah, apakah engkau masih mungkin bertaubat dan kembali kepada Allah, sementara saya akan menjaminmu masuk surga?”

Iblis menjawab, “Wahai Rasulullah, ketentuan telah memutuskan dan Qalam-pun telah kering dengan apa yang terjadi seperti ini hingga hari kiamat nanti. Maka, Maha Suci Tuhan yang telah menjadikanmu sebagai tuan para Nabi dan Khatib para penduduk surga. Dia telah memilih dan mengkhususkan dirimu. Sementara Dia telah menjadikanku sebagai tuan orang-orang yang celaka dan khatib para penduduk neraka. Aku adalah makhluq celaka lagi terusir. Ini adalah akhir dari apa yang saya beritahukan kepadamu dan saya mengatakan yang sejujurnya.”


Semoga kita mampu menjaga diri dan orang-orang di sekitar kita dari godaan Iblis dan anak keturunannya.
Bismillah...
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Wednesday, April 04, 2012

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!