Friday, February 22, 2013

ujungkelingking - Pada suatu artikel di detikhealth telah disebutkan beberapa manfaat -secara medis, tentu- yang diterima tubuh ketika kita mau memaafkan kesalahan orang lain.

Dalam Islam sendiri telah banyak ayat-ayat dan hadits yang memerintahkan kita untuk mudah memaafkan dan menjauhi sifat dendam. Seperti kita ketahui bahwa dendam adalah salah satu dari sifat Iblis laknatullah alaihi.

Agar dendam tidak berkembang dalam hati, ada beberapa hal yang harus kita ingat ketika seseorang berperilaku buruk kepada kita. Namun saya coba ringkaskan saja dalam 4 poin saja.

  • Semua atas ijin Allah

Ingatlah bahwa perbuatan orang itu kepada kita tidak lepas dari kehendak Allah subhanahu wa ta'alaa. Allah menginginkan hal itu terjadi terhadap kita dan pastilah akan ada hikmah dibalik hal tersebut.

  • Dosa menimbulkan keburukan
 
Ingatlah dosa-dosa kita. Karena tidaklah keburukan menimpa kita melainkan karena sebab dosa-dosa kita. Ingatlah juga bahwa balasan yang kita akan dapatkan pasti sesuai dengan perbuatan yang kita lakukan.

Menyibukkan diri dengan istighfar dan bertaubat adalah jauh lebih baik daripada sibuk mencela dan mencari-cari cara untuk membalas. Dan jika kita memaafkan, Allah pun akan memaafkan kita.


وَجَزَاءُ سَيِّئَةٍ سَيِّئَةٌ مِثْلُهَا فَمَنْ عَفَا وَأَصْلَحَ فَأَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ إِنَّهُ لا يُحِبُّ الظَّالِمِينَ

"Dan balasan suatu kejahatan adalah kejahatan yang serupa, maka barang siapa memaafkan dan berbuat baik maka pahalanya atas (tanggungan) Allah. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang lalim." [Asy-Syuuraa: 40]

  • Sabar adalah setengah dari keimanan

Ingatlah bahwa sabar adalah setengah dari keimanan. Jika kita bersabar, maka kita berarti sedang
menjaga keimanan kita. Bahkan Rasulullah shallallahu alaihi wa salaam tidak pernah sekali pun dendam karena urusan pribadinya. Jika itu terjadi kepada orang yang paling mulia, bagaimana dengan kita?
Dari Abdurrahman bin Abi Laila dari Shuhaib, ia berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa salaam bersabda:
"Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin, semua urusan baik baginya dan kebaikan ini tidak dimiliki oleh selain seorang mukmin. Apabila mendapat kesenangan ia bersyukur dan itulah yang terbaik untuknya, dan apabila mendapat musibah ia bersabar dan itulah yang terbaik untuknya." [Muslim]

  • Sabar adalah penggugur dosa

Ingatlah bahwa kesabaran itu akan menjadi penggugur dosa kita dan pengangkat derajat kita. Dan itu akan melahirkan kebaikan yang lain, dan kebaikan itu akan melahirkan kebaikan-kebaikan yang lain lagi dan begitu seterusnya. Karena diantara balasan kebaikan itu adalah kebaikan berikutnya.


وَلا تَسْتَوِي الْحَسَنَةُ وَلا السَّيِّئَةُ ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ

"Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia." [Fusshilaat: 34]

"Tidaklah Allah menambah kepada seorang hamba dengan sikap memaafkan melainkan kemuliaan”
(Muslim).

Diedit kembali dari risalah "Qaa`idatun fi 'sh-Shabr", Ibnu Tamiyyah dalam "Jaami'u 'l-Masaa`il" vol. 1, hal. 177-181
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Friday, February 22, 2013

Saturday, February 16, 2013

ujungkelingking - Melakukan rutinitas yang sama setiap hari seringkali bisa membuat kita merasa jenuh. Bagaimana cara mengatasi kejenuhan itu tentu berbeda pada setiap orang. Yang sering ditemui, beberapa orang mengatasi kejenuhan ini dengan tidur. Namun, cara ini tentu tidak efektif. Hal ini disebabkan karena kejenuhan melibatkan kelelahan emosi dan psikis, sedangkan tidur biasanya berhubungan dengan kelelahan yang bersifat fisik.

Lalu aktifitas apa saja yang bisa dilakukan untuk mengatasi kejenuhan ini? Berikut ini ada beberapa saran yang pantas dicoba.

1. Rekreasi

Pergi ke tempat yang menyenangkan biasanya efektif untuk mengatasi kejenuhan karena rutinitas sehari-hari. Destinasinya tentu berbeda untuk setiap orang. Ada suka pergi ke pantai, ada pula yang memilih mendaki gunung, memancing, berkemah, atau sekedar nonton bioskop.

2. Bertemu dengan teman-teman lama

Reuni, sepertinya yang akan saya lakukan di akhir bulan ini. Bertemu dengan teman-teman semasa sekolah dulu bisa memberikan banyak hal yang menyenangkan. Sharing dengan teman-teman lama bisa saja memberi Anda informasi (atau inspirasi) baru untuk "keluar" dari rutinitas Anda, memulai bisnis baru misalnya, who knows?

3. Melakukan hal yang di luar rutinitas

Saran ketiga ini juga bisa dilakukan untuk mengatasi kejenuhan. Misalnya saja, pulang-pergi kantor melalui jalan yang berbeda, atau mengganti format excel kerja Anda dari yang biasanya vertikal menjadi horizontal, dsb. Dengan melakukan hal-hal yang berbeda dari kebiasaan cukup bisa membuat otak kita "teralihkan". Efek yang diharapkan adalah ketika kita kembali menjalani rutinitas, otak kita sudah dalam keadaan refresh.

Ada tambahan?
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Saturday, February 16, 2013

Tuesday, February 12, 2013

ujungkelingking - Bahkan para Nabi pun tidak tahu apa maksud diperintahkan sesuatu kepada mereka.

Nabi Nuh tidak tahu bahwa akan datang banjir besar ketika disuruh membuat sebuah bahtera.

Nabi Ibrahim tidak pernah tahu bahwa Ismail akan diganti dengan seekor kambing ketika disuruh menyembelih putranya.

Nabi Musa pun tidak tahu bahwa laut akan terbelah ketika diperintah memukulkan tongkatnya.

Bahkan, Rasulullah pun tidak pernah tahu bahwa Madinah akan menjadi sentral perkembangan Islam ketika disuruh hijrah kesana.

Mereka tidak tahu apa maksud perintah-perintah tersebut. Mereka hanya tahu bahwa mereka harus melaksanakan perintah tersebut. Meskipun seringkali di luar nalar.

Kenapa perempuan yang sudah baligh harus menutup aurat, padahal itu "aneh"? Kenapa laki-laki harus menundukkan pandangannya, padahal itu sulit? Kenapa harus berpuasa, padahal itu berat? Kenapa tetap harus bersedekah meskipun kondisi keuangan kita di ujung tanduk? Dan terlalu banyak perintah-perintah dari Allah dan Rasul-Nya untuk kita pertanyakan sebab dan tujuannya.

Karena itu konsep "lihat apa yang dibicarakan, jangan lihat yang berbicara" hanya berlaku dalam lingkup sosial-amal. Sedang dalam konteks keimanan yang berlaku adalah "lihat siapa yang berbicara, bukan apa yang dibicarakan".

Begitupun seharusnya dengan kita. Ketika kita yakin bahwa yang memerintahkan hal tersebut adalah Allah dan Rasul-Nya, maka tidak boleh ada keraguan. Lakukan saja, dan nantikan 'kejutan' dari Dia.


كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تَكْرَهُوا شَيْئًا وَهُوَ خَيْرٌ لَكُمْ وَعَسَى أَنْ تُحِبُّوا شَيْئًا وَهُوَ شَرٌّ لَكُمْ وَاللَّهُ يَعْلَمُ وَأَنْتُمْ لا تَعْلَمُونَ

"... Dan boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui sedang kamu tidak mengetahui." (Al-Baqaraah: 216)
Written by: Pri Enamsatutujuh
UJUNGKELINGKING, at Tuesday, February 12, 2013

Popular Posts

Subscribe to RSS Feed Follow me on Twitter!